"Klub malam?"
Jungkook menatapku dengan raut tidak setuju yang sangat ketara. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku dan memainkan ujung kaosku.
"Untuk apa? Kenapa harus klub malam? Pukul 9 malam, pula."
"Uh, itu--pesta penyambutanku. Sunji bilang kami harus merayakannya," cicitku.
"Tapi itu klub malam, Kim Nara." Jungkook mengerang kesal. "Sekarang aku tanya, apakah kau pernah ke tempat seperti itu?"
Aku menggeleng. Gila saja, kakakku tidak akan pernah membiarkanku datang ke klub, dan sebenarnya aku pun tidak pernah punya niatan untuk masuk ke tempat seperti itu.
"Karena itulah, lebih baik kau tidak perlu ke sana. Memangnya perayaan seperti itu hanya bisa dilakukan di klub malam? Ada-ada saja," kata Jungkook.
"Aku juga sebenarnya tidak mau ke sana, Oppa. Hanya saja, aku sudah berjanji akan datang ke pesta perayaan itu. Aku juga tidak menyangka jika akan diadakan di klub." Aku menatap Jungkook lembut. "Aku hanya tidak ingin mengecewakan Sunji. Dia sahabatku."
Aku melihat Jungkook yang mendesah kasar dan mengusap wajahnya. "Oke. Tapi katakan pada kawanmu jika kalian hanya boleh pergi ke klub Ninety. Hanya klub itu, setuju?"
"Oke, setuju." Senyumku melebar. "Terima kasih, Oppa."
***
"Wow, ternyata kakakmu punya selera klub malam yang sangat bagus," kata Sunji berkomentar.
Aku akhirnya berhasil pergi ke klub ini setelah perdebatan cukup panjang dengan Jungkook.
Pria itu bilang dia akan mengantarku, tapi aku menolak. Gila saja, aku belum siap jika harus memberitahu semua orang kalau Jungkook adalah suamiku. Maksudku, aku memang berniat untuk tidak merahasiakannya, tapi melihat banyaknya fans Jungkook di kampus, aku jadi merasa sedikit takut untuk mengakui hubungan kami.
"Benarkah?"
Sunji mengangguk. "Ini salah satu klub malam terbaik di Seoul. Pemiliknya juga adalah penari terbaik di Korea. Benar-benar keren."
"Wow, terdengar sangat bagus."
"Benar." Sunji meneguk minumannya. "Kau tidak minum?" tanyanya padaku.
Aku menggeleng lemah. Jungkook tidak memperbolehkanku untuk meminum minuman lain selain air putih. Namun, aku juga punya toleransi alkohol yang sangat rendah, jadi kupikir menuruti Jungkook bukan hal yang buruk.
"Tidak, aku tidak bisa minum," ujarku.
"Sungguh? Sayang sekali. Padahal ini sangat enak. Tapi tak apa, daripada kau merasa tidak baik karena alkohol dan berakhir tidak bisa menikmati pestamu sendiri."
Aku tersenyum. "Terima kasih, Sunji. Kau yang terbaik."
"Tentu!" Sunji mengedipkan matanya. "Ah, ayo pergi ke lantai dansa. Aku ingin menari!" Sunji menarik tanganku menuju kumpulan orang-orang itu.
Aku berusaha sebaik mungkin untuk menjauhkan diriku dari kumpulan orang mabuk itu. Sunji sendiri sudah terlihat menikmati pesta itu, mungkin efek mabuk juga. Wah, aku bau tahu jika orang mabuk akan bertingkah segila ini.
Well, aku tahu jika orang mabuk akan betingkah aneh. Aku sering melihatnya di drama. Tapi setelah melihat langsung seperti ini, aku jadi semakin yakin untuk tidak pernah memasukkan minuman beralkohol itu ke dalam tubuhku.
"Hai, manis. Mau menari dengan Oppa?" Seorang pria asing tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinggangku.
Aku jelas saja langsung beringsut menjauh, namun pria itu tetap menahan tubuhku. "Tidak. Menjauh dariku!" Aku mencium bau alkohol yang begitu ketara dari tubuhnya. Hal itu membuat kepalaku pusing.
"Ayolah, kita akan bersenang-senang, hm?"
"Pergi!"
***
Jungkook melepaskan helm-nya dan menaruh benda itu di jok motor. Pria dengan kaos putih dan ripped jeans itu berjalan santai memasuki sebuah klub.
Jungkook segera pergi ke salah satu bar, dimana sahabatnya Jung Hoseok, tengah berada.
"Oi, Jung. Tumben kemari. Katanya setelah menikah tidak mau main lagi ke sini," kata Jung Hoseok setengah menggoda.
"Bukan bermain, aku ke sini sedang mengawasi Nara. Dia diajak temannya untuk berpesta di sini," ujar Jungkook. Ia meminum segelas wine yang dihidangkan Hoseok.
"Oh, jadi benar! Tadi aku merasa jika melihat Nara, tapi kupikir mana mungkin istrimu ada di sini."
"Dia benar di sini, temannya mengajak dan Nara jelas bukan tipe gadis yang tega menolak ajakan sahabat sendiri. Jadi kubilang jika dia hanya boleh datang ke tempatmu," ujar Jungkook.
"Itu bagus. Lebih baik jika di sini. Aku akan mengirim orang-orangku untuk menjaga istrimu."
Jungkook menggeleng. "Tidak perlu, Hyung. Terima kasih. Aku sudah ada di sini. Ini sudah terlalu malam dan kupikir aku harus membawanya pulang."
"Ah, ya! Kau benar. Bawa saja dia pulang, atau Namjoon dan Paman Kim akan membunuhku."
Jungkook tertawa melihat ekspresi Hoseok. "Ya sudah, aku akan mencarinya dulu." Jungkook bangkit dari tempat duduknya dan berpamitan pada Hoseok.
Pria bermarga Jung itu tersenyum dan mengangguk.
Jungkook terlihat sedikit kesusahan mencari istrinya yang mungil di dalam lautan manusia gila yang tengah mabuk ini.
"Pergi!"
Jungkook mengerut saat mendengar teriakan itu. Suara itu jelas adalah suara istrinya, Jungkook hapal bahkan di bawah alam sadarnya. Pria itu mengedarkan pandangan untuk mencari Nara.
"Kim Nara!" Jungkook mulai berteriak. "Kim Nara kau dimana?"
Jungkook masih mencoba mencari istrinya sambil beberapa kali berteriak memanggil.
"Jungkook Oppa!"
Jungkook hampir limbung saat tubuhnya diterjang oleh seseorang. Ia melihat Nara yang tengah menangis dan memeluknya erat. Gadis itu bahkan menyembunyikan wajahnya di dada Jungkook.
"Hei, hei, kenapa?" Jungkook mencoba menenangkan gadisnya. Ia menangkup wajah Nara yang sudah berantakan karena air mata.
"Oppa, aku benci tempat ini. Aku mau pulang, ayo pulang!" rengek Nara. Gadis itu kembali menenggelamkan wajahnya di dada Jungkook.
"Iya, iya, baiklah. Kita pulang. Jangan menangis, hm?"
Jungkook mengusap-usap punggung istrinya, berusaha menenangkan.
"Kim Nara! Kau tidak apa-ap---Jeon Gangsanim?!"
Shit. []
***
Woaahh, makasih atas ucapan selamatnya, guys! Aduh, gue terhura sama wish kalian semua loh, walaupun kebanyakan wish nya supaya gue update teratur. Ya itu sih enak di eloh gak enak di gueh dungseu wkwkwkwk
Tapi gpp, gue tetep makasih banyak sama kalian. Makasih udah mampir ya ^^
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, Mr. Jeon
Fanfiction"Because she thought that she was nothing even though she was something." Kadang, Nara bertanya-tanya dalam hatinya, bagaimana dia bisa menikah dengan pria sekeren Jeon Jungkook? Apa yang Jungkook lihat dari gadis biasa-biasa saja sepertinya? Namun...
