03: the truth untold

1.3K 216 19
                                        

Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, kelompok dua mengerjakan tugasnya di perpustakaan sepulang sekolah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, kelompok dua mengerjakan tugasnya di perpustakaan sepulang sekolah. Mereka berjam-jam berkutat dengan buku-buku hingga lupa waktu. Ketika sadar hari mulai gelap, mereka memutuskan untuk menyudahi kerja kelompoknya.

Mingyu dan Jungkook yang lebih dulu pulang dengan sepeda motornya. Sementara kini Eunha sedang menunggu jemputannya di halte ditemani Yuna dan Seokmin.

Setelah Eunha akhirnya pulang dengan kakaknya, Yuna dan Seokmin pun segera bersiap pergi dari sekolah. Sebenarnya Seokmin sudah bersama motornya sejak Eunha menunggu jemputannya, tapi entah kenapa ia tidak beranjak pulang juga.

Setelah punggung Eunha menghilang dibelokan sekolah, Yuna menatap Seokmin. "Kenapa kau masih disini? Pergilah..."

"Kau tidak pulang?" ujar Seokmin justru berbalik tanya.

"Aku kan pulang naik bus."

"Ini sudah malam, ayo kuantar pulang..." ujar Seokmin sembari menarik pelan pergelangan tangan Yuna. Yuna menepisnya perlahan dan Seokmin menyadarinya. "Aku tidak terima penolakkan!" ucapnya kemudian. Yuna yang tidak punya alasan untuk menolak akhirnya pulang bersama Seokmin.

Sebelum pergi, Seokmin meraih satu helmnya lalu menyerahkannya pada Yuna.

"Rumahku tidak terlalu jauh," kata Yuna bermaksud menolak helmnya.

"Lalu?" Seokmin kembali menyerahkan helmnya pada Yuna, "Safety first, Yuna. Pakai!" ujarnya memaksa. Yuna tak berkutik ketika Seokmin memakaikan helm padanya.

"Arahkan jalannya."

Sepanjang perjalanan, mereka hanya diselimuti perbincangan ringan. Sesekali Seokmin melempar candaannya yang membuat Yuna tertawa dibelakangnya.

"Berhenti! Aku turun disini saja!"

Seokmin memberhentikan motornya mendadak. Matanya meneliti sekeliling. "Rumahmu yang mana?"

Yuna terdiam sesaat. Lalu menunjuk salah satu rumah didalam jalan setapak dibelakangnya.

"Naiklah, biar kuantar sampai rumah..." ucap Seokmin sedikit memaksa dengan menarik Yuna agar gadis itu kembali duduk di motornya.

"Tidak usah, Seok..." Yuna tersenyum. Ia melepas helmnya lalu mengembalikannya pada Seokmin. "Terima kasih! Sampai jumpa di sekolah!" dan Yuna berlalu pergi sebelum Seokmin berucap lebih lanjut.

Pemuda itu masih ditempatnya memperhatikan punggung Yuna yang menjauh. Setelah memastikan gadis itu masuk ke salah satu rumah, barulah Seokmin kembali melajukan motornya untuk pulang.


———


Yuna membuka pintu rumahnya perlahan. Matanya menyapu sekeliling. Gelap. Keadaan rumahnya sepi, karena memang ia hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Tapi kemana ayahnya?

Apa ia sudah tidur?

Setelah mengunci pintu, Yuna melangkah pelan menuju kamarnya.

"Dari mana saja kamu?"

Yuna berjengit. Tangannya yang berada dipegangan tangga terhenti ketika mendengar suara ayahnya. Ia menoleh pelan dan mendapati ayahnya berdiri berkacak pinggang.

"Kerja kelompok, ayah..." jawab Yuna pelan.

"Sampai selarut ini? Jangan bohong kamu..." ayahnya berjalan mendekati Yuna yang masih diam ditempatnya.

"Yuna tidak bohong. Yuna mengerjakan tugas disekolah sampai lupa waktu tadi, maaf..." jelas Yuna meyakinkan ayahnya.

Ayah Yuna menatap putrinya penuh selidik, "apa kau mencarinya?"

Yuna mendongak balas menatap ayahnya. "A-aku tidak mencari ibu," ucapnya sedikit ragu. Ayahnya melipat tangan didadanya.

"Lagi pula kenapa memangnya kalau aku mencari ibu? Yuna ingin bertemu ibu...." lanjut Yuna. Ia kini melihat jelas perubahan raut wajah ayahnya.

Ayah Yuna menghembuskan nafasnya, "apa kau sudah selesai bicara?"

Yuna menggigit bibir bawahnya sambil menatap takut ayahnya. Pria paruh baya itu melangkah menghampiri Yuna. "Berikan tanganmu."

Yuna menggeleng pelan sambil menyembunyikan kedua tangannya dibelakang tubuhnya. Ayahnya dengan cepat mengambil rotan yang ada diatas meja kemudian menarik paksa tangan Yuna.

"Sudah berapa kali ku bilang untuk tidak menyebut kata itu dirumah ini..."

prak!

Satu pukulan keras berasal dari rotan di tangan ayahnya sampai pada tangan kanan Yuna yang kini meringis tertahan.

prak!

Pukulan kedua. Dan Yuna tidak bisa lagi menahan tangisannya saat rasa perih mulai menjalar ditangannya.

prak!

"Ayah... Sakit...." ujar Yuna memohon pada ayahnya sambil seunggukan. Yuna bersyukur pukulan barusan adalah pukulan terakhir.

Tiga pukulan karena ia menyebut kata 'ibu' tiga kali.

"Yuna minta maaf...."

"Masuk ke kamarmu!"

Yuna berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Ia dengan cepat mengunci pintu kemudian mencari kotak obat di lacinya. Ia duduk dikasurnya dan mulai mengobati goresan yang ada ditangannya perlahan dengan air matanya yang masih mengalir.

Yuna menghembuskan nafasnya sambil menatap pantulan dirinya dicermin lemarinya. Ia terlihat menyedihkan. Tangannya mengusap garis air mata dipipinya.

Ia menarik kedua sudut bibirnya secara terpaksa. Ia harus menepati janjinya pada ibunya untuk tidak menangis. Hanya itu yang dikatakan ibunya sebelum beliau pergi meninggalkannya berdua dengan ayahnya.

Air mata Yuna kembali menyeruak keluar. Ia tidak tahan dengan kelakuan ayahnya pada dirinya yang berubah drastis semenjak ibunya pergi. Yuna bertahan sampai detik ini karena mau bagaimanapun ia masih menyayangi ayahnya.

Tangannya membekap mulutnya sendiri guna meredam tangisannya. Yuna tidak mau ayahnya marah lagi jika tau ia masih menangis sekarang.

 Yuna tidak mau ayahnya marah lagi jika tau ia masih menangis sekarang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

yha apa ini;-;

!!!adegan diatas tidak untuk ditiru yaaa!!!

eccedentesiastTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang