17. Lebih Baik (REVISI)

1.2K 157 21
                                        

Iya oke, gue akuin. Gue dulu suka sama Kak Adrian, tapi sekarang udah beda. Gue cuma nganggep dia sebatas kakak kelas gue. Gimana dong? Kalo gue tolak kasian dianya, kalo gue terima, Malik gimana? Tapi, kenapa gue jadi mikirin Malik? Batin Ara menanya nanya pada dirinya sendiri.


Ia takut jawabannya akan melukai salah satu hati seorang pria, entah pria itu Malik atau Rian. Dan ia takut, bahwa jawabannya akan mengecewakan orang lain.

Sebenarnya, ia ingin membuktikan pada Malik, bahwa dirinya juga bisa dekat dengan lelaki lain, contohnya dengan Rian.

Tapi, ia berfikir, jika ia membalas apa yang Malik lakukan, sama saja dong dirinya dengan Malik?

"Ra? Kok diem aja?" tanya Rian membuat Ara sadar sedari tadi ia hanya diam saja mendengar bisikan setan dan malaikat.

"Eh, anu emm, gitu." ucap Ara gelagapan lalu menggaruk lehernya yang tak gatal.

"Terus gimana? Mau gak jadi pacar gue?" tanya Rian lagi.

Ara pun menghela nafas panjang, berharap jawabannya tidak mengecewakan. "Gue mau kak..." jawabnya lalu tersenyum.

Mendengar jawaban itu membuat tubuh Rian kaku dan mata Hilda membulat sempurna, seolah mereka tidak percaya dengan jawaban Ara.

"Seriously?" tanya Rian lagi dengan senyumannya.

Ara pun mengangguk mantap, sedangkan Hilda? Entah lah, ia tak bergeming sedari tadi.

Setelah berbincang-bincang cukup lama, akhirnya Ara dan Hilda berpamitan pulang. Karna, hari sudah mulai gelap.

"Assalammualaikum!" ucap Ara dan Hilda sesampainya dirumah Ara.

Karna hari ini juga hari terakhir Hilda menginap dirumah Ara. Karna, menurutnya keadaan sahabatnya sudah lebih baik dari sebelumnya. Ia juga tidak mau merepotkan keluarga Ara dengan ada dirinya. Malam ini juga, Hilda mengkemaskan barang barangnya, dan besok pagi ia akan berpamitan pulang ke rumahnya.

"Yahh, udah mau pulang ya non?" tanya Bi Jiah saat melihat Hilda mengemaskan barangnya.

"Ehh- iya nih, Bi. Yang penting Ara udah lebih baik. Maafin Hilda ya, bi. Kalo selama nginep disini ngerepotin Bibi." ucap Hilda lalu tersenyun ramah.

"Ahh- gak papa kali non, Bibi aja seneng non nginep disini. Baru seminggu nginep udah balik, sebulan dong non nginepnya." ucap Bi Jiah dengan nada ber gurau.

"Lahh, itu nginep apa ngungsi, bi?" tanya Hilda dengan nada jenaka membuat Bi Jiah tertawa.

Bi Jiah pun segera turun ke bawah, karna tak mau menganggu tamu yang akan segera pulang. Sedangkan Hilda, ia sudah selesai mengemasi barang dan berniat tidur seraya menunggu Ara selesai mandi.

----

Kringgg... Kringgg... Kringgg...

Alarm pada jam beker Ara berbunyi tepat pukul 05 : 00 AM. Namun pemilik jam beker masih tertidur pulas dengan alam mimpinya sedangkan Hilda ia sudah bangun mendengar suara nyaring itu.

"Araa! Bangun. Sholat subuh dulu kek." Hilda pun yang awalnya mengguncang bahu Ara pelan kini sudah lebih kencang karna gadis pemalas ini tak kunjung bangun.

"Araaaaa! Astagfirullah, punya sahabat teh kerjaannya tidur mulu." Hilda pun sudah tak tau bagaimana harus membangunkan Ara.

Akhirnya Hilda mengambil jam beker Ara, membunyikan alarm dengan suara paling nyaring, dan ditaruh tepat pada telinga Ara. Membuat gadis pemalas itu bangun dan mukanya, sangat terkejut pastinya.

FriendzoneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang