Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

02 : Weirdness

9.8K 958 24
                                        

"Jjk? Inisial yang aneh. Seingatku, teman sekelas kita tidak ada yang memiliki nama dengan inisial seperti ini," gumam Eunha sambil melihat secarik kertas yang diperlihatkan oleh Jiyeon beberapa waktu yang lalu.

Matanya kembali membaca deret kalimat itu sudah yang ke dua belas kalinya. Membuat Jiyeon merotasikan bola mata jengah, ia pikir bertemu dengan Eunha akan membantu menyelesaikan semuanya. Namun, sejak tadi—bahkan Jiyeon sudah menghabiskan dua gelas Cappucino nya yang diseruput dengan santai, Eunha belum memberikan solusi atas masalah yang ia ceritakan hingga mulutnya berbusa.

Baiklah. Sudah cukup. Ini membuat Jiyeon jengah. Gadis itu memukul meja dengan sedikit keras, cukup membuat Eunha tersentak dan memandang Jiyeon dengan raut wajah kesal. Sedangkan Jiyeon, memberikan gadis itu tatapan datarnya.

"Aku menyerah, Eunha-ya. Aku menyerah." Jiyeon menjatuhkan kepalanya ke atas permukaan meja, mengusak rambut dengan kasar, lalu berakhir dengan helaan nafas yang mendeskripsikan kalau ia benar-benar lelah sekarang.

"Menyerah? Menyerah kenapa, Ji?" Eunha memandang bingung Jiyeon yang masih belum mengubah posisinya. Alis gadis itu berkerut, tidak biasanya Jiyeon yang tangguh mudah menyerah hanya karena bingkisan misterius itu.

Jiyeon segera mengangkat kepalanya dengan kesal, "Tch! Sejak tadi aku menunggu solusi darimu. Tapi apa? Kau tidak juga memberikannya. Bahkan jika aku menjadi batu, aku pasti sudah mengalami pelapukan karena menunggumu yang belum selesai dari tadi membaca secarik kertas menyebalkan itu, dengan huruf yang tidak begitu banyak tertera di sana. Hanya beberapa deret kalimat, tapi kau membacanya sampai berbulan-bulan."

Hiperbola. Ya, hiperbola. Eunha hanya menganggukan kepalanya dengan santai tanpa berniat membalas celotehan Jiyeon. Jika ia adalah Si Cerewet, lantas apa bedanya dengan Jiyeon? Kemudian ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih nyaman dari yang tadi, dan matanya menatap Jiyeon dengan serius.

"Kau ingin solusi?" tanya Eunha.

Jiyeon juga mengubah posisinya seperti semula, "Ya!" ujarnya mantap.

Eunha masih diam. Matanya masih menatap Jiyeon dengan raut wajah serius. Seketika Jiyeon merasa bergidik, tidak biasanya Eunha melayangkan sorot mata kelewat tajam seperti itu. Kemudian Jiyeon membayangkan jika mata Eunha tersebut mengeluarkan laser yang mematikan didalamnya.

Cukup, Ji. Hentikan pemikiran konyolmu lagi.

Cih! Eunha sialan! Jiyeon merasa salah tingkah ditatap seintens itu. Matanya melirik gusar dengan liar kesana kemari, mencoba mengabaikan Eunha. Kemudian di detik berikutnya, ia memejamkan matanya menahan kesal, karena tak kunjung mendapatkan solusi dari Eunha seperti yang ia pinta.

"Eunha!" teriaknya marah.

Selanjutnya, Eunha terkekeh geli. "Oke, Jiyeon-a. Aku punya solusi untukmu, agar bisa mengetahui siapa pengirimnya."

Mata Jiyeon membola, "Benarkah?"

Anggukan mantap Eunha berikan sebagai jawaban dari pertanyaan Jiyeon. "Ya. Tujuan pertama kita ke apartemenmu, lalu kita akan minta bantuan Security disana untuk mengecek ke bagian CCTV. Dan mencari tahu siapa orang yang selalu mengirimimu bingkisan misterius itu."

Jiyeon terdiam beberapa saat untuk mencerna kata-kata Eunha. Mengerjapkan mata beberapa kali, lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, "Baiklah. Kapan kita pergi?"

"Sekarang."

"Sekarang?"

"Yep! Tentu saja. Lalu kapan, tahun besok? Ayolah, Ji. Bukankah kau mendesakku tadi." Eunha memandang kesal Jiyeon.

Obsession or Love ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang