Admin yang baik hati selalu mengingatkan kamu agar berhenti membaca cerita ini jika merasa tidak lebih tua dari 21 tahun. Ini certa mature alias dewasa, banyak mengandung unsur vulgar. mohon bijak ya. Terima kasih.
Ditunggu komentar dan vote nya ya.
***
"Dia bilang mencintaiku, Ri."
Persahabatan dua gadis sering kali terlihat kokoh. Tak nampak sekat-sekat tipis sekalipun. Hidupmu, hidupku, hidup kita. Kamu terluka. Aku terluka. Kamu bahagia. Aku bahagia. Sulit mencari yang seperti ini. Namun, bukan berarti tak ada. Demikiann Asya dan sahabatnya, Riri.
Beberapa orang terlihat berkeliaran di kantin. Tidak ada kampus yang kantinnya sepi, kalau bukan malam. Di pojok sana seseorang sedang geleng-geleng di depan laptopnya. Mungkin telah melakukan kesalahan fatal dengan tugas kuliahnya. Di mejanya berdiri tegak sebuah gelas dengan bulir-bulir es menggoda. Di atas meja, ada saus botol, sambal, kecap, dan sang juara bakso Pak So, favorit anak muda kampus. Bahkan beberapa dosen pernah terlihat berseliwer di sana. Itu gosip yang beredar. Nikmatnya bakso tiada terkira. Lebih nikmat dengan tambahan mereka yang berjajar rapi di meja. Dapat bonus curhatan seorang kawan pula.
Asya sedikit tersenyum. Merasa beruntung. Lupa tujuannya bercerita.
"Serius?? Kamu bilang suka juga?"
"Heem", Asya mengangguk malu-malu.
"Aaaahhh.. Asya... Kamu bikin iri. Siapa yang tidak ingin punya pacar dokter."
Ucapan sahabatnya semakin menenggelamkan Asya pada mabuknya cinta. Keduanya terlihat tertawa kecil sambil sesekali menempelkan telunjuk ke bibir masing-masing. Kemudian tertawa berdua lagi. Hingga rasa penasaran Riri membentuk sebuah pertanyaan.
"Eh, kamu tidak takut ketahuan?"
Asya memandang wajah sahabtnya datar. Berpikir sejenak. Kemudian memilih minum. Seteguk demi seteguk es teh menyusuri kerongkongan Asya, tanpa hambatan. Tarikan napas yang panjang menandakan sebuah beban yang tidak ringan.
"Ini mungkin sudah keterlaluan ya, Ri. Harusnya kita tidak boleh seperti ini. Apa yang ada di pikiran papa mama ku andai mereka tahu. Hmm, sepertinya semakin lama aku berpikir semakin tidak ada jawaban, Ri. Kalau kamu jadi mereka bagaimana?"
Sahabatnya menggigit bibir kemudian melirik ke kursi kosong di sebelah sahabatnya. Terlihat takut-takut, ragu-ragu menjawab. Jelas ia punya jawaban yang sulit diungkapkan.
"Yaa.. Bagaimana ya? Emm.."
"Susah ya non bilang 'tidak'?"
Ia berpikir sejurus kemudian matanya yakin akan satu hal.
"Begini.. kadang kita tidak tahu apa yang ada dalam pikiran seseorang. Meskipun itu pikiran someone yang kita kenal juga. Intinya, kita tidak bisa memperkirakan reaksi mereka nantinya ketika tahu kamu pacaran sama keponakan mereka sendiri."
Asya memonyongkan bibirnya. Membuang pandangan ke langit. Mengapa semua jadi rumit di kepalanya. Namun ia pasrah. Cinta ya cinta saja. Ia memang baru bertemu Raka beberapa bulan ini. Lebih tepatnya enam bulan yang lalu mereka berjumpa. Setelah Raka pulang dari pengabdian di daerah tertinggal. Bulan pertama bertemu, berkomunikasi, bermain kesana dan kemari, lalu bibit cinta itu bersemi.
Padahal dulu sesekali mereka masih bertemu di acara keluarga. Memang tak begitu akrab. Barulah setelah Asya kuliah di Jakarta mereka lebih sering bertemu. Apalagi almamater mereka sama.
Pikirnya tak masalah meskipun ia dan Raka masih memiliki hubungan sepupu. Agama tak melarangnya bukan? Namun orang tua mereka entahlah. Sudahlah! Lelah memikirkan hal itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Scratched-END
Romance"Kamu tidak butuh aku lagi? Kamu tidak butuh laki-laki yang telah mengambil 'perawanmu'? Jangan salahkan aku kalau membuatmu membutuhkanku lagi mulai sekarang. Aku sudah seminggu menantikan tubuhmu, sayang." -Raka- "Aku sudah melupakan semuanya. Aku...
