Kaki nan tegap itu terus melangkah dengan tegas menuju tujuannya. Berjalan menyusuri lorong apartemen dengan cahaya remang-remang dan hembusan angin tipis yang menyapa pundak—sungguh mencekam. Akan tetapi tidak menggetarkan seorang Jeon Jung Kook untuk menghentikan atau berbalik pulang karena rasa takut. Pria itu memiliki tujuan penting untuk rela sampai menginjakkan kaki ke tempat kumuh ini. Apartemen seseorang yang akan ia kunjungi sangat jauh dari kata layak.
Berbelok ke kanan setelah sampai di persimpangan lorong, dan berhenti tepat di depan pintu cokelat keemasan yang terlihat lusuh. Begitu tidak terawat dan nyaris rapuh dari tempatnya. Jungkook menekan bel tanpa ragu, menunggu selang beberapa menit sebelum pintu terbuka. Menampilkan sosok lelaki kusut yang menyambut kedatangannya dengan seulas senyum tipis yang terpatri di bibir.
"Jeon Jung Kook? Akhirnya kau datang, masuklah."
Berbeda dengan pria di hadapannya yang tersenyum tipis, justru Jungkook memasang wajah sebaliknya. Datar tanpa ekspresi sedikitpun.
"Terima kasih. Kita langsung saja, jangan—"
"Aku tahu. Tapi alangkah baiknya aku menyambut mu di dalam, Jungkook Hyung."
Diam-diam Jungkook mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Tidak ingin memperpanjang konversasi yang menghabiskan waktu cukup panjang nantinya, maka opsi terbaik yang Jungkook lakukan adalah masuk ke dalam menuruti perintah si tuan rumah. Duduk di sofa—cukup terawat—yang di sediakan di sana sembari menunggu tuan rumah membuatkannya secangkir teh hangat.
"Minumlah terlebih dahulu."
Jungkook mendengus, "Lee Taeyong? Kau tahu kalau aku—"
"Ya, aku tahu. Aku tahu." Taeyong menyela begitu cepat, kemudian terkekeh sambil berujar, "Kau bukanlah orang yang mudah untuk di ajak basa-basi. Namun, aku hanya melaksanakan etika tuan rumah menyambut tamu yang datang. Hanya itu. Tidak lebih."
Mendengar hal itu membuat Jungkook mendecih pelan, lantas menyambar teh tersebut. Meniup dengan hembusan nafasnya untuk mengurangi rasa panas yang akan di kecap bibir, sepersekon kemudian meneguknya perlahan hanya untuk membuat waktu berkunjungnya kemari menjadi singkat. Berbincang-bincang bukanlah gaya seorang Jeon Jung Kook, pria itu akan langsung menuju inti pembicaraan mereka tanpa perlu basa-basi atau pembukaan yang membosankan. Jungkook benci itu.
"Bagaimana dengan Jiyeon? Dia—dia baik-baik saja, bukan?"
Kepala Jungkook mendongak menatap wajah Taeyong—terlihat sendu. Menjauhkan bibir gelas dan meletakkannya kembali di atas meja hingga menimbulkan bunyi. Jungkook bersedekap, membuat raut wajah angkuh yang selalu hadir di sana.
"Kau tahu, bahwa aku ingin sekali mencekik leher mu hingga patah sekarang ini. Tanganku gatal rasanya."
Taeyong terkekeh pelan seolah menganggap omongan Jungkook adalah bualan semata yang menghibur dirinya dalam keadaan rumit ini. Akan tetapi jauh di dalam sana, mati-matian Taeyong menahan gejolak asing yang membuat perutnya di aduk secara random—ingin muntah—melihat kehadiran Jungkook.
Pria Lee itu mengulum bibir sebelum berujar perih, "Jika memang begitu, aku pantas mendapatkannya. Lagipula, aku rasa percuma saja kau membuatku hidup di tengah lingkaran penuh siksaan ini. Lebih baik akhiri saja hidupku bersama dengan Jieun waktu itu."
Jungkook menelan saliva getir. Sial! Entah kenapa pria itu ingin segera pulang dan menyelesaikan tujuannya datang kemari. Hanya untuk mendengar, tidak lebih. Jungkook tidak di minta untuk membunuh, menyiksa, menghukum—lagi. Itu sungguh memuakkan yang akan membuat dirinya terlihat menjadi monster lebih mengerikan—lagi. Sudah cukup. Jungkook ingin menghentikannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsession or Love ✔
Fanfiction[DIBUKUKAN; Discontinue] Penuh akan kebingungan. Obsesi. Cinta. Keduanya hampir sama memenuhi segala sudut relung pikiran Jeon Jungkook. Membuatnya dilanda kebimbangan yang mendalam. © 2019 seagulltii Started : 26 Januari, 2019 Finished : 04 Mei, 20...
