Chill tak menjawab lagi pertanyaan Micha, tentang di mana biasanya berjumpa dengan Alanza. Gadis kecil yang dikucir kuda itu telah menyandarkan kepalanya di bahu Micha dengan mata terpejam. Micha menghela napasnya, keinginannya kali ini entah seperti besok akan kiamat, maka dari itu harus menemukan wanita cantik itu sekarang juga. Micha mencari lift turun ke basement Marisa Mall, Ia masuk dengan beberapa pengunjung wanita dewasa yang bergerombol, menenteng tas karton bermerek yang sama. Salah satunya tersenyum ke arah Micha, kembali melihat ke depan dan menoleh lagi.
"Anaknya cantik, kalau melek pasti makin cantik." Wanita itu membicarakan Erchilla.
"Iya, terima kasih." Micha tersenyum tipis.
Wanita itu melangkah mundur selangkah, melihat Micha dari ujung rambut sampai kaki kemudian menggigit bibirnya yang bergincu merah menyala.
"Sendirian saja?" tanyanya.
"Tidak juga, isteri dan lima anak saya yang besar-besar sudah di bawah, Bu." Micha menjawab frontal.
"Sebesar apa?"
"Si kembar pertama sudah SMA, si kembar kedua sudah SMP ini yang paling kecil, yang ke enam masih di kandungan." Micha menjawab sambil tersenyum bahagia.
Dua wanita berdandan mewah di depan keduanya pun tertawa kecil menoleh bersamaan ke belakang, menertawakan teman mereka yang mendekati Micha. Denting lift menyita perhatian semua orang di dalam dan Micha menyerobot keluar lebih dulu dengan alasan isterinya menelepon. Di belakang Micha, tiga wanita dewasa itu tertawa cekikikan bersama.
"Aduh, kirain masih satu anaknya, eh mau enam! Gila, beranak mulu tuh bini! Top cer tuh benih!"
"Kirain duda anak satu, gue udah mau daftar tadinya! Cakep say!"
"Idem! Eh, ternyata bapak-bapak anaknya bejibun, urung deh!"
"Kasihan kau, Jeng. Gagal dapat lelaki keren."
"Biarin deh, daripada ngurus enam anak, gila aja!"
Percakapan itu membuat Micha geli, sekaligus menatap Erchilla yang tidur nyaman di dalam dekapannya. Ia mengelus punggung Erchilla sebelum menaruhnya di jok mobil, memasang sabuk pengaman barulah Ia memutari mobil dan masuk. Ia tak mau dipergoki wanita-wanita kurang belaian itu kalau sudah berbohong. Tapi, dalam hati Ia ingin punya isteri yang setia dan punya anak enam sungguhan.
Tapi, ada perasaan lain yang mengganjal pikirannya sejalan dengan laju mobilnya menuju rumah. Bahwa, dirinya adalah duda beranak satu. Itu adalah fakta, meski dirinya yakin masih banyak wanita di luar sana yang mau menikah dengannya, hanya saja ini soal hati, hati Micha telah dicuri Alanza sejak melihat wanita itu bergalau ria di restoran, mengaduk-aduk minuman sambil mengomel tak karuan.
"Apa dia mau terima aku yang berstatus duda anak satu? Gimana kalau dia nolak karena Erchilla? Tapi, dia kulihat sangat menyukai Erchilla, semoga saja aku segera menemukannya, aku mau ungkapkan perasaanku ke dia. Demi Erchilla punya mama baru." Micha melihat sekilas ke arah Chilla dan kembali fokus menyetir.
Di rumah, Nenek Ash mondar-mandir di ruang tamu, sesakali melihat ke arah pintu utama yang terbuka lebar. Ia melihat arloji dan jam dinding ruang tamu, sama-sama menunjukkan angka pukul sepuluh lewat tiga puluh lima menit. Ini bukan waktu yang tepat untuk pergi membawa anak kecil berusia tujuh tahun kelayaban di luar bukan? Ashmiranda lega ketika mendengar deru mobil Micha mendekat dan berhenti, lelaki itu keluar menggendong Chilla masuk ke dalam.
"Kau itu dari mana saja sih, Mic! Tidurkan dia dulu," pinta Nenek Ash pada menantunya.
Micha tak menjawab, hanya melepaskan sepatu Chilla, segera melangkah ke kamar Chilla dan menidurkannya. Mertuanya menyelimuti Chilla dan mencium kening Chilla dan mengikutinya ke ruang makan, Ia mengambil air minum dari lemari pendingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Whiffler [END]
Romance21+ | Update Sebisanya | Terhubung dengan Equanimous #3 "If distance is what I have to overcome to be with you, then give me a map. I am going to find you." Erchilla hanyalah gadis kecil yang berpikir sederhana, polos dna ceria. Tetapi, di balik kec...
![Whiffler [END]](https://img.wattpad.com/cover/162803813-64-k984229.jpg)