lima ; Doci & origami

60 13 0
                                    

Gitar hitam yang sedari tadi berada dipangkuan Bara membisu. Pemiliknya seolah tidak tertarik lagi memetik senar gitar kesayangannya itu. Pikirannya jauh berkelana pada kejadian tadi pagi, tentang pertikaian antara Raya dengan Vio, melihat Rindu dengan cairan merah dikepala dan kemejanya akibat ulah Vio yang entah mengapa membuat Bara tak senang, hingga yang dengan tiba-tiba saja dirinya memberikan Rindu jaket untuk menutupi kemeja kotornya.

Bara termasuk orang yang tidak suka jika barang apapun miliknya disentuh orang lain. Tapi kepada gadis itu, Bara bahkan tidak merasa keberatan sama sekali. Siapa lo sebenernya?

Bara dan Rindu tidak saling mengenal, mereka hanya tahu sebatas nama dan beberapa kali semesta membuat hari-hari mereka bersinggungan. Hanya sebatas itu, namun mengapa Bara harus repot-repot memikirkannya?

Pria itu mengusap wajahnya kasar, kesal karena segala pertanyaan dalam benaknya tak kunjung ia dapatkan jawabannya.

Bara bangkit dari posisinya, berjalan menuju nakas disamping tempat tidur untuk mengambil sesuatu disana.

Sebuah kotak besar, dengan puluhan origami berwarna-warni didalamnya.

Bara tersenyum singkat menatap kertas origami itu, pikirannya jauh mengawang pada kilasan silam belasan tahun lalu.

Pria kecil dengan topi kerucut khas ulang tahun itu mencebikkan bibirnya kesal. Ia menyilangkan tangannya marah, sedangkan gadis dihadapannya hanya tersenyum kecil sebagai tanggapan.

"Kamu benelan malah?"

Bara kecil tak menjawab, menegaskan pada temannya itu kalau dia memang benar-benar marah.

"Lindu minta maaf deh."

"Kamu harusnya datang ke ulang tahun aku!"

Gadis kecil dihadapannya terlihat sedih, ia menundukkan wajahnya dalam, "Lindu mau datang, t-tapi pasti banyak olang disana, a-ayah lindu juga nggak izinin."

Suara gadis itu bergetar, membuat Bara kecil terkesiap karena sadar membuat temannya itu menangis. Ia menyentuh pudak gadis itu pelan, sembari berujar tak enak, "Maafin aku, ya? aku nggak jadi marah kok, jangan nangis."

Mendengarnya, gadis kecil itu mengusap matanya dengan lengan, kemudian menatap Bara kecil kembali sumringah.

"Benelan?"

Bara mengangguk kecil, kemudian merebut paksa kotak hitam yang sedari tadi Rindu dekap. "Ini buat aku, kan? Hadiah ulang tahun dari kamu?"

Gadis itu mengangguk semangat, air matanya sudah tidak ada lagi sekarang, digantikan senyum malu-malu yang setelahnya ia tunjukkan.


"Disana ada kaltu ucapannya, jangan sampai hilang! Itu tulisan peltama Lindu."

Bara meraih amplop merah muda diantara origami berwarna-warni itu. Ia membukanya sangat perlahan dan hati-hati seolah akan sobek jika sedikit saja ia salah menyentuhnya.

Segala macam gambar yang berhubungan dengan ulang tahun tertuang dikertas berwarna kuning, dari gambar kue ulang tahun bertingkat, balon gas yang digabung menjadi tiga, hingga pita besar yang disimpan di pojok kertas. Juga tak lupa sebaris tulisan sederhana khas anak kecil yang selalu membuat Bara tersenyum.

SELAMAT ULANG TAHUN, DOCI!


SEMOGA KAMU NGGAK MARAH-MARAH TERUS, YA!


HADIAHNYA RINDU KASIH ORIGAMI WARNA-WARNI, SENGAJA BIAR DOCI NGGAK CUMA SUKA WARNA HITAM. HEHE!



- RINDU.

****

"Kamu mau masuk dulu? Yuk!"

Rindu untuk BaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang