[COMPLETED!]
"Aku ingin Hyung ada di dunia nyata..."
"Tenang, setiap malam kau akan selalu menemuiku, kan?"
"I... iya..."
Dan tidur bersama.
.
.
.
Ini bukan sebuah cerita tentang kapal tenggelam, ini sebuah kumpulan cerita Renjun dan Chenle di setia...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Semakin sulit materi pelajaran yang diterima, semakin banyak pula tugas yang harus diselesaikan dalam jarak waktu yang begitu dekat. Itu yang dirasakan oleh sosok mungil bernama Chenle, seorang siswa SMA.
Banyaknya tugas yang harus dikerjakan, ditambah deadline yang dapat dihitung oleh jari-jari dalam satu telapak tangan saja, membuat Chenle lupa mengurus dirinya sendiri. Maksudnya, kini daya tahan tubuhnya mulai melemah. Terkadang lupa makan, terkadang harus berada di rumah teman untuk mengerjakan tugas kelompok sampai langit benar-benar gelap, terkadang tidur pun hanya selama tiga jam. Hari Sabtu dan Minggu harus ia relakan untuk mengerjakan perintah-perintah dari berbagai guru mata pelajaran.
Sampai ia jatuh sakit. Ya, benar-benar jatuh sakit.
Wajahnya memucat, lingkaran hitam di kedua matanya, suhu tubuh yang meningkat, hidung yang mengeluarkan cairan seperti lendir, dan tenggorokan yang terasa terbakar.
Lengkap sudah.
Ya, mau tidak mau, Chenle harus izin untuk tidak hadir di sekolah esoknya. Daripada keadaannya menjadi lebih parah? Bisa dikira mayat hidup yang masih bisa berjalan.
Kini, pukul sembilan malam, Chenle sudah berbaring di atas kasur empuk, lengkap dengan selimut tebal yang membungkus badan kecilnya.
Tentu saja, dengan Renjun di sampingnya.
Kalau Renjun boleh jujur, ia benar-benar sedih melihat anak itu terlalu bekerja keras. Memang bagus sih, namun jika bekerja di luar batas kemampuan dirinya itu sangat tidak baik. Ia sudah menasehati Chenle untuk tetap memperhatikan keadaan dirinya, tapi tetap saja ia bekerja terlalu keras. Ia mengeluh seperti ini, "Jikatidaksegeradiselesaikan, nantiaku akan dihukum."
Nyatanya, Chenle tidak jauh berbeda dari Renjun. Keras kepala. Ia lebih peduli jika nilainya terselamatkan dibanding dirinya yang terserang berbagai penyakit. Hah...
Kini, Renjun hanya bisa menatap sendu pemuda di sampingnya sambil mengelus-elus pelan kepalanya. Sesekali ia memegang dahi, pipi, dan leher untuk mengecek suhu tubuhnya. Jika sebelum-sebelumnya ia berani untuk menempelkan bibirnya pada bibir tipis milik sosok mungil tersebut untuk sekadar mengukur suhu tubuhnya, kali ini ia tidak melakukannya. Chenle butuh istirahat total.
"Kalau seandainya Papa dan Mama kau ada di sini, pasti mereka akan sangat khawatir," bisik Renjun pelan.
Chenle mendengarnya, lalu membalas, "Ya, aku tahu. Untungnya tidak."
"Kau tidak mengabari mereka?"
"Mana mungkin aku ingin membuat Papa dan Mama khawatir?"
Renjun menghela napas pelan. Mengapa Chenle mewarisi sifat keras kepalanya, ya?
Namun ia hanya memakluminya. Ya, sudah diberitahu, tidak ditaati, dan berakhir buruk seperti ini. Sekali lagi, Renjun hanya bisa tersenyum miris saat ini.
"Baiklah. Kau harus istirahat total," kemudian Renjun mengecup sekilas kening Chenle, dan berbisik, "tidur yang nyenyak, sayang."
Chenle, yang saat itu badannya sedang lemah, hanya dapat tersenyum tipis pada sosok yang ia sayangi itu. Dengan seluruh tenaga yang ia kerahkan, ia membalikkan badannya menghadap ke arah Renjun, lalu mendekat padanya.
"Peluk aku..." lirihnya.
Renjun kaget? Tentu! Ya... walaupun ada waktu dimana Chenle berkelakuan seperti itu.
Jadi, ia hanya menuruti keinginan sosok mungilnya yang tengah terbaring lemah.
"Tidak terasa lebih panas? Kan badanmu sedang hangat."
Renjun merasakan gelengan kepala pada dekapannya. Itu dari Chenle.
"Anggap saja jika dipeluk olehmu, berarti penyakitku lebih cepat pulih," jawabnya dengan suara serak, akibat sakit tenggorokan.
"Ada baiknya jika kau tidak bersuara untuk saat ini, Chenle. Tenggorokanmu pasti sakit."
"Tida—UHUUK!"
"Sudah kubilang, kan? Dah, istirahat baik-baik biar kau cepat sembuh."
Setelah itu, Renjun "kembali" memeluk Chenle—pelukan mereka terlepas untuk sesaat karena Chenle terbatuk—dan mengelus-elus surai kecokelatan miliknya lagi. Siapa tahu, dengan perlakuan tersebut, Chenle akan lebih cepat terlelap.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.
.
.
Teruntuk kalian yang sedangmenunggufanficini, kuucapkanselamatmalam. Semoga, dikeesokanharinya, kalianmasihdalamkeadaansehat. 🌜