• Aku dan Hari-H

14.2K 1.9K 119
                                        

Warning!
Komen sangat menaikkan mood gue, jadi semakin banyak komen, semakin lancar jaya ini cerita :)


***

Baiklah, sepertinya kalian sudah bisa menebak apa yang akan kuceritakan kali ini.

Kami menikah. Benar, ini hari pernikahan kami.

Saat ini aku masih menunggu di ruang khusus pengantin. Aku sudah didandani, cukup cantik dengan busana yang cukup merepotkan pula.

Aku tidak yakin apakah hal ini memang dirasakan semua calon pengantin, tapi sekarang aku benar-benar merasa gugup. Ini lebih gugup daripada saat aku harus bertemu idol kesayanganku di fansign.

Percayalah, kegugupan sebelum menikah itu adalah hal yang paling mengerikan. Di saat seperti ini, pikiranmu akan mulai berlarian ke arah yang lebih banyak adalah tidak baik. Mendadak aku menjadi orang yang begitu paranoid.

"Hey, semua akan baik-baik saja." Dia adalah Lee Yejin, kakak iparku. Wanita itu duduk di sebelahku dan menggegam erat tanganku.

Aku tersenyum, terlihat lebih seperti senyum paksa sebenarnya. "Eonni, aku takut."

Kakak iparku itu tersenyum. Dia memang mempunyai senyum hangat yang bisa memberikan semangat. "Jangan takut. Jangan khawatir. Memang perasaan itu akan selalu menghinggapi para calon pengantin sepertimu. Tapi percaya padaku, semua akan baik-baik saja."

Sedikit banyak aku merasa terhibur dengan perkataannya. Well, kadang menerima saran dari yang sudah berpengalaman, akan membuatmu merasa lebih percaya diri.

"Ah, sepertinya sudah waktunya kau untuk keluar," ujarnya setelah mendengar panggilan dari pemandu acara pernikahanku.

Aku mengangguk. Aku mengikutinya dan dia membantuku dengan gaunku yang super lebar.

Setelah sampai di ujung jalan menuju altar, kakak ipar menyerahkanku kepada ayahku. Aku tersenyum dan menerima uluran tangan ayah. Hangat dan nyaman. Tangan ayahku selalu membuatku merasa aman. Namun, sebentar lagi aku harus melepaskan tangan ini. Sedih rasanya jika harus memikirkan hal itu.

"Jangan gugup, oke?" kata ayah.

Aku mengangguk. Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Oke. Ayah, tolong jangan buat aku terjatuh."

"Tidak akan, percayalah pada Ayah."

Kami mulai menyusuri karpet merah yang akan membawa kami ke altar pernikahan. Di sana aku melihat Jungkook sudah siap dengan tuxedo hitamnya. Rambutnya ditata sedemikian rupa hingga menampilkan jidatnya. Oh Tuhan, calon suamiku terlihat sangat amat tampan.

Aku hampir saja menjerit bak seorang fangirl saat Jungkook meraih tanganku. Ia menggegam tanganku erat. Tangannya besar dan juga hangat, persis seperti tangan ayahku.

Kami pun berhadapan dengan sang pendeta. Pendeta itu mengucapkan beberapa kata pembuka dan aku merasakan tanganku yang mendingin dan berair. Entah ini efek dari tanganku atau memang tangan Jungkook yang juga terasa sangat dingin.

Walau wajahnya terlihat sedingin es, tapi rasanya ia bahkan merasa lebih gugup daripada diriku.

Setelahnya, sumpah pernikahan pun dibacakan. Kami berdua sama-sama menghela napas lega saat semua prosesi pemberkatan pernikahan telah rampung.

"Sekarang, silahkan pengantin pria untuk mencium pengantin wanita."

Deg!



Ujaran sang pendeta sontak membuat jantungku serasa lepas dari tempatnya. Aku melirik Jungkook yang juga tengah menatapku. Tamu undangan sudah berteriak heboh.

Jungkook mengambil satu langkah mendekat kepadaku. Ia menarik tengkukku dan menempelkan bibirnya di ujung bibirku. Dia membuat seakan dirinya tengah menciumku, kepalanya menutupi pandangan tamu undangan sehingga mereka tidak menyadari jika Jungkook tidak sepenuhnya mencium bibirku.

Setelah tiga detik, ia melepaskan kecupan itu. Tamu undangan pun bertepuk tangan. Aku bersemu saat mendengar beberapa dari mereka mengeluarkan siulan memalukan. Aku yakin pelakunya adalah si Jongin dan Sehun. Lihat saja, aku pasti akan menghabisi mereka berdua!

Jungkook memutar tubuhnya menghadap para tamu. Aku mencoba mengikuti namun gaun panjang dan sepatu hak tinggi yang kukenakan membuat kakiku tersandung. Hampir saja aku terjatuh dan membuatku malu seumur hidup, jika saja Jungkook tidak refleks merengkuh pinggangku erat.

Aku menatapnya dan tersenyum kecil. Ia tidak membalas senyumku, hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.

Ck, sebenarnya dia suka atau tidak untuk menikah denganku? Menyebalkan!

Setelahnya, kami pun berbaur dengan para tamu. Aku merealisasikan niatku tadi dengan menjewer telinga Jongin dan Sehun sampai memerah. Biar saja, kedua begundal itu memang perlu diberi pelajaran.

"Jadi kau akan tinggal di rumah Tuan Jeon?" tanya Nahee.

Aku menggeleng. "Kami akan tinggal di Busan selama beberapa hari dulu. Rumah miliknya ada di Seoul."

"Jadi… kau akan pindah ke Seoul?" tanya Nahee dengan raut wajah sedih.

Aku mengangguk pelan. "Hm. Mau bagaimana lagi?" ujarku. "Aku sudah mengurus dokumen untuk pindah sekolah dan ya… aku berharap kita akan terus saling berhubungan."

"Tentu, aku juga berharap begitu."

Aku dan Nahee tersenyum, kami pun berpelukan.

"Ah iya, kau sudah memikirkan tentang malam pertamamu?" []




***
Ada yang bisa nebak namanya si cewe? Cluenya :
- Adiknya namjoon, jadi marganya pasti Kim
- Udah pernah main di ff lain (masih di lapak gue tentunya)

Kalo ada yang bisa nebak, nanti gue update lagi, gimana? Dan chapter selanjutnya jelas tentang aku dan …*sensor* 😏

Makasih udah baca ^^

Dear, Mr. JeonCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang