Kondisi tempat parkir masih lengang, hanya ada satu dua motor di sudut parkiran. Siswa-siswi belum banyak yang berlalu lalang. Kelas masih sepi, hanya ada meja, kursi dan kawan-kawannya. Bahkan matahari masih belum nampak diperaduannya.
Hari ini aku orang pertama yang menginjakan kaki di kelas. Rasanya, aneh. Saat membuka pintu disambut kondisi kelas yang kosong. Bayangkan saja jika ada yang duduk di kursi pojokan kelas, berambut panjang dengan baju putih ciri khasnya. Horor gila! Mana berani aku duduk sendiri di dalam kelas sepi macam ini, lebih baik aku duduk di teras kelas sampai yang lain datang.
Ini minggu ke dua di kelas sebelas. Bersyukur aku masih diberi kesempatan naik kelas meski absen yang banyak alfanya. Aku tak menutupi, selama kelas sepuluh hobi ku memang tak masuk sekolah, lebih kurang kalian juga tahu alasannya.
Setelah sekitar 10 menit dalam sepi, satu persatu anak kelas yang lain mulai berdatangan. Mereka nampak heran melihat ku yang duduk manis di teras kelas sepagi ini. Satu kata yang pasti akan keluar dari mulut mereka, "Tumben?". Respon yang normal, karena manusia ahli kesiangan seperti ku bisa datang sepagi ini.
Meski kelas sudah mulai terisi, aku tak beranjak dari duduk ku, sudah nyaman. Menyaksikan lalu lalang siswa-siswa rajin yang sepertinya tak ada niat sedikit pun untuk datang terlambat. Aku jadi heran pada diriku sendiri, kenapa penyakit kesiangan ku tidak kumat hari ini?
Padahal semalam begadang sampai jam 2 pagi demi tim sepak bola kebanggaanku, tapi jam 5 pagi mata ku melek sendiri, tanpa alarm jam weker, tanpa alarm teriakan Kak Nisa. Anehnya lagi, semangat untuk berangkat sekolah benar-benar membuat ku berangkat jam 6 kurang 15 menit. Rekor terpagi sepanjang perjalanan sekolah ku, luar biasa.
"Widih, tumben datang ke kelas sepagi ini, Ham?" Tuh, benar kan? Kata "tumben" keluar juga dari mulut Tari, aku yakin Radina juga akan bicara begitu.
"Lagi jadi anak rajin sehari." Jawabku.
Kelas semakin ramai, deru motor di parkiran semakin gemuruh. Kelas ku memang dekat dengan parkiran, tidak di pojokan lagi seperti kelas sepuluh, tentulah bisingnya deru motor terdengar jelas di sini.
Tari duduk 2 jengkal di samping ku, ranselnya masih dia pakai sama seperti ku. Kami hanya saling diam, sibuk menyaksikan lalu lalang di depan mata. Aku dan Tari memang tak sedekat aku dengan Radina. Walaupun Tari sahabat karib Radina, tapi aku tak bisa temukan sesuatu yang bisa membuatku nyaman seperti sedang bersama Radina. Entahlah, setiap orang beda-beda karakter, bukan ?
Aku penasaran, kenapa Tari duduk di sini, “Ngapain kamu duduk di sini ?”
“Ya bebas lah. Hak Asasi Manusia.” Jawabnya ketus. Bagian itulah yang tidak nyaman dari Tari, setiap bicara dengan ku selalu dengan emosi, ketus, galak, dan lain-lain. Terkadang Radina juga ketus, tapi tak semenyebalkan Tari.
“Santai, pagi-pagi udah nyolot aja.”
15 menit lagi bel masuk, tapi semenjak duduk manis di teras kelas belum ku temukan wajah Radina menyapaku. Biasanya, dia adalah siswa rajin yang datang paling pagi, mana mungkin kesiangan. Atau dia tak akan masuk sekolah hari ini?
“Gak bareng Radina, Ta?”
Tari tersenyum, bukan ke arah ku tapi ke arah koridor dekat parkiran. Ku ikuti arah pandangannya, dan ku dapati Radina sedang berjalan dengan senyum yang manis nan ceria.
“Biasa aja kali lihatnya.” Tari terkekeh mengejek ku yang tanpa sadar sedang tersenyum menatap Radina. “Dina, si Ilham nunggu kamu dari tadi, nih.” Teriaknya pada Radina, spontan ku gelengkan kepala, protes pada apa yang Tari katakan. Radina hanya tersenyum, lalu berjalan masuk tak menghiraukan aku dan Tari.
Mata pelajaran ke dua bebas tugas tanpa guru masuk kelas, sekarang entah apa alasannya. Jangan aneh karena terlalu banyak kelas free tanpa guru, hal biasa dan sekaligus hal paling penting untuk ku. Jika tak ada jam kosong, mana bisa aku duduk di samping meja Radina?
Seperti sekarang, aku berdiri di depan meja Radina. Menjahili Radina yang entah sedang membuka aplikasi apa dalam handphonenya. Segala macam cara aku lakukan untuk melihat wajah marah Radina, menggoyangkan meja, mencoret tangannya, menggeser layar handphonenya. Akhirnya Radina dongkol sendiri, dan ini yang membuat ku tertawa.
Dia meletakkan handphonenya, lalu menatapku yang masih tertawa.
“Ham, sini deh. Aku mau ngasih tau sesuatu.” Wajahnya terlihat serius. “Sini, aku bisikin.”
Wajah ku jadi ikut serius, tapi aku harus tetap waspada pada Radina, karena Radina yang sekarang banyak tipu muslihatnya, “Paling juga mau jitak, kan ? atau mau jewer kuping ku, iya kan?”
“Enggak, ini serius. Sini dulu, deh.”
Dengan ragu-ragu, ku dekatkan kuping ku pada wajah Radina dengan sedikit membungkuk. Sudah ku siap kan kuda-kuda jika Radina sampai menjitak atau menjewer kuping ku.
“Mancungnya bagi-bagi dong!”
Kini tangan kanannya sudah berada di wajah ku, ibu jari dan telunjuknya sudah mengapit batang hidung ku. Aku bergeming, tak melakukan perlawanan apapun sampai dia menarik tangannya kembali. Otak ku belum bisa mencerna apa yang Radina lakukan barusan. Tunggu, apa yang terjadi barusan?
“Berminyak banget hidungnya.” Dia tertawa, lalu menunjukan ibu jari dan jari telunjuknya yang mengkilat karena minyak dari hidung ku. Maklum saja, ini sudah siang dan aku belum membasuh wajah ku lagi.
Aku tersenyum, bingung harus bicara apa. Ku pikir Radina akan menarik hidung ku sampai merah, atau apalah itu asal aku kesakitan. Tapi ternyata tidak, yang ada aku mati kutu karena terkesima mungkin.
Kontak fisik dengan Radina hanya lewat cubitan, jitakan dan hal-hal brandal lain yang tak ada lembut-lembutnya. Karena itu, tubuh ku butuh waktu untuk bisa mencerna apa yang terjadi. Memang, hanya memegang batang hidup saja, tidak ada sisi romantis, tapi bagi ku ini sesuatu yang beda.
“Aku cuma penasaran sama hidung kamu, kok mancungnya bisa bagus gitu, ya?” Matanya berbinar, seperti anak-anak yang mendapatkan mainan baru, “Dari dulu pengen banget pegang hidung kamu, tapi bingung bilangnya gimana, haha.”
Aku masih diam di depannya, harus jawab apa aku?
“Ilham!”
Bagus, Le. Kamu menyelamatkan aku dari kebingungan ku di depan Radina. Terimakasih.
“Iya, Le. Tunggu.” Tanpa bicara lagi pada Radina, aku melangkah mendekati Tole di luar kelas.
Ada sesuatu yang aneh setelah Radina memegang hidung ku. Aku belum tahu harus dinamakan apa sesuatu yang aneh ini, aku pun belum yakin pada apa yang terjadi dengan diriku saat ni. Radina, kamu benar-benar membuat ku bingung.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
Retrouvailles
Teen FictionBerawal dari senyum manis gadis mungil itu semangat hidupnya mulai kembali, hatinya yang gelap mulai mendapat cahaya dan hidupnya yang polos kini mulai berwarna.Tanpa dia sadar, gadis mungil itu telah menjadi candu baginya, senyumnya, tawanya, marah...
