1 - Dia yang Banyak Bicara

82 12 3
                                    

Pagi ini dia telat bangun. Gara - gara kepikiran perempuan itu. Sungguh sedih hatinya sejak diselesaikan oleh perempuan itu. Paginya hampa, tak ada lagi ucapan selamat pagi untuknya. Mungkin salah satu alasannya bangun kesiangan karena tidak ada lagi yang membangunkannya. Sebelum hari neraka itu, perempuannya selalu membangunkannya dengan menelpon. Rajin sekali setiap pukul 5.00 ia selalu menerima telpon. Namun sekarang tak ada lagi hal itu. Mungkin juga karena dia kepikiran menabrak anjing galak sekolah.
.
.
.
"Selamat pagi Okaaaa~"

"Pagi ganteng"

"Hai ganteng, kok tumben baru disekolah jam segini?"

"Apasih, ganteng darimana tu orang?" Celetuk sang anjing galak.

"Eh elu, ngiri aja sama orang ganteng kaya gua. Kata Oka". Sahut salah satu teman si anjing galak.

"Kenapa elu yang nyahut ogeb."

Tentu saja Oka tak mengindahkan omongan mereka, Oka anggap hanya gonggongan yang tak berguna.

.
.
Saat masuk kelas pun banyak yang memperhatikannya. Tentu saja, sekali lagi tentu saja, bukan hanya kaum hawa, kaum adam juga banyak yang meliriknya.
Pastinya Oka tidak mempedulikan hal itu, hal itu sudah menjadi makanan sehari-harinya.
Bel masuk berbunyi, teman sebangkunya belum juga datang. Rasanya sunyi tanpa biang kerok itu.

.
"Selamat pagi anak-anak"

"Selamat pagi bu."

"Berhubung kelas XI-A sedang tidak ada guru yang mengajar, Ibu minta kalian berbagi tempat dengan mereka. Kebetulan jam pertama mereka sama dengan kalian."

"Baik bu."

Tak banyak yang masuk ke dalam kelas itu, ternyata sebagian siswanya diungsikan ke kelas lain. Mungkin agar kelas itu tidak terlalu penuh.

.
.
Seseorang menghampiri Oka, bukan, tetapi 2 orang menghampirinya. Oka tahu orang ini, dia atlet karate terbaik di sekolah, maaf maksud saya, terbaik se-kecamatan. Satu orang lagi, siapa? Sepertinya Oka pernah melihat orang ini, atau hanya perasaannya saja?

.
"Hi, numpang duduk ya, kursi lain sepertinya penuh." Sapa Ardi, atlet karate terbaik se-kecamatan.

"Iya silahkan."

.
Seperti namanya XI-A, sudah pasti kelas unggulan. Terbukti dari soal yang diberikan Ibu Guru sudah terjawab oleh mereka. Oka sepertinya tidak mau kalah, ini kelasnya, harusnya dia yang berkuasa. Namun, hal ini tidak dapat Oka tunjukkan karena dia kalah cepat dengan orang yang duduk disampingnya.

.
"Ternyata kau pintar juga, kukira kau bodoh. Biasanya orang yang terlalu tampan akan bodoh. Karena kelebihannya sudah ada pada wajahnya, sepertinya kali ini aku salah. Hanya saja kau sangat lambat dalam mengerjakan soal mudah seperti ini."

Sebentar. Sebentar, Oka tidak bisa fokus akan pelajaran karena ucapan orang tadi. Siapa? Ardi? Bukan suaranya tidak seberat milik Ardi.

"Aku yang berbicara, kau bingung? Bodohnya keluar loh."

"Diam. Aku memang bodoh, kau diam saja."

"Ah iya, kau habis putus ya? Pantas saja wajahmu sangat kusut, maka dari itu, kita dilarang untuk menjadi sombong karena ini lah jadinya."

"KUBILANG DIAM KAU BANYAK BICARA AKU JADI TAK FOKUS BELAJAR!"

"Oka? Ada apa?"

"Maaf bu, saya tidak enak badan. Saya izin ke UKS bu."

"Baiklah, kembali jika kamu sudah mendingan."

"Bu, biar saya yang mengantar."

"Baik Ardi, kamu antar Oka ke UKS."

Glad.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang