Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

03 : Meeting

8.7K 977 55
                                        

"Ya ampun, Ji! Cubit aku! Cubit aku! Kau memiliki produk Fashion kelas dunia! Astaga! Astaga!!!" Teriakan Eunha begitu membahana didalam apartemen Jiyeon.

Beberapa waktu yang lalu, gadis itu bilang dia ingin ke apartemen Jiyeon. Sekalian ingin melihat rupa bingkisan misterius itu, 'Aku akan menelitinya' katanya tadi. Tapi apa? Gadis itu seperti Tarzan yang berteriak di hutan karena kehilangan induknya. Teriakan Eunha sangat nyaring, sukses membuat Jiyeon menyumpal kedua telinganya menggunakan earphone guna menghindari gangguan THT. Dan Jiyeon hanya melirik malas Eunha yang memeriksa seluruh isi bingkisan tersebut. Lagi-lagi ia berteriak.

"Astaga! Ya Tuhan! Demi apa semua ini, Ji! Bahkan kau punya merk Fashion Gucci, Dior, dan Versace, ah! Gila! Ini juga, Victoria's Secret?! Merk Fashion nomor satu di dunia?! Kau luar biasa!"

Oh Ya ampun. Bahkan Jiyeon masih bisa mendengar teriakan sahabatnya walaupun sudah menggunakan earphone. Sungguh luar biasa. Dia menambah volume lebih keras lagi dengan kesal, teriakan Eunha sungguh keras. Jiyeon jadi takut akan terdengar sampai keluar dan menganggu tetangga sebelah, lalu berakhir dengan perang adu mulut. Tidak. Itu jelas ide buruk. Jiyeon benci pertarungan antar mulut.

Kenapa tidak fisik saja?

"Jiyeon? Oh My God! God! Shit! Kau bahkan punya jam tangan Rolex Oyster Perpetual Datejust 31?! Kau tau, Ji? Ini adalah jam keluaran terbaru beberapa Minggu yang lalu, dan kau sudah memilikinya. Ini bahkan produk Limited Edition!" Mata Eunha berbinar saat membuka bingkisan berikutnya, "Dan ini apa lagi? Oh! Sialan! Kau bahkan juga punya sepatu angkle boots Branded Jimmy Choo dengan bahan Suede dan Strap kulit?! Demi Neptunus! Ya Tuhan!"

Sudah cukup! Teriakan Eunha bahkan bisa membuat seluruh listrik di Seoul padam. Tidak hanya itu, bahkan mulut sialannya itu mengeluarkan kata-kata makian. Apa-apaan dengannya?

Jiyeon melepas earphonenya kasar. Lalu menatap tajam Eunha yang masih fokus memeriksa seluruh barang-barang nya di bingkisan tersebut. Dengan gerakan cepat Jiyeon menarik Eunha untuk menjauh dari tempat itu.

"Keluar," ujarnya dingin.

"Ji? Apa?! T-tunggu!"

Jiyeon mengunci ruangan khusus bingkisan tersebut untuk mencegah Eunha masuk kesana. Ia bahkan tidak sengaja melihat tempat itu berantakan. Sialan! Apakah ia harus merapikannya? Bagus! Ini semua karena Eunha.

Jiyeon tidak memedulikan tatapan memohon Eunha, terlihat seperti kucing yang ingin diberi makan. Tidak mempan. Jiyeon sudah terlanjur kesal karena sikap Eunha. Dia bilang ingin meneliti. Meneliti apanya? Meneliti seluruh merk-nya lalu berteriak seperti orang kerasukan. Bukannya meneliti siapa pengirim bingkisan tersebut. Jiyeon bahkan merasa heran dengan Eunha, seluruh merk Branded ternama bahkan hafal oleh sahabatnya itu, tapi kenapa sikapnya norak seperti itu ya?

Hah, Eunha.

"Hentikan Eunha-ya. Kau membuat gendang telingaku pecah. Teriakanmu bahkan lebih kuat dari Tarzan."

"Oke. Itu berupa pujian atau—"

Jiyeon berdecak dan menyela ucapan Eunha, "Kau bisa menebaknya sendiri," ujarnya kesal. Eunha benar-benar tidak mempunyai perasaan. Padahal itu berupa sindiran untuknya.

"Baiklah, Ji. Itu terdengar seperti pujian," katanya bangga. Oh Ayolah. Jiyeon rasa otak Eunha mulai aneh sejak melihat bingkisannya tadi. Padahal gadis itu bukanlah gadis idiot.

Sabar, Ji. Ini pasti cobaan hidup.

"Tapi, Ji? Kau ingin aku meneliti apa?" Perkataan Eunha barusan sukses membuat mata Jiyeon ingin keluar dari tempat peradabannya.

Obsession or Love ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang