One Sadness

918 71 1
                                        

...
...
Selama bertahun-tahun aku selalu percaya bahwa apa yang dilakukan kedua orangtuaku adalah yg terbaik.
Aku yakin pada mereka dan bersedia untuk tinggal sendiri jauh dari masyarakat.

Aku selalu menunggu, bersabar, berharap semua yg sudah aku korbankan akan berbuah indah.
Ramalan yg selama ini kami coba untuk hindari, mesti aku tak tau persis seperti apa mitos itu.

Tapi, sudah belarut aku memendam hasrat diriku. Aku ingin, sungguh ingin keluar dari hidupku yg hampa ini.
Aku ingin seperti mereka, tinggal bersama kedua orangtua mereka dan menghabiskan waktu mereka untuk bersenang-senang, berinteraksi, menemukan kesibukan-kesibukan yg membuat mereka lupa untuk pulang.

Aku, tidak bisa menunggu lagi.
"Pangeran Yoon gagal menjadi Raja"
Sudahlah, aku tak mau menunggu lebih lama lagi.
Sudah cukup aku bersabar selama ini.

Tolong beritahu aku, apa isi dari ramalan yg kau takutkan?
Aku akan berusaha untuk menjaga diriku sendiri dan aku akan mencoba untuk mematahkan ramalan itu dengan caraku sendiri.

Tapi,
Kim Sin ? Apa ini ? Bagaimana bisa ada seorang wanita yg mengaku diriku ?
Ataukah aku yg diakui sebagai dirinya?

Ibu , ayah tolong beritahu aku ?  Kenapa seperti ini ?

...

Di malam ini, di istana, di tempat peristirahatan para pelayan, Sin hanya duduk termenung memandangi cahaya bulan.

"Begitu biru dan cantik" ucapnya

Tetap dengan saputangan matahari milik Jin yg melingkar di wajahnya.
Biarlah, untuk sekarang Sin tak ingin memikirkan lebih. Biarlah, biarlah dia mencoba untuk menjadi seorang pelayan.

Sin sudah tak sanggup untuk tinggal menyendiri.

...

"Apa yg kau lakukan ?"

"Pangeran?" Sin spontan berdiri dari duduknya

"Sstt, jangan berisik. Tenanglah" kemudian Jin duduk di sebelah Sin

"Kau tidak pantas untuk berada disini Pangeran"

"Nah, sekarang kau sudah berlagak sebagai pelayan, haha" Jin tertawa
"Jika tak ada siapa-siapa disini, kau jangan memanggilku pangeran. Panggil saja namaku"

"Bagaimana bisa aku memanggilmu begitu, kau sudah menyelamatkanku"

"Malah karena aku menyelamatkanmu, kau harus menuruti permintaanku"

"Heeh," Sin tersenyum
"Baiklah Jin"

"Kau tau, pertama kali aku melihatmu. Kau sedang menatap danau, dan sekarang kau menatap bulan"

"Bulan malam ini begitu sangat indah"
Jawab Sin kemudian kembali menatap bulan

"Apa, danau pada saat itu juga sangat indah?" Tanya Jin

"Yah, sangat indah. . ." Sin kemudian teringat dengan dirinya yg mencoba berkali-kali untuk bunuh diri di danau itu.

"Kau tau, aku begitu sangat menyukai hal-hal cantik seperti pemandangan malam ini"

"Tipikalmu sangat bertolak belakang dengan pangkatmu sebagai pangeran"

"Aku adalah putra mahkota dulunya"

"Kau?" Sin terkejut dengan pernyataan Jin
"Tapi, aku dengar pangeran Yoon yg akan menjadi Raja?"

"Kau benar, karena aku tidak bisa menjadi Raja"

"Kenapa?"

"Karena aku sakit, aku diracuni saat aku kecil. Aku hampir mati saat itu."
"Kau tau, mati itu mengerikan"
"Ntahlah, tapi rasanya seperti seluruh dunia menjadi gelap"
"Semua orang meninggalkanmu sendirian"
"Menakutkan dan menyedihkan sungguh ..."

Mendengar kata-kata Jin, membuat Sin merasa sedih. Karena benar, semua orang telah meninggalkannya sekarang bahkan sebelum Sin mati.
Seluruh dunianya memang sudah gelap, tak ada warna dan yg ada hanyalah penantian palsu.

"Kau kenapa menangis?" Jin mulai khawatir melihat air mata Sin

"Aku ... juga pernah merasakannya, karena aku ... selama ini sudah mati"
Sin menatap jin menangis

Jin tau, bahwa mereka memiliki masalah yg sama.

"Aku selalu ingin mati, hidupku begitu mengerikan. Terulang dan mengulang kejadian yg sama setiap hari. Aku mencoba untuk membunuh diriku setiap hari" jelas Sin menatap Jin sambil menangis

Jin meraih wajah Sin dan membuka maskernya. Jin menatap Sin, Jin tau bahwa wanita ini sesungguhnya berbohong tentang apa yg sudah ia katakan sebelumnya. Jin tau, bahwa masalah Sin bahkan lebih besar. Bahkan sekarang Sin mengatakan hal-hal aneh. Jin sudah tau, semenjak pertama melihatnya.

"Aku tak ingin mati, walaupun kematian selalu datang padaku, berharap bahwa aku akan menyerah dan mengikutinya. Aku tak akan, aku akan bertahan walau harus merasakan pahit setiap hari"

"HanDal-shi, hidupmu begitu berarti. Setiap harimu sangat berharga"
"Tolong jangan membunuh dirimu sendiri"
"Jika kau beranggap bahwa semua orang meninggalkanmu"
"Tidak, sekarang aku ada disini"
"Aku tak tahu seperti apa masalalumu"
"Tapi, tolong lupakanlah"
"Jadilah pribadi yg baru"
"Jadilah seperti yg kau inginkan"
"Aku akan ada disisimu, hiduplah"
"Kau terlalu berharga"

"Hiks" air mata Sin sudah tak bisa terbendung lagi. Semuanya meluap dengan kata-kata Jin.
Kata-kata yg selama ini ingin Sin dengarkan. Sin tidak ingin sendiri lagi, Sin tak ingin ditinggal lagi.

Sin tak mengerti, karena Jin adalah orang baru yg ia kenali. Tapi, ntah kenapa tatapannya, perkataannya begitu sangat menyentuh hati Sin.
Harusnya ia tak percaya.
Tapi, hatinya menunduk dan melepaskan kegundahannya.

Malam ini, di bawah cahaya bulan. Sin terisak menangis di depan seorang pria yg baru saja ia kenali.

...
...

Blue MoonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang