"Dasar tidak becus! Kau dipecat!" teriak Jungkook membahana dan langsung saja tanpa ba-bi-bu memecat karyawannya.
Melihat amarah Jungkook yang menggebu seperti singa kelaparan membuat karyawan yang diteriaki tersebut membungkuk dalam dan segera lari terbirit-birit dari ruangan—panas seperti neraka—itu. Ia jelas tidak ingin membantah perkataan sang atasannya dan memperburuk keadaan sehingga berakhir mengenaskan nanti. Tidak. Itu jelas tidak bagus. Jantung karyawan itu bertalu abnormal serasa baru saja menghadapi peristiwa mematikan yang pernah ada. Suara menggema Jeon Jung Kook mengisi seluruh ruangan yang ada di sana bahkan terdengar sampai keluar sekalipun.
Saat mata elangnya menatap kepergian sang bawahan yang tampak memucat, ia segera mendudukkan diri di kursi kebanggaannya sambil memejamkan mata. Pening menyerang lantas tanpa pikir panjang tangan kekar itu memijit guna menghilangkan rasa sakit yang semakin menjalar. Surai hitam pria itu berantakan tak karuan, kancing kemeja yang terlepas dua buah di bagian atas mempertontonkan dadanya yang bidang, dan kedua lengan kemejanya digulung sampai ke siku sehingga urat-urat berwarna hijau nan besar itu terlihat dengan jelas.
Benar-benar sempurna.
Lantas beberapa saat kemudian, netranya yang terpejam kembali terbuka saat indera pendengarannya mendengar decitan pintu yang dibuka oleh seseorang dari luar. Pria berkulit pucat dengan rambut pirang dan wajah dingin berjalan menghampiri Jungkook sambil kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana.
"Bung, kau tampak buruk. Sudah karyawan keberapa yang kau pecat terakhir kali keluar ruangan ini?" ujarnya dengan aksen dingin seperti biasa. Sebelah alis pemuda itu dinaikkan sambil menatap subjek yang saat ini tampak kacau didepannya. Nyaris tidak menyerupai manusia.
Jungkook menghela, "Entahlah. Aku tidak bisa menghitungnya lagi." Menjeda sesaat, kemudian melanjutkan dengan dahi berkerut, "Mungkin yang kedelapan atau ketujuh? Argh! Sial! Ini memusingkan!" geramnya frustasi.
Pria berkulit pucat itu terkekeh, "Pergilah ke Bar untuk merilekskan pikiranmu. Kau tampak buruk, bahkan jauh dari kata manusia."
Jujur, kalimat yang tajam itu sudah biasa Jungkook dengar dari pria pucat dihadapannya sekarang. Karena itu memanglah wajar. Wajah pria itu jauh lebih dingin dan datar darinya. Tampak kejam. Namun, sesungguhnya pria itu berjasa besar dalam kehidupan Jungkook selama ini. Ialah yang selalu membimbingnya menuju kesuksesan seperti sekarang, membantu menghadapi perihnya dan kejamnya dunia. Membuat Jungkook mengerti apa itu arti kehidupan.
Min Yoongi, jelas ahlinya.
Jungkook terkekeh sinting dan menatap Yoongi sambil menyeringai, "Tch! Aku tidak akan sudi lagi menginjakkan kaki disana, Hyung. Tempat yang kotor itu hanya cocok untuk orang yang kotor pula."
Seketika Yoongi langsung terbahak mendengar bualan yang baru saja keluar dari mulut Jungkook. Jelas saja. Biasanya pria itu akan menghabiskan waktu di Bar jika masalah berat datang menyapa dan menghampiri hidupnya tanpa perlu disuruh sedikitpun. Namun sekarang lihat. Jungkook berubah, pikir Yoongi nakal. Ia pun berusaha untuk menghentikan tawanya saat mata cerahnya melihat wajah serius Jungkook.
Sialan. Dia benar-benar serius rupanya.
Tungkai yang awalnya berdiri segera ia dudukkan disofa yang tidak jauh di sana sambil netranya terus difokuskan kepada subjek didepannya yang lagi-lagi mengeluarkan keluhan. Yoongi menyandarkan punggung seraya terus menatap Jungkook seolah-olah menuntut penjelasan. Ia jelas tahu bahwa Jungkook tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Tidak ada yang bisa mengelabui Min Yoongi. Tidak. Bahkan Jungkook sekalipun. Seberapa keras usaha pria itu untuk bersikap santai didepannya, itu percuma. Selama ia belum mendapatkan penjelasan lebih dalam, Yoongi tidak akan memutuskan penglihatannya dari Jungkook hingga pria itu benar-benar menjelaskan sesuatu yang tengah disembunyikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsession or Love ✔
Fanfiction[DIBUKUKAN; Discontinue] Penuh akan kebingungan. Obsesi. Cinta. Keduanya hampir sama memenuhi segala sudut relung pikiran Jeon Jungkook. Membuatnya dilanda kebimbangan yang mendalam. © 2019 seagulltii Started : 26 Januari, 2019 Finished : 04 Mei, 20...
