"HYUNG!"
Aku langsung mendorong Jungkook menjauh saat mendengar suara seseorang.
Aku bisa melihat enam orang pria tengah berdiri dengan santai di belakang kami, tiga dari mereka bahkan terlihat tertawa geli. Aku yakin seribu persen jika mereka pasti melihat kegiatan kami sebelumnya.
"Halo, Jungkookie. Apa kami mengganggu?" ujar seorang pria berwajah panjang.
"Hei, Jim. Bagaimana tadi kata Jungkook? 'Kau wangi~~'," ujar seorang pria yang memiliki senyum kotak. Ia terlihat memperagakan bagaimana perkataan Jungkook tadi.
Aku merasa malu luar biasa. Apalagi aku melihat kakakku berada di barisan enam pria itu. Ia menatapku dengan pandangan aneh, persis seperti kelima pria lain.
"Sudahlah, dia sudah menikah. Pantas jika seperti itu." Seorang pria berwajah pucat angkat bicara.
Namun, ketiga pria yang tadi tertawa justru makin tertawa kencang. Mereka bertiga ber-high five. Terlihat bahagia sekali dengan membuat Jungkook dan aku merasa malu di luar batas wajar.
"Ck, kenapa datang tidak memberi tahu lebih dulu?" ujar Jungkook dengan wajah kesal.
"Sengaja, supaya bisa melihat hal seperti tadi," jawab pria yang mempunyai bibir tebal.
"Jin Hyung!" Jungkook mengerang kesal.
Aku sendiri lebih memilih untuk membungkuk dan menyapa mereka. "Selamat malam, aku Kim Nara."
"Malam juga, adik kecil," kata seseorang yang dipanggil sebagai Jin oleh Jungkook tadi. "Namjoon-ah, adikmu ini benar-benar cantik," ujar pria itu pada kakakku.
"Benar, kan? Jungkook sangat beruntung mendapatkannya." Aku mendengus saat kakakku menampilkan raut menyebalkan.
"Joonie Oppa, kenapa tidak bilang jika kemari? Dan apakah mereka teman-temanmu?" tanyaku.
"Kenapa kau tidak tanya pada Jungkook saja?" ujar kakakku. "Dan kau, Jungkook. Apakah kau tidak ingin memakai bajumu?"
Jungkook mendengus dan masuk ke kamar kami, mungkin untuk mengambil pakaiannya.
Aku menggunakan waktu itu untuk mempersilahkan tamu-tamu kami duduk. Aku juga menyajikan beberapa camilan dan minuman untuk mereka.
Tak selang berapa lama, Jungkook keluar dengan menggunakan kaos putih polos. Ia mengambil tempat di sebelahku. Kami memilih untuk duduk di lantai atas saran kakakku.
"Jadi … kenapa kalian kemari?" tanya Jungkook. Wajahnya masih menggambarkan raut kesal yang ketara.
Kakakku terkekeh. "Jangan begitu, Kook-ah. Kami minta maaf karena mengganggumu, tapi kami kemari hanya ingin menengok adik kecil kami dan istrinya."
"Namjoon benar, Kook. Dan ya, Nara, perkenalkan aku Jung Hoseok," ujar pria berwajah panjang. Ia tersenyum lebar sekali dan itu terlihat menggemaskan sekaligus tampan di saat yang bersamaan.
"Dan aku, pernalkan namaku Kim Seokjin. Yang tertua dan yang tertampan di sini. Tapi kau tidak boleh jatuh cinta padaku, aku punya istri dan dua orang anak, oke?" Pria bernama Kim Seokjin itu memberikan flying kiss-nya kepadaku. Aku sedikit tersipu karena dia memang benar-benar tampan. Beruntung sekali bagi wanita yang menjadi istrinya.
"Jin Hyung," ujar Jungkook kesal. Namun, Seokjin hanya membalas dengan cengiran tampannya.
"Kalau aku Kim Namjoon, kakak dari Kim Nara yang cantik. Suami dari Lee Yejin dan ayah dari Kim Namlee. Pemilik IQ 145 dan sangat fasih berbahasa Inggris sejak SD."
Aku memutar bola mataku saat kakakku memperkenalkan dirinya sendiri. Kakakku memang mempunyai kepercayaan diri yang lumayan berlebih.
"Kalau aku, Min Yoongi. Ayah dari seorang putri tercantik sejagat raya."
Aku tersenyum mendengar pujian Yoongi untuk anaknya.
"Aku Park Jimin. Yang paling seksi di antara yang lain. Paling imut, dan yang jelas tipe suami idaman. Tapi sayang, kesempurnaan ini hanya bisa diberikan untuk Park Jira seorang." Jimin tersenyum lebar hingga matanya menghilang.
"Dan jangan lupakan, dia yang paling pendek," celetuk Jungkook dan Jimin merengut. Aku menahan tawaku dengan mengulum bibirku.
"Yang terakhir, aku. Kim Taehyung. Tampan, kaya, perhatian, cerdas, penyayang. Paket komplit dan yang terpenting, masih single. Jadi jika kau bosan dengan Jungkook, kau bisa berpaling padaku, kok." Taehyung mengedipkan sebelah matanya ke arahku.
"Single pantatmu! Jika yang kau maksud adalah duda dua kali, maka aku akan setuju," kata Jungkook.
Semua orang tertawa mendengar hal itu. Sedang aku menatap tidak mengerti.
"Jadi begini, Nara-ya. Taehyung ini sudah duda dua kali. Satu kali karena istrinya meninggal, sedangkan yang kedua karena bercerai. Dia baru bercerai dua bulan yang lalu," kata Hoseok menjelaskan.
Aku menatap tidak percaya pada Taehyung yang sekarang tengah merengut kesal. Pria setampan itu adalah seorang duda? Wow. Jika tidak ingat Jungkook, maka sudah pasti aku akan mendaftar sebagai calon pendampingnya.
"Benarkah itu, Oppa?" tanyaku pada Jungkook dan ia mengangguk.
"Oke, jadi setelah perkenalan diri, sekarang kami akan menjelaskan maksud dan tujuan kami kemari," kata Jimin. Ia membenarkan letak duduknya dan menyibak rambutnya ke belakang. "Jadi kami kemari untuk menjalankan suatu niat paling mulia, yaitu mengacaukan malam dari pengantin baru."
"Ya, dan untuk menjalankan visi mulia kami itu, kami mempunyai suatu misi yang akan segera kami laksanakan," ujar Taehyung menimpali. Ia mengambil sesuatu yang bentuknya seperti album foto dari belakang tubuhnya. "Yaitu dengan membongkar aib seorang Jeon Jungkook di depan istrinya. Woaahh~~ bukankah itu terdengar menarik?"
Mata Jungkook membulat saat mendengar perkataan Taehyung. Sedangkan rasa penasaran mulai menyelimuti diriku.
"HYUNG, JANGAN!" []
***
Sabar, Kook. Karena kadang, sahabat sendiri memang lebih laknat daripada siapapun. I feel u :"">
Makasih udah mampir, ya! Jangan lupa, tomorrow is monday, fuck :")
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Mr. Jeon
Fanfiction"Because she thought that she was nothing even though she was something." Kadang, Nara bertanya-tanya dalam hatinya, bagaimana dia bisa menikah dengan pria sekeren Jeon Jungkook? Apa yang Jungkook lihat dari gadis biasa-biasa saja sepertinya? Namun...
