• Aku dan Kebenaran

15.6K 1.6K 219
                                        

Jungkook menatap istrinya dengan pandangan teduh.

Nara masih tertidur di ranjangnya. Gadis itu mungkin masih begitu lelah.

"Eunghh…"

Jungkook tersenyum saat melihat Nara yang mulai terbangun dari tidurnya. Gadis itu menatap Jungkook beberapa detik, kemudian memilih untuk menutupi seluruh wajahnya dengan selimut.

Jungkook terkekeh. Ia memeluk erat Nara yang masih berada di dalam selimut hingga gadis itu memberontak. "Oppa! Aku tidak bisa bernapas!"

"Lalu, siapa suruh kau menutupi seluruh tubuh begitu?"

"Aku malu!" seru gadis itu. "Ck, laki-laki tidak akan mengerti!"

"Eyy, siapa bilang? Aku bahkan mengerti kalau sekarang kau kesusahan untuk berjalan," ujar Jungkook.

Wajah Nara sontak memerah. "Lebih tepatnya aku bahkan tidak bisa bergerak!" Gadis itu memekik kesal.

"Bukan salahku, loh. Aku sudah memperingatkan jika aku tidak akan melepaskanmu begitu saja."

"Tapi apa kau tidak bisa melihat keadaan, Oppa? Kita masih camping, apa yang akan kukatakan jika teman-temanku bertanya?"

"Hanya tinggal katakan jika kau jatuh di kamar mandi, atau sesuatu seperti itu." Jungkook bangkit dari tempat tidurnya. Ia meraih tubuh Nara dan mengangkat istrinya menuju kamar mandi. Jungkook menaruh Nara di bathtub yang sebelumnya sudah ia isi air hangat.

"Sekarang lebih baik kau bersihkan dirimu, oke?" Jungkook mengelus kepala Nara. "Dan jangan lupa untuk memakai syal saat kau keluar." Pria itu menyunggingkan senyuman paling misterius yang membuat Nara menaikkan alisnya. Setelahnya, Jungkook meninggalkan Nara di tempat itu dengan berbagai tanda tanya.

"Ish, dia kenapa, sih?" Gadis itu mendengus. Ia mencoba bangkit dari bathtub dengan perlahan. Nara tidak terlalu suka berendam, ngomong-ngomong. Mandi dengan shower itu lebih mengasyikan.

Gadis itu melangkah perlahan menuju tempat pancuran air itu berada. Namun, tubuhnya oleng saat merasakan nyeri yang amat sangat. Tangannya langsung bertumpu di wastafel.

Dan saat itu, Nara sempurna membulatkan matanya saat melihat tampilan dirinya sendiri. Nara menyentuh lehernya perlahan, benar-benar tidak menyangka jika lehernya sudah menjadi kanvas dadakan oleh Jungkook.

"Ya Tuhan…"

Ia menghela napas. Oke, sekarang dia tahu kenapa Jungkook bicara begitu padanya tadi.

"OPPAAA!"

Sedangkan, yang diteriaki hanya tertawa geli di balkon kamar.

***

Jika kau tanya saat ini tentang bagaimana keadaanku, maka aku akan menjawab, buruk sekali. Sangat amat buruk. Super buruk.

Bagian bawah tubuhku keram dan nyeri. Sumpah, Jeon Jungkook itu gila. Kenapa aku bisa punya suami semacam dia?

"Kau habis digempur oleh Dosen Jeon, ya?" bisik Sunji saat kami berdua sedang duduk di pinggir kolam renang.

Aku menatap tajam ke arahnya. "Apa maksudmu?"

"Jangan pura-pura tidak tahu, sialan. Tanda di lehermu itu masih terlihat sangat jelas!"

Aku sontak menarik syalku sampai dagu. "Apa masih terlihat?" bisikku.

Dear, Mr. JeonCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang