Dengan langkah terburu-buru cello ,alexa, kenzi dan rubi memasuki rumah avreya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Saat alexa membuka knop pintu saat itu juga pintu terbuka dan menampakan wajah Radika.
"loh dik kok lo disini ?" tanya alexa.
"lah kalian sendiri ngapain kesini?" radika memandang ke empat orang itu dengan bingung.
Alexa menepuk keningnya pelan"astaga! Kita masuk dulu bay" alexa dan ketiganya langsung menerobos radika dan avreta yang masih berdiri bingung di depan pintu sana.
"reya..buka ini gua alexa dkk" seru alexa dari luar kamar avreya.
Cklek
Pintu kamarpun terbuka menampakan sosok avreya yang tengah habis menangis.
"lexaaaaa" avreya berhambur kepelukan alexa dan menangis tersedu-sedu di dada alexa.
Alexa, kenzi, cello dan rubi hanya bingung menatap keadaan sahabat mereka, alexa mengusap lembut punggung avreya agar lebih tenang.
Kelimanya kini sudah duduk di kasur ukuran queen milik avreya yang kebetulan bergambar frozen. Anak perempuan sekali bukan?
Kenzi menepuk pelan pundak avreya"jadi coba jelasin ke kita kenapa lo nangis kayak gitu tadi ?"
Avreya masih bungkam, dan hanya sesunggukan saja .
Alexa masih senantiasa memeluk avreya yang menangis sesunggukan.
"tenang ya re, kita bakal salalu ada buat lo re" kata kenzi menguatkan avreya.
"gue ga tau lagi musti gimana kalau ga ada kalian semua." avreya menatap satu persatu keempat sahabatnya.
Sementara itu avreta melihat betapa saling pengertiannya mereka berlima dari celah pintu. Avreta tidak berniat untuk mengganggu kelimanya yang sedang berpelukan mesra.
****
Radika kini duduk sendiri terdiam didepan jendela kamarnya. Hari sudah semakin sore, sehingga banyak lampu yang telah menyala dibawah sana.
Dia sudah sangat frustasi dengan keadaanya sekarang. Dia sudah melukai Avreya demi bersama mantan kekasihnya yang sebenernya gak mencintai dia.
"lo bodoh banget dik, lo bodoh!!!!" maki Radika pada dirinya sendiri.
Radika meninju kaca di kamarnya dengan sangat keras hingga retak dan tangannya berdarah. Tapi radika rasa itu masih belum cukup untuk meluapkan emosinya.
"tringg...tringgg...tringg"
Ponsel radika tiba-tiba saja berdering tanda ada panggilan masuk.
Rubi
Tertera nama sahabatnya disana, dengan enggan radika menerima pangggilan itu.
"Lo dimana?" tanya rubi begitu sambungan terhubung.
"Dirumah" jawab dika seadanya.
"Otw" setelah menjawab itu rubi mematikan teleponnya dan membuat dika berdecak pelan.
Sambil menunggu rubi, radika merebahkan dirinya diatas kasur, memandang langit-langit kamar dengan hiasan aurora. Indah dan menenangkan.
Radika memang menyukai hal yang berbau angkasa, apalagi jika itu aurora. Radika sendiri telah melakukan banyak perjalanan untuk mengejar aurora sejak kecil bersama ayahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Bad Boy Friend
Novela JuvenilAvreya Quenna -terdengar klise memang jika tidak ada perasaan lebih antara sahabat yang berbeda kelamin. Yah, aku mencintai sahabatku sendiri meski aku baru menyadarinya sekarang, dan harapanku adalah bisa mendapat sekali lagi kesempatan untuk bers...
