“Jadi siapa yang mau buka suara duluan untuk menjelaskan?” Pria paruh baya dengan rambut yang hampir seluruhnya memutih itu menatap tegas kedua siswa di depannya. Namun tidak juga ada yang mau membuka mulut. Kali ini Pak Henda—kepala sekolah Bakti Jaya—mengalihkan atensinya pada salah satu pria jangkung yang memiliki luka paling parah di wajahnya. “Kamu yang memukul Bara duluan, Dio?”
“Dia yang mukul saya duluan, Pak!” Merasa benar, Pria dengan nama Dio menyanggah tidak terima. “Dia yang tiba-tiba maju dan mukul wajah saya. Saya cuma berusaha buat melindungi diri.”
Kali ini Hendra menggerakan wajahnya, beralih menatap pria dengan luka serupa yang terlihat tidak peduli sama sekali. “Apa itu benar, Bara?”
“Benar.”
“Jadi bisa tolong kamu jelaskan apa alasan kamu bertindak diluar batas seperti tadi?”
Bara mengangkat bahunya acuh, “Karena saya marah?”
“Apa yang buat kamu marah hingga melukai orang lain?”
Bara tidak menjawab, dia hanya memutar bola matanya jengah ingin cepat-cepat ini berakhir. Amarahanya sudah ia salurkan langsung pada keparat disampingnya. Setelah ini, kalaupun dia harus mendapat hukuman atau bahkan dikeluarkan dari sekolah, Bara akan terima.
“Saya sedang bicara dengan kamu, Bara. Bisa tolong hiraukan pertanyaan saya buat kali ini?”
Sebelum pria itu benar-benar membuka mulutnya, suara ketukan di pintu ruangan kepala sekolah terdengar, dan orang yang selama ini tidak pernah Bara harapkan kehadirannya menjulang tinggi di sampingnya. “Maaf Pak Hendra, bisa saya yang tangani masalah ini langsung?”
Hendra terlihat kaget untuk beberapa detik, namun senyum lebarnya kembali terlihat saat Wira mengatakan ia harus ikut andil dalam perkara di sekolah ini sebagai pemilik sekolah. Namun jauh dari alasan itu, Kepala sekolahnya ini tahu betul apa maksud Wira ikut campur.
Merasa harus menyerahkan perkara ini, Hendra pamit keluar dari diskusi digantikan Wira yang kini menepati kursi kepala sekolah. Bara memandang sekitar, kemana saja asal tidak pada sepasang netra gelap yang serupa dengannya itu.
“Baiklah—“ Wira membenarkan letak kacamatanya sebelum kembali memusatkan atensinya kedepan. “Apa yang jadi masalahnya?”
“Di-dia mukul saya, Pak.” Dio terlihat gugup, susah payah menelan salivanya jika berhadapan dengan kharisma Adyaksa langsung.
“Baik. Apa yang kamu lakukan sampai dia mukul kamu?”
“Saya cuma minta tolong sama dia buat beliin makanan di kantin. Tapi nggak tahu apa yang dia pikirkan sampai berani memukul saya di hadapan orang banyak.”
“Berhenti buat drama, setan!” Bara memutar wajahnya merasa dipojokkan, mencengkram kerah kakak kelasnya itu dengan kesal. “Lo yang paling tahu kenapa gue sampai semarah ini!”
“Baik. Cukup, Nak. Lepaskan tangan kamu.” Wira menengahi. “Apapun alasannya, melukai orang lain tidak pernah menjadi jalan keluar terbaik. Sekarang tolong beri tahu Bapak kenapa kamu mengangkat tangan dengan mudahnya pada teman sendiri? Kamu tidak akan memukul seseorang tanpa alasan, bukan?”
“Segala hal bisa diselesaikan dengan cara baik-baik, kekerasan tidak selamanya bisa dijadikan sebagai pemecah masalah. Sekarang, untuk bisa temukan titik terangnya, bisa kamu jelaskan kenapa kamu semarah ini?”
Bara yang sedari tadi mehanan kesal, menghantam meja di depannya dengan kasar. Menunjuk dirinya sendiri dengan luapan penuh emosi. “KARENA SAYA BUKAN ANAK HARAM!
“Peduli setan bagaimana orang memaki saya, bahkan saya nggak peduli kalau semua orang membenci saya, tapi saya bukan anak haram.”
Bara yang terlanjur kembali meradang mengalihkan kereleng tajamnya menatap Dio, menarik kerah seragamnya hingga cowok itu ikut berdiri dihadapannya. Satu pukulan terakhir mendarat manis di rahang kiri pria itu, terjerembab, meringis, namun Bara tidak perduli. “Sekali lagi lo ulangi, bukan cuma wajah, kaki lo gue patahin!”
*************
Pening. Gadis bersurai panjang itu mengerjap pelan menyesuaikan bias cahaya disekitar ruangan. Tidak ingin banyak bergerak, dia kembali memejam, memutar ulang ingatan tentang apa saja yang sudah terjadi hingga dia berakhir tidur di ruang UKS.
Hhhh, benar. Rindu menghela nafas panjang. Tubuhnya masih lemah jika disajikan aksi laga seperti tadi. Melihat dua orang saling memukul, berteriak, hingga terjatuh, membuat benaknya dengan tidak sadar mengulang kembali memori lama. Rindu…. payah.
Air mata merembes deras dari kedua matanya yang masih saja terpejam. Dia malu pada Raya. Dia malu pada semua orang yang setelah ini pasti memandangnya gadis aneh. Rindu autis, Rindu anti sosial, Rindu cewek cengeng, Rindu manusia aneh. Apa… Rindu bisa melewati itu untuk kesekian kalinya?
“Ibu….” Rindu berbisik parau. Jika sedang begini, satu-satunya hal yang Rindu inginkan adalah berlari ke dalam pelukan Sekar, meraung pilu sembari mengadu apa yang dia rasakan.
Dia ingat sekali saat Raya menariknya membelah kerumunan, tubuhnya tremor tapi tidak bisa berbuat apa-apa, hingga melihat Bara memukul telak rahang dari rivalnya… Rindu tidak ingat lagi apa yang terjadi setelahnya.
Setelah ini, apa yang harus ia lakukan? Bagaimana caranya dia berhadapan dengan Raya nanti? Apa setelah ini… Raya tidak ingin menjadi teman Rindu lagi?
Rindu merepotkan.
Satu dehaman berat terdengar. Rindu menoleh kearah sumber suara. Mata basahnya melotot sempurna saat mendapati pria jangkung yang entah sejak kapan berada tidak jauh dari posisinya.
Bara mendekat, menarik kursi didekatnya dan duduk di samping gadis yang kali ini kembali menutup wajah dengan tangannya sendiri.
“Raya bilang lo nggak jadi makan karena insiden tadi.” Rindu membuka telapak tangannya, menghapus cepat jejak air mata diwajahnya. “—Maaf.”
Bara memang benar tentang Rindu tidak jadi ke kantin karena Raya menariknya menonton perkelahian pria itu. Bara juga benar tentang alasan Rindu berakhir di ranjang UKS ini adalah karena pertunjukkan aksi laganya dengan kakak kelas itu. Tapi….
“I-itu… bukan salah kamu.” Ini semua salahnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Rindu untuk Bara
Teen Fiction"Semenjak semesta menampar telak dengan kenyataan, bahagia seakan terlalu mewah untuk dirasakan" Restafala Bara, pria kelam nan misterius yang hanya memiliki 3 hal dalam kamusnya; kelam, sepi, sendiri. Ia tak pernah memiliki siapapun pun untuk berba...