Hinata's pov.
Setelah Mengetahui fakta bahwa mantan pacarku adalah seorang agen rahasia,kakak ku ternyata masih hidup dan menjadi seorang kriminal,sekarang tunangan atau mantan tunanganku berdiri di depanku,muncul dari lantai rahasia bawah tanah rumah kakaku.
Betapa hebatnya hidupku.
"Ehem"Naruto menyela"Jadi,bisa kau jelaskan?"tanyanya pada Kiba.
Kiba meringis menahan rasa sakit lalu kami baru menyadari bahwa tubuhnya penuh lebam bekas pukulan yang sepertinya bukan hanya pukulan tangan.
Dia bersandar namun kehilangan keseimbangan,dan aku spontan menangkap tangan Kiba.dia terbatuk,ada darah keluar dari mulutnya "Apa yang kalian lakukan disini? kupikir kalian sudah pergi ke Amerika".ujarnya susah payah.
"Apa maksudmu?"tanyaku.
Kiba menggeleng lalu membuka tanganya yang sedari tadi dikepal dan menunjukan sebuah sd card "semua yang ingin kau ketahui ada disini..tapi untuk sekarang kalian harus kabur darisini".
Kata-kata itu memancing Naruto "Kenapa?".
Kiba tertawa pahit "Neji sudah gila"ujarnya lalu menatapku lesu sementara wajahnya semakin memucat dan dia semakin sering mengeluarkan darah di batuknya"Aku tak mau dia melukaimu..dia tak seperti yang kau pikirkan".
Kiba mengerang.
Rasa penasaranku berubah menjadi rasa khawatir "Apa kau baik-baik saja".
Naruto mendekati kami lalu dia memperhatikan Kiba intens dari mulai luka do tubuhnya sampai darah yang Kiba keluarkan dari batuknya "Ini bukan karena luka luar"gumamnya"Kau di racuni?"tanya Naruto.
Kiba menyeringai menunjukan gigi putihnya yang ternodai oleh darahnya sendiri "Kau benar-benar agen yang hebat".
Aku mematung lalu menatap Naruto penuh harap "Apa dia bisa diselamatkan?".
Naruto menggigit bibir bawahnya lalu menatapku dengan penuh penyesalan "Melihat kondisinya saat ini dia bisa bertahan selama satu jam".
Air mata menetes dari pelupuk mataku Kiba menatap Naruto sesaat "tuan Uzumaki,apa aku bisa bicara sebentar denganya?"tanyanya.
Naruto mundur menjauh dari kami dan aku dapat merasakan ketidaksukaanya pada permintaan Kiba,tapi dia tetap melakukanya mengingat itu permintaan pria sekarat.saat ini dia berdiri di dekat pintu mengawasi keadaan luar.
Kiba menyeka air mataku meski aku yakin sulit baginya untuk bergerak "aku tidak yakin kau akan tetap menangisiku setelah melihat isi benda ini"ujurnya sambil menyerahkan sd card itu ke tanganku "Tapi terimakasih..".
"Larilah..jangan percayai apapun yang kakakmu katakan..."gumam Kiba "Pergi dari tempat ini secepatnya bersama pria itu, bersembunyilah dan jangan sampai Neji mengetahui keberadaan kalian".
Kiba mengusap pipiku "setelah kau melihat isinya..berjanjilah padaku kau tidak akan marah..karena apapun yang terjadi apa yang kulakukan untukmu bukanlah kepalsuan".
Aku tidak benar-benar mengerti apa maksudnya..tapi aku mengangguk.
Dia menatap Naruto yang memperhatikan kami di ambang pintu lalu mengkodenya untuk mendekat.Naruto maju beberapa langkah untuk mendengarnya.
"Bersumpahlah demi nyawamu kau akan melindunginya apapun yang terjadi"desis Kiba.
Naruto tersenyum tipis "Aku bersumpah".
Kiba menatapnya sesaat "Sekarang akhiri aku..aku tak yakin aku bisa menahan sakitnya selama 1 jam kedepan".
Naruto menghela nafas berat lalu mendekat dan mengangkat tubuh Kiba sedikit dan berdiri di belakang tubuh Kiba dengan kedua tanganya ada di kepala pria itu.
