Beberapa orang sibuk mengeluarkan pepatah bijaknya. Beberapa yang lain sibuk menangisi takdirnya. Bagaimana bisa ingin hidup bahagia namun hati selalu penuh was-was, menganggap orang lain benalu. Yang menyingkap, adalah ia yang sama hidup sebagai polisi emosi. Menjadi budak amuk lalu tak jarang membuat petisi. Hingga akhirnya mereka saling menuduh, saling mencaci, teradu domba, namun juga saling merasa tersakiti. Hebatnya, ia masih saja kebal menggenggam bara api.
Sayang, dunia mungkin sudah enggan untuk memeluk, namun mengiba pada dunia juga tak seharusnya kau lakoni. Dunia ini maha luas, maka perluas juga caramu memandang dunia.
Dariku yang perlahan tak menyamai langkahmu. Harapku tak seperti realitamu. Sama sekali tak ada benci dalam batinku. Dirimu, puan, amat indah jika penuh senyum ramah. Semoga setelah semuanya usai kau akan paham, bahwa kolega dalam hidup adalah sebuah keharusan.

KAMU SEDANG MEMBACA
ASA PADA MASA
Non-FictionTiap detik merupakan bagian dari masa yang memiliki beragam kisah berharga