tujuh ; keras kepala

52 10 0
                                    

"Iya Mbok, baik kalau gitu. Makasih informasinya, Mbok."

Wira kembali mendudukkan dirinya dikursi kerja. Menghela nafasnya lega sejak tahu bahwa Bara sudah mengabari Mbok Nah kalau dirinya baik-baik saja. Wira sudah mengunjungi rooftop setelah sebelumnya mencari Bara ke rumahnya namun tidak ada. Bahkan Wira menghubungi Ranu yang sama tidak tahunya akan keberadaan Bara.

Pria yang berusia hampir paruh baya itu mengusap wajahnya pelan, tidak paham harus melakukan apalagi agar Bara mampu memahami situasinya kala itu. Jika saja perjodohan ini tak pernah ada, mungkin Disa ataupun Bara tidak akan pula semenderita ini.

Wira membuka laci dibawah meja kerjanya, mengeluarkan sebuah foto berukuran satu jengkal tangannya dari sana. Seorang wanita cantik memakai dress merah dibawah lutut dengan anggunnya tengah tertawa lebar disana, sedangkan pria dewasa disampingnya tengah memangku seorang pria kecil sekitar usia 4 tahun diatas pundaknya. Itu Disa, Bara dan juga dirinya, foto yang diambil dengan liputan kebahagiaan dan juga tawa disetiap celahnya.

Lagi-lagi kenangan masa lalunya mencuatkan luka lama Wira. Jika saja dulu ia memiliki keberanian untuk menolak, jika saja ia mampu sedikit egois untuk kebahagiaannya sendiri, mungkin saja segala polemik dalam hidupnya tidak akan serumit ini.

Wira cepat-cepat memasukkan kembali foto dalam gengamannya kedalam laci kala mendengar suara kenop pintu terbuka. Renita, istrinya Wira muncul dari sana, melangkahkan kakinya semakin dekat kearah suaminya. "Mas kalau pulang, langsung bersih-bersih, jangan duduk dulu disini, nanti jadi malas." Perempuan itu membantu Wira melepas jas kerja di tubuhnya, kemudian menggantungnya di kursi.

"Ranu mana?" tentu saja itu hanya basa-basi. Wira tahu Ranu kemana. Bahkan putra keduanya itu sudah terlebih dahulu menelponnya untuk mengabari bahwa ia akan menemui Bara, Kakaknya.

"Ranu kerumah temannya mau minjem catetatan, tapi kok lama, ya? sudah lewat jam sebelas malam." Renita melirik jam dinding di depan meja kerja suaminya. "Mas yang coba telpon, kalau aku yang suruh pulang nggak akan digubris."

Wira menangguk, "Kamu tidur duluan saja, mas mau telpon dulu Ranu."

Renita mengangguk sembari menguap, dia benar-benar mengantuk. Setelah yakin istrinya sudah pergi, Wira baru menghubungi Ranu.

****

"Lo kesini atas suruhan Pak Wira?" Bara menatap lurus-lurus kilauan lampu didepannya. Mencoba setenang mungkin mendengar setiap celotehan yang keluar dari mulut orang disampingnya ini.

"Gue kesini bukan atas suruhan siapa-siapa. Papa bahkan nggak pernah minta gue ngebujuk lo buat berdamai sama masa lalu, apalagi minta lo buat maafin Papa."

Bara tertawa miring, kali ini dia memutar kepalanya 90 derajat menghadap Ranu. "Terus kenapa lo nyuruh gue temui Papa? Buat apa, Ranu?!"

"Buat lo, Bara. Gue suruh lo ketemu Papa biar hati lo tenang. Lo nggak bisa terus-terusan lari dari masalah, ngehindari Papa tiap kali Papa mau ketemu, bersikap acuh setiap Papa perhatiin lo. Lo dewasa kan?"

"LO NGGAK TAHU APA-APA!" Bara mengepalkan tangannya kuat. Menahan segala emosi yang tiba-tiba saja hadir memenuhi dadanya.

Tidak, Bara tidak marah pada Ranu. Bara marah pada dirinya sendiri, Bara Marah pada Wira, Bara marah pada semesta yang mempermaikan hidupnya sedemikian rupa.

"Apa yang gue nggak tahu, Bar? Mama kita beda, tapi Papa kita sama? Lo marah karena Papa sembunyiin pernikahannya sama mama gue? Lo marah Papa nggak ada saat mama lo sakit? Lo marah karena mama lo mening-"

"CUKUP!" Bara memukul pembatas rooftop hingga tangannya ngilu. Dada Bara naik turun, syarat akan emosi yang semakin menguasainya, Bara menekan rahangnya kuat, mencengkram bahu Ranu yang kini memandangnya dengan sorot tajam.

Rindu untuk BaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang