A Starting of New Life Pt.2

2.3K 257 46
                                    

Brak!

Plan yang sedang pulas tertidur terkejut mendengar pintu kamar nya di gedor dengan sangat kuat.

Ia melihat ke arah jam dinding nya dan melihat jarum pendek di arah angka 2.

"Siapa tengah malam begini.." gumam Plan.

Ia mendengar lagi pintu nya seperti akan di dobrak. Membuat nya bergegas turun dari tempat tidurnya untuk memeriksa siapa yang membuat keributan itu.

"Kak Mean?!" Plan terlihat kaget melihat Mean berdiri di depan kamar asrama nya memegang botol beer yang sudah kosong.

Mean tak merespon. Ia hanya menundukkan kepala nya.

"Kak... masuk lah. Kau kenapa?" Tanya Plan takut.

Mean dengan sisa kesadarannya, mendorong tubuhnya sendiri ke dalam pelukan Plan dan menjatuhkan botol beling yang ia pegang, beruntung botol itu jatuh tepat di atas karpet lantai kamar Plan sehingga tidak pecah.

Mean menyandarkan dagu nya di bahu kanan Plan.

"Kak..." Plan mendorong pelan tubuh Mean.

"Sebentar saja... aku sangat lelah..." bisik Mean pelan dan mempererat pelukan nya.

Plan bisa mencium aroma alkohol dari hembusan nafas Mean.

Cukup lama mereka terdiam dengan posisi seperti itu.

Plan senang akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan Mean setelah sebulan ia tak menampakan batang hidung nya.

Tapi ia tidak suka dengan kondisi Mean saat ini.

Mabuk dan penuh luka.

Plan masih tidak tahu siapa sebenarnya Mean. Apa pekerjaan nya. Siapa keluarga nya.

Tapi yang Plan tahu, dia senang melihat Mean lagi...

----

"Minum air hangat ini dulu, kak." kata Plan menyodorkan secangkir air hangat kepada Mean.

"Terima kasih." jawab Mean tersenyum kecil dan menerima cangkir pemberian Plan.

Tangan mereka bersentuhan,

'Tangannya dingin sekali.' Batin Plan.

Plan kemudian mengambil sekantung es batu dan ditempelkan ke pipi Mean.

"Plan..." kata Mean memecahkan keheningan di antara mereka.

Plan mengangkat kedua alis nya untuk merespon.

"Aku lelah hidup seperti ini."

"Maksudmu, kak?"

"Aku tidak ingin berkelahi seperti ini terus. Aku ingin hidupku menjadi lebih baik. Bantu aku, Plan." kata Mean menggenggam tangan Plan yang sedang ada di pipinya.

Dan malam itu, Mean menceritakan tentang nya.

Ia menceritakan semua tentang dirinya yang menjadi seorang anak pemberontak setelah ibu kandung nya tidak ada.

Mean berterus terang pada Plan siapa keluarga nya. Betapa Mean sangat membenci Ayah nya yang menikah kembali dengan wanita lain yang tidak lebih baik dari ibu kandung nya.

Plan mendengarkan cerita Mean. Ia bisa merasakan kepedihan pria yang masih ia anggap sebagai orang asing itu.

------

Our DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang