"EH," aku tersenyum canggung. "Lupain-lupain, yang pasti Naca itu orangnya batu banget. Jadi kalo lo lagi ngomong sama dia, lo kudu ngegas! Kalo gak, bakal kalah." ucapku mencoba bersikap santai.
Naca menyenggol lenganku pelan, "apasih, Cha." Ia mengerucutkan bibir, membuat aku terkekeh kecil, sedangkan Rayan tertawa renyah.
😋😋😋
Selesai insiden di kantin tadi, Naca mengajakku pulang bersama. Kami masih ingin ngobrol panjang lebar, awalnya aku sudah diajak lagi untuk main ke rumahnya, tapi aku menolaknya mungkin lain kali.
"Cha, gue duluan ya." Anina berucap disampingku yang sedang menyampirkan ranselnya dibahu.
Aku mengangguk, "oke."
Anina tersenyum dan melambaikan tangannya, "dadah." Aku juga membalasnya.
Naca : aku udh di gerbang, Cha. Jd pulang bareng 'kan? Awas aja enggak!__-
Aku terkekeh, lalu mengetik balasan.
Otw.
Sent.
Setelah terlihat tanda √ dua bewarna biru, aku berjalan menuju gerbang. Kulihat Naca bersandar di pos menungguku.
Aku tersenyum, "Ca!" tanpa sadar aku memanggil nya dengan keras, membuat perhatian tertuju padaku.
Aku langsung menutup mulut, menyengir kaku.
Naca melambai-lambaikan tangannya bersemangat, "Cha!" Aku tidak membalasnya, saat ini aku sudah menjadi pusat perhatian, tak ingin memancing lagi dengan pura-pura sok akrab dengan Naca.
Aku berjalan cepat menuju Naca yang masih menampilkan senyumnya. "Jadi 'kan?" tanyaku setelah sampai di depannya. Naca mengangguk, "iyalah, aku kira kamu yang gak mau." ucapnya sedikit sinis. Tapi aku tahu kok itu hanya pura-pura.
Aku tersenyum sekilas, "yaudah ayo." ajakku.
Aku dan Naca berjalan berdampingan, cuaca saat ini sangat mendukungku, karna tidak terlalu terik tapi masih menampilkan cahaya.
"Naca, kabarmu gimana?" tanyaku memancing perbincangan.
Naca sedikit tersentak lalu menoleh ke arahku, ia tertawa, "sumpah. Telat banget pertanyaanmu itu." Iya sih, seharusnya aku bertanya sejak kali pertama bertemu, mengingat pertemuan pertama kami di toilet, apalagi dengan kehadiran Anina membuatku canggung.
Aku tersenyum geli, "terus aku harus nanya-nanya di toilet gitu? Cuih kek gak ada tempat elite aja."
Naca tertawa, "iya deh, aku baik, kamu gimana?" tanyanya.
"Baik, kok." tapi gak sebaik yang kamu lihat. "Kamu kemana aja, Ca?"
Naca disebelahku sedikit terkesiap, "eh, aku pindah ke bandung, Cha." Aku mengangguk, ingin bertanya kenapa ia meninggalkanku tepat bersama Rayan yang juga pergi, tapi gak enak juga membahas perpisahan pada saat pertemuan pertama dari sekian lamanya.
Mungkin, Naca bisa membaca pikiranku, karna tiba-tiba ia berucap, "maaf, waktu itu aku gak sempat bilang kamu." ucapnya terdengar sedih.
Aku tersenyum getir, "iya, aku ngerti kok, Ca." Memang pantas aku ditinggal sendirian. Orangtua mana yang membebaskan anaknya berteman dengan anak kecil yang hampir membunuh temannya?
Naca menangkap raut sedihku, "maaf, Cha. Aku gak ngejauhin kamu, kok." ujarnya sambil memegang lengan kananku.
Aku tersenyum, lalu melepaskan tangannya, "iya, udah lupain." pura-pura tersenyum dan memasang wajah sebaik mungkin menjadi pilihanku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Eidetic Memory
Teen FictionBagaimana sih rasanya melupakan? Aku ingin mengerti rasanya, Apa rasanya semudah aku mengingat sesuatu? Baiklah.. mungkin ini terdengar aneh, tetapi faktanya aku menderita Hyperthymesia atau HSAM, dimana Aku tak bisa melupakan sesuatu di masa lalu...