Typo bertebaran 😅
Happy reading 😘😘
.
.
.
"gimana rel? Masih gak aktif?" Adit sudah panik luar biasa sekarang.
"Arghh" Karel mengusap wajahnya kasar.
Mereka mutuskan menyusul Naya dan Aira ke kafe yang dituju Naya. Tapi nihil. Setelah mencoba bertanya pada pelayan, sang pelayan mengatakan mereka sudah pergi.
Rama? Jangan tanya lagi. Dia hampir gila sekarang. Aira tidak menjawab telponnya.
"Jadi ini gimana dong?" Adit yang paniknya telat pun sudah bingung harus apa sekarang.
Karel terdiam, berusaha berfikir Mencari jalan keluar. Sedangkan Samuel yang baru kembali dari Dalam kafe mendapat sedikit keterangan dari salah seorang pengunjung.
"Guys, tadi ada yang masih tau gue. Ada cewek yang masuk ke mobil sedan hitam sama temennya, trus yang satu lagi nyusulin pake taksi. Ke arah sana." Tunjuk Samuel.
"Udah pasti ini kerjaan Irene kan! Sumpah tuh orang pen gue kunyah" Adit ikut menimpali.
"Ram. Lo bilang Aira gak angkat telpon Lo kan?" Tanya Karel.
"Iya"
"Berarti hpnya aktif?"
Rama mengangguk.
"Kita lacak lokasinya sekarang." Putus Karel.
Mereka semua mengangguk. Lalu masuk kedalam mobil.
"Tapi rel. Gue tau, GPS Aira itu ga pernah aktif" ucap Rama frustasi.
Mereka sempat terdiam. Tapi Karel kembali bersuara. "Kita lacak dari nomor telponnya!" Final Karel lagi, dia sangat bersyukur IQ 148 nya itu bekerja dengan baik sekarang.
*
*
*
"Lepasin! Lepasin Naya!!" Aira terus meronta dan berteriak. Dia tidak sanggup melihat Naya seperti itu. Bagaimana pun Naya sudah lebih dari sekedar sahabat untuk nya.
Dia sangat menyayangi Naya, begitupun sebaliknya. Dia tidak ingin Naya mengalami hal yang lebih buruk dari ini.
"Lo berisik banget ya!" Jenny menghampiri Aira dan mengeluarkan stun gun *alat kejut listrik* miliknya.
Tanpa pikir panjang, jenny langsung mengarahkannya ke area perut Aira. Dan tanpa menunggu lama, Aira sudah tidak sadarkan diri.
Jenny tersenyum puas. Setidaknya tidak ada yang mengganggunya kali ini. Dia kembali ke Naya dan Irene.
Naya sudah tertunduk, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar, kedua pipinya pun membiru.
"Ini baru awal Nay. Permainan yang sebenernya ada di dalam sana!" Ucap Irene tepat ditelinga Naya,sambil menunjuk kesalahan satu ruangan yang ada disitu. Membuat gadis itu merinding.
"Sejujurnya gue belum puas nyiksa Lo. Tapi setidaknya semua perasaan gue udah terlampiaskan buat Lo!" Lanjut Irene.
Jenny berjalan kebelakang Naya, melepaskan ikatan di tubuh dan tangan gadis itu, sementara Irene dia melepaskan ikatan yang ada di kaki Naya.
Naya mencoba mengumpulkan tenaga dan keberaniannya. Dia perlahan bangkit,dibantu oleh Irene dan jenny. Mereka perlahan memapah Naya berjalan.
"Lepasin gue!" Suara Naya sudah hampir habis untuk meredam rasa sakit nya.
Tidak ada yang menghiraukan Naya, mereka tetap berjalan perlahan. Langkah Naya pun sudah terseok-seok,kaki nya tidak bisa menopang tubuhnya.
Langkah mereka terhenti di depan pintu berkain merah. Irene merogoh saku nya mencari kunci.
KAMU SEDANG MEMBACA
When I Met You
Teen Fiction'ketika bertemu dengan mu. Segalanya berubah. Terima kasih telah mencintaiku'-Reinaya 'Terima kasih telah dilahirkan'- Karel. . . Happy reading 💜
