Jieun menyeruput secangkir coffee nya perlahan dengan kaki yang disilangkan. Wajah angkuh dan kesal mendominasi setelah ia baru saja melihat seputar berita yang ditayangkan di televisi. Ini sulit dipercaya. Bertahun-tahun ia mencoba untuk meluluhkan hati seorang Jeon Jung Kook agar pria itu benar-benar mengakuinya, namun kali ini ia kalah satu langkah dari seorang gadis yang masih sekolah. Sialan! Dadanya bergemuruh secara tiba-tiba, rasa coffee yang awalnya menenangkan sekarang berubah menjadi hambar. Jieun menggigit bibir bawahnya geram, mata itu menukik tayangan televisi di depannya.
Jeon Jung Kook berkencan dengan seorang gadis.
Ia mendengus sinis, menyeringai kesal menatap layar televisi yang berukuran 55 inch tersebut. Dengan cepat ia menghabiskan coffee nya hanya dengan sekali tegukan, lalu meletakkan gelas di meja dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.
"Cih! Jadi ia mengincar anak sekolah, huh?!" gumamnya dengan kesal.
Tak bisa dipungkiri lagi. Sudah bertahun-tahun ia mengejar cintanya—Jungkook. Namun, pria itu tak kunjung merasakan perasaan yang sama terhadapnya. Jieun selalu diabaikan, dipermalukan, bahkan ia rela memberikan sesuatu yang berharga untuk Jungkook agar pria itu dapat menerima perasaannya. Namun, nihil. Berakhir sia-sia.
Tidak ada gunanya.
Jieun hanya tersenyum miris, kali ini dia tidak akan membiarkan Jungkook begitu saja. Ia juga tidak percaya jika gadis itu dapat mengalahkan pesona Lee Jieun. Apa yang menarik dari gadis itu sehingga Jungkook mengumbar kemesraan mereka di depan umum. Tidak tahu malu, pikirnya. Sejak kapan mereka kenal dan siapa gadis itu? Entah kenapa Jieun membencinya.
"Akan ku hancurkan dia." Seringai iblis menghiasi wajah cantik Jieun.
Gadis itu hanyalah hama kecil bagi Jieun, menyingkirkannya sangat mudah. Dia jelas tidak akan turun tangan dalam hal tersebut, Jieun tidak akan mengotori tangannya. Menarik nafas panjang, kemudian tangan porselen itu mengambil ponsel yang tergeletak dimeja ruang tamu apartemennya, lalu jari-jari yang lincah itu menekan sesuatu untuk menghubungi seseorang.
"Ada apa, tidak biasanya kau menghubungiku," sindir seorang diseberang sana.
"Dasar tidak sopan. Aku ini lebih tua darimu, bocah. Dan ini kah sapaanmu, huh?" kata Jieun kesal.
Terdengar decakan disana menyapa rungu Jieun, "Tidak usah basa-basi dan katakan apa tujuanmu, Noona. Aku tahu kau pasti ingin aku melakukan sesuatu bukan. Kalau tidak mana mungkin kau menghubungiku."
Tepat sasaran.
Seringaian Jieun melebar setelah mendengar kalimat pemuda di sana. Pemuda itu benar-benar tahu dirinya seperti apa. Jieun akan memberikan penghargaan kepadanya lain kali. "Aku ingin kau melakukan sesuatu."
"Sesuatu? Jangan bilang kalau ini berhubungan dengan kisah asmaramu?" tebak pemuda disana.
Ya itu benar.
Jieun hanya mengulas senyum tipis saat mendengar kalimat itu, lagi-lagi dia bisa menebaknya.
Kemudian obrolan itu berlanjut sesuai dengan rencana Jieun. Ia tidak akan membiarkan dirinya kalah hanya karena gadis sekolahan. Tidak. Itu tidak akan terjadi. Jieun akan menghancurkan mereka perlahan-lahan dan merebut kembali Jungkook. Ambisinya untuk menjadikan Jungkook miliknya tidak pernah pudar sedikitpun. Ini sudah bertahun-tahun lamanya. Hingga ia menyerahkan mahkota berharganya untuk pria tersebut. Dan kali ini, Jieun akan membuat Jungkook menjadi miliknya seutuhnya.
"Bayarannya sangat tinggi dan jangan gagal. Aku sangat berharap padamu, jangan mengecewakanku," ujar Jieun penuh penekanan.
"Tch! Kau benar-benar licik, akan kulakukan. Tapi itu butuh progres yang panjang, kau harus bersabar menunggu agar semua berjalan dengan lancar." Memang benar. Kali ini rencana Jieun tidak main-main. Butuh proses yang panjang dan ini sedikit rumit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsession or Love ✔
Fanfiction[DIBUKUKAN; Discontinue] Penuh akan kebingungan. Obsesi. Cinta. Keduanya hampir sama memenuhi segala sudut relung pikiran Jeon Jungkook. Membuatnya dilanda kebimbangan yang mendalam. © 2019 seagulltii Started : 26 Januari, 2019 Finished : 04 Mei, 20...
