6. Mulai kerja

1.7K 145 15
                                        

Seperti kemarin, nggak jauh beda lah. Gue udah siap-siap lagi, udah rapi lagi, mau kerja.

Gue diminta datang disalah satu studio radio yang dinaungi oleh temannya pak Revan. Sempat ada adu argumen antara gue dan pak Revan semalem, alamat yang dikasih sama dengan alamat yang gue tuju kemarin. Tapi akhirnya pak Revan bakal ikut nganterin gue buat membungkam tuh mulut bapak-bapak kemarin. Tunggu pembalasan gue!

Setelah siap-siap, gue langsung pamit ke emak sama abah buat berangkat. Hari ini nggak seperti kemarin, dijalan macet parah, apa karna gue kepagian?. Jalanan sesak didominasi para pelajar dari berbagai sekolah dan tingkatnya. Ada yang bawa motor sendiri, dianter, dan ada juga yang jalan kaki. Gue jadi inget sekolah. Betapa durhakanya gue sama guru dulu, tapi aman gue udah minta ampun menebus dosa dihari perpisahan dulu, jadi sekarang gue suci, suci dalam debu, undur-undur.

Satu jam berkutat dengan jalanan yang macet, gue sampai dipelataran parkir studio. Gue memarkirkan motor ditempat parkir yang dinominasi oleh motor, hanya ada tiga mobil, dimana disalah satunya gue merasa tak asing.

"Mobilnya pak Revan bukan ya?" gumam gue melepas helm dan sedikit tacapan dulu.

Setelah dirasa penampilan gue bagus, barulah gue melangkahkan kaki masuk kedalam.

"Saya masih ada urusan sebentar, 20 menit lagi saya sampai."

Ucapan seorang laki-laki menyapa indra pendengaran gue ketika tubuh gue muncul didepan pintu. Gue menoleh kearah suara yang tanpa gue sadar ia berdiri sekitar dua meter disamping kiri pintu keluar, tengah asik mengobrol via telpon.

Suara syahdu itu tak menghalangi gue masuk. Gue melangkahkan kaki, dan seperti kemarin pula, masih ada bapak-bapak yang ngusir gue secara tidak hormat itu.

"Permisi," sapa gue singkat membuat itu bapak menoleh slow motion ke gue.

"Kamu lagi? Apa kemarin kurang jelas?" sergah bapak itu sangar.

"Dia datang dengan saya," ucap seseorang dari arah luar. Sontak membuat gue menoleh cepat. Tanpa ditebak itu adalah pak Revan. Skak mat lu!.

"Eh oh bapak," ucap bapak itu gelagapan.

"Iya. Indri sudah bilang 'kan? Ada penyiar baru yang akan masuk?" tanya Pak Revan sedikit mendekat.

"Jadi-"

"Iya dia, Juli." potong pak Revan tegas.

Gue melirik bapak itu menampilkan ekspresi nggak enak hati menoleh gue. Emang enak lu, ketawa setan dulu dah gue. Kemarin gue ditolak hari ini gue datang bawa ajudan.

"Juli!" panggil pak Revan membuat lamunan jahat gue terbuyarkan.

"Eh iya pak," sahut gue singkat.

"Mulai hari ini kamu kerja disini. Saya mau pergi dulu, semoga kamu betah," ucap pak Revan menepuk pundak gue kasual.

Pak Revan berlalu dihadapan gue dengan langkah cepat. Setelah punggungnya hilang dalam pandangan, barulah gue menatap bapak itu yang terlihat jijik memandang gue. Jangan lupa lu, disini gue berkuasa.

"Ruang siarannya ada dilantai atas" ucap pak Sofyan Maulana, yang gue ketahui namanya di nametagnya.

"Oh iya," jawab gue arogan. Sengak-sengak dikit boleh lah.

Gue berjalan menitih anak tangga, ke ruang siaran dilantai dua. Studio ini masih kecil, berupa rumah toko didaerah pasar tradisional. Kalo lapar tinggal keluar dikit, langsung bisa menikmati segala jenis makanan. Makanan disini juga nggak bisa dinikmati sembarangan orang lho, iya bener. Kalo lu nggak punya duit, ya, nggak bisa makan.

JOMBLO SAMPAI HALALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang