Dua pasang mata didepan ruang UGD tak mengalihkan seincipun atensinya dari pintu ruangan yang dimasuki Bara. Ranu menyandarkan punggungnya dikursi tunggu, sedangkan Rindu kembali merafalkan nama-nama warna seingatnya untuk menetralisir rasa paniknya.
Ranu tadi sedang dalam perjalanan pulang saat tiba-tiba handphonenya bergetar dengan nama Bara menghiasi layar ponselnya. Pria itu sempat mengernyit bingung, karena pasalnya, seorang Bara yang menghubunginya lebih dulu bahkan masuk kedalam keajaiban dunia yang kedelapan. Bara tidak pernah menelpon Ranu jika bukan untuk memintanya membelikan makanan. Itu sebabnya, Ranu langsung memutar balik arah tujuannya saat mendengar bahwa Bara pingsan. Bahkan posisinya dengan rumah hanya berjarak sekitar dua puluh meter saja.
Setelah Bara dibawa masuk kedalam mobil Ranu, Rindu tanpa pikir panjang ikut masuk kedalam mobil dan pergi ke rumah sakit. Melihat tubuh jangkung Bara rubuh seperti tadi, membuat Rindu sedikit...khawatir? Belum lagi melihat pria yang kini berada disampingnya terlihat sangat panik membuat Rindu tidak sampai hati jika pamit pulang lebih dulu.
Bukankah satu-satunya orang yang ada disekitar Bara saat kejadian hanya dirinya seorang? Ranu dan keluarga Bara pasti memiliki banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan pada Rindu.
Dehaman seseorang disampingnya membuat Rindu menoleh, Ranu menghela nafas sebentar sebelum memutar kepalanya 90 derajat memandang Rindu. "Lo...siapa?"
"Sa-saya... teman kelasnya"
Ranu mengernyit, teman kelas? Ia tidak pernah melihat gadis ini disekolahnya. "Kenapa lo bisa di rooftop? Nama lo siapa?"
Rindu membasahi bibir bawahnya gugup. Bagaimana ia menjelaskan kronologisnya? Ia tidak mungkin menceritakan tentang Bara yang memintanya tinggal untuk sekedar mengobrol atau setiap deretan ujaran Bara yang membuat Rindu bingung, tentang "gue butuh teman ngobrol lima menit aja. Seenggaknya ngeyakinin diri kalau gue nggak beneran gila." Atau tentang "kemana gue harus pulang?" Rindu tidak sepolos itu untuk tahu bahwa Bara memang tidak baik-baik saja. Tidak hanya secara fisik, namun juga secara....hati?
"Lo denger gue, kan?"
Rindu terkesiap mendapati lambaian tangan Ranu didepan wajahnya. Ia menelan salivanya susah payah, "Sa-saya... Rindu."
Ranu mengernyitkan dahinya lebih dalam.
Rindu? Ia pernah mendengar nama itu, tapi dimana?
"Oke, apapun alasan lo bisa ada di rooftop itu, gue harus tetap berterimakasih sama lo. Kalau nggak ada lo disana, Bara mungkin bakal tetap tergeletak di atas rooftop sendirian."
Ranu mengulurkan tangannya kehadapan Rindu, "Gue Ranu," pria itu menelan salivanya sejenak, kemudian melanjutkan, "Temannya Bara."
Rindu menjabat tangan Ranu sedikit ragu, "Sa-saya Rindu."
Lalu kemudian keadaan kembali dikuasi hening, pikiran Rindu berkelana kemana saja, pada kejadian di rooftop siang tadi, pada handphonenya yang kehabisan baterai, juga pada Sekar yang pasti mencarinya karena belum pulang juga meski hari sudah mulai sore.
Sedangkan Ranu, benaknya dipenuhi dengan bagaimana caranya ia memberitahukan masalah ini pada Wira, ayahnya dan juga Bara. Jika ia memberitahu Wira, Bara tidak akan senang dan marah padanya. Namun jika ia tidak memberitahu ayahnya, Wira juga pasti akan sangat marah pada Ranu. Hidunya benar-benar serba salah.
Dengan tekad yang dipersiapkan semantap mungkin, akhirnya Ranu merogoh sebuah handphone disaku celana abunya, kemudian menelpon seseorang.
****

KAMU SEDANG MEMBACA
Rindu untuk Bara
Teen Fiction"Semenjak semesta menampar telak dengan kenyataan, bahagia seakan terlalu mewah untuk dirasakan" Restafala Bara, pria kelam nan misterius yang hanya memiliki 3 hal dalam kamusnya; kelam, sepi, sendiri. Ia tak pernah memiliki siapapun pun untuk berba...