"Oppa?"
Aku bangun dengan kepala yang sedikit pusing. Aku merasakan tubuhku duduk di sesuatu yang bergerak.
"Hm? Kau bangun?" Jungkook membelai rambutku. Ia sedang menyetir, ternyata kami berada di dalam mobil.
"Kita mau kemana?"
"Pulang."
"Kenapa pulang dengan mobil? Yang lain bagaimana?" tanyaku tidak mengerti.
Jungkook mendengus dan menghela napasnya kasar. "Jangan pedulikan mereka. Sudah bagus aku tidak mematahkan leher mereka satu per satu. Berani sekali membuatmu tenggelam seperti itu."
Aku tersenyum lembut dan mengusap lengannya yang berada di stir mobil. "Sudahlah, mereka tidak sengaja. Aku juga baik-baik saja sekarang."
"Aku yang tidak baik-baik saja!" Nada bicaranya meninggi. Ia memarkirkan mobil kami di sisi jalan yang cukup sepi. Dia menatapku lurus. "Kau tahu, aku hampir mati ketakutan! Bagaimana jika kau tidak bangun? Bagaimana jika kau tidak selamat? Bagaimana jika kau meninggalkanku? Bagaimana jik--"
Aku membungkam bibirnya dengan ciumanku. Tanganku meraih kedua rahang tegasnya dan melepas ciuman kami. "Aku baik-baik saja, oke? Mereka tidak sengaja. Dan aku tidak akan meninggalkanmu, Oppa."
Jungkook menatapku sendu, tangannya mengusap pipiku dengan lembut. "Aku takut, sangat takut. Jantungku serasa dilepas paksa."
Dia mendekatkan wajah kami dan menciumku lembut. Tanganku melingkar di lehernya dan mengusap pelan tengkuknya.
Jungkook melepaskan ciuman dan menyatukan kening kami. Ujung hidungku bergesekkan dengan ujung hidungnya. Ia tersenyum. Kami tersenyum.
Jungkook kembali membubuhkan beberapa kecupan di bibirku, membuatku tertawa geli. Sungguh, aku malu sekali sebenarnya. Hatiku benar-benar belum siap jika harus dihadapkan dengan tingkah Jungkook yang semanis ini.
"Berhenti, Oppa. Kenapa kau jadi suka sekali menciumku?" tanyaku dengan rengekan.
Jungkook terkekeh. "Karena kau manis, cantik, dan menggemaskan. Jika bisa, aku ingin menelanmu bulat-bulat atau memasukkanmu ke dalam saku celanaku."
Aku mendengus mendengar jawabannya. "Berhenti menggodaku, jalankan saja mobilnya. Aku ingin pulang."
"Oke, princess. Apapun untukmu."
"Oppa!"
Aku merengut dengan wajah memerah karena malu. Mimpi apa aku hingga mendapat suami sesempurna Jungkook? Kupikir aku benar-benar telah menyelamatkan dunia di kehidupanku sebelumnya.
***
"Oppa! Kita terlambat!"
Jungkook sontak melompat dari tempat tidurnya saat mendengar teriakan Nara.
"Apa?"
Nara mendengus. Gadis itu meraih handuk dengan tergesa. "Kita terlambat ke kampus. Tinggal tersisa dua puluh menit lagi!"
"APA?!" Jungkook memekik. "Hei, hei, tunggu! Jangan tutup pintunya dulu!" Jungkook bangkit dan menyambar handuknya.
"Kenapa?"
"Kita mandi bersama saja, menghemat waktu."
"APA? Tidak, tidak! Yang ada itu hanya akan membuat kita lebih terlambat. Aku tidak percaya padamu!" Nara memicing.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Mr. Jeon
Fanfic"Because she thought that she was nothing even though she was something." Kadang, Nara bertanya-tanya dalam hatinya, bagaimana dia bisa menikah dengan pria sekeren Jeon Jungkook? Apa yang Jungkook lihat dari gadis biasa-biasa saja sepertinya? Namun...
