Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kebiasaan.
Lagi-lagi Seokmin melupakan tugasnya. Kali ini lebih parah. Deadline tugasnya tinggal beberapa hari lagi dan pemuda itu masih ceroboh. Bagaimana bisa buku referensi milik pemuda itu ada di dalam tasnya?
Jangan salahkan Yuna karena ia bukan pelaku yang meletakkan buku itu di dalam tasnya. Tidak mungkin buku itu masuk sendiri ke dalam tasnya. Ia yakin pasti Seokmin pelakunya. Ditambah kemarin Yuna menolak permintaan pemuda itu mencarikannya materi di buku besar itu.
Ketika mata Yuna menangkap seorang pemuda tengah membuang sampah didepan rumah, ia langsung melesat berlari menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Seokmin begitu Yuna sampai tepat dihadapannya. Seokmin cukup terkejut dengan keberadaan Yuna yang tiba-tiba seperti ini.
Yuna mendengus. Gadis itu memberikan—melempar—bukunya kepada Seokmin. "Kau kan yang menaruh buku ini di tas ku! Kerjakan sendiri, itu bagianmu!"
Seokmin mengeluarkan cengiran khasnya. "Iya iya, maaf..."
"Eh, ada Yuna?"
Seokmin dan Yuna serentak menoleh ke sumber suara. Ibu Seokmin berdiri di ambang pintu rumahnya sambil melepar senyum manisnya.
"Eh, Yuna ikut makan malam disini ya?" ajak Ibu Seokmin. "Bibi masak banyak nih..." jelasnya. Seokmin mengernyitkan dahinya sementara Yuna tersenyum sumringah.
"Yuna ingin langsung pulang—"
"Boleh!"
Mata Seokmin mendelik pada Yuna yang seenaknya memotong ucapannya. Yuna menjulurkan lidahnya lalu menerobos masuk ke halaman rumah Seokmin.
"Yuna!" Seokmin meraih lengan Yuna—menahan langkahnya yang ingin masuk ke dalam rumahnya.
Yuna memicingkan matanya. "Ada apa? Aku tidak boleh menumpang makan dirumah mu?" ucapnya. Sejujurnya ia bukan ingin menumpang makan, hanya saja entah kenapa Yuna seperti merasa bersama ibunya jika ia sedang bersama ibu Seokmin. Setidaknya itu dapat sedikit mengobati rasa rindunya pada ibu kandungnya.
Keduanya sudah bersiap diruang makan. Dan benar saja, meja makan penuh dengan banyak lauk pauk. Yuna sudah memposisikan dirinya untuk duduk dikursi sebelah Seokmin. Sementara ibu Seokmin kini tengah memanggil Dino—adiknya Seokmin untuk ikut makan bersama.
"Kau kenapa sih?" tanya Yuna. Bukan apa-apa, tapi Yuna merasa Seokmin sedari tadi menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Takut? Entahlah. Dan Seokmin hanya menggeleng pelan.