Sinar mentari yang menembus sela-sela jendela sebuah kamar di sana, menyapa tidur seseorang di balik selimut dengan kasur yang tampak berantakan—dan pakaian yang berserakan. Katup mata yang mulanya terpejam itu lantas bergerak-gerak karena terpaan silaunya cahaya yang masuk, membuatnya menggeliat kecil dan melakukan beberapa pergerakan. Mencari posisi nyaman, dan berakhir menggeram cukup keras saat tubuhnya terasa pegal. Memandangi langit-langit kamar yang tampak asing dan meneliti seluruh ruangan dimana ia berada. Menolehkan kepala ke kiri maupun ke kanan, hanya menemukan ia dalam kesendirian.
Jeon Jung Kook menghela nafas, lantas mendudukkan diri di atas ranjang untuk mengumpulkan nyawa yang masih melayang. Seketika pening menyerang membuatnya memejamkan mata dengan erat disertai memijit pangkal hidungnya. Mencoba menerka-nerka sesuatu kenapa ia bisa berakhir dalam kondisi seperti ini. Didalam kamar nan asing, sendirian dengan pakaian terbuka—
T-tunggu?!
Pakaian terbuka?!
Jantung Jungkook berdegup dengan cepat dan tak beraturan, nafasnya terdengar kasar tatkala potongan-potongan ingatan mulai hadir menyapa otaknya. Mengingat keadaanya jauh dari kondisi baik—sangat buruk sekali. Jungkook meneguk saliva kasar, perasaannya buruk sekali. Berkali-kali Jungkook mengutuk dirinya karena mabuk semalam hingga susah untuk mengingat dengan jelas bersama siapa ia tidur. Menggigit bibir karena perasaan risau tak kunjung hilang.
Sepersekon kemudian Jungkook benar-benar membawa tubuh telanjangnya bangkit, memungut pakaiannya sendiri yang berserakan di lantai marmer dingin. Memakainya dengan gerakan lambat karena pegal tak kunjung hilang. Hingga sepasang obsidiannya melihat secarik kertas yang di letakkan di atas nakas di samping ranjang. Sepertinya bukan kertas kosong saja, melainkan berisi beberapa kalimat di sana yang sengaja di tinggalkan untuknya.
Jungkook meraih kertas putih tersebut, menghela nafas dalam sebelum membukanya dan membaca deretan kalimat yang tertulis di sana. Bola mata Jungkook melebar dikala mengetahui dengan siapa ia tidur. Seketika otaknya benar-benar mengingat keseluruhan kejadian semalam. Sampai ia berakhir mengerikan disini.
To : 전 정국 (Jeon Jungkook)
Pelayanan yang bagus, Jeon. Terima kasih, aku merasa terpuaskan—walaupun tidak seluruhnya, kau tidak memanggil namaku disaat kita melakukannya, melainkan nama gadis lain. Sebegitu pentingnya kah dia bagimu, Jung? Tapi itu tidak masalah. Sudah lama rasanya kita tidak melakukan hal ini, oleh karena itu aku memaafkan mu. Malam yang menyenangkan.
From : 이지은 (Lee Jieun), seseorang yang selalu mencintaimu.
"Sial!"
Jungkook menggeram tertahan, meremas dengan erat sepucuk surat yang di tinggalkan oleh Jieun untuknya. Gadis licik itu, Jungkook bersumpah akan menghabisinya. Sebenarnya masalah ini bukanlah salah Lee Jieun sepenuhnya. Salahkan saja Jungkook yang keras kepala meminum belasan alkohol hingga membuatnya berada dalam ambang batas. Ber ilusi, dan menganggap Jieun adalah Jiyeon. Benar-benar tidak di sangka.
Apa yang harus kulakukan?
Menghembuskan nafas dan mengusap wajahnya kasar, Jungkook sungguh kacau hari ini. Kepalanya pening bukan main. Masalahnya bersama Park Jimin dan gadisnya saja belum selesai di urus. Sekarang ia telah membuat masalah baru lagi bersama Lee Jieun. Sungguh sialan.
Beberapa detik kemudian Jungkook tersentak ketika merasakan getaran di saku celana jeans-nya. Pria itu meraih smartphone dan menemukan nama Yoongi yang tertera menghubunginya. Melihat itu Jungkook segera mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa, Hyung?" Suara Jungkook terdengar serak sekali, ia tidak tahu betapa brutalnya semalam sehingga melakukannya bersama Jieun beberapa ronde.
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsession or Love ✔
Fiksi Penggemar[DIBUKUKAN; Discontinue] Penuh akan kebingungan. Obsesi. Cinta. Keduanya hampir sama memenuhi segala sudut relung pikiran Jeon Jungkook. Membuatnya dilanda kebimbangan yang mendalam. © 2019 seagulltii Started : 26 Januari, 2019 Finished : 04 Mei, 20...
