Rasanya jantung Jiyeon mendadak dihantam batu besar yang mampu melemahkan seluruh syaraf tubuhnya perlahan-lahan. Sangat mematikan.
Melihat presensi Jungkook yang mendadak datang—sebenarnya tidak mendadak, hanya saja Jiyeon lupa jika sekarang adalah jam biasa Jungkook datang ke apartemennya dan meluangkan waktu bekerjanya sedikit untuk melihat keadaan Jiyeon—membuat Jiyeon menahan napas. Tenggorokannya tercekat dibarengi gelenyar aneh yang meluncur kepermukaan. Gadis itu membeku, bibirnya kelu hanya untuk berucap sepatah dua patah kata. Memusatkan seluruh perhatiannya kepada Jungkook, dibalas dengan sorot tajam mata elang lawan seberang.
Jiyeon ingin muntah.
Namun, mendengar deheman dari sang kakak membuat Jiyeon kembali tersadar akan kenyataan dan mengerjapkan mata beberapa kali sembari mendengarkan Jimin kembali bertanya dengan nada mengintimidasi—memicingkan mata dan memiringkan kepala, "Aku tanya, siapa kau?"
Pria Jeon itu hanya tetap menatap Jiyeon dengan seulas senyuman miring yang terpatri di bibir tipisnya tanpa berniat membalas pertanyaan dari pria dihadapannya, kemudian mengalihkan pandangan kepada pria bathroobe tatkala menemukan gadisnya hanya diam saja. Menghirup udara sedalam mungkin seakan tidak ada hari esok untuk menikmati oksigen yang berkeliaran disekitar, dengan gerakan cepat Jungkook memberi tinju jitunya ke pipi kiri Jimin sebelum membuang sebuket bunga yang rencananya akan diberikan untuk sang gadis pujaan. Namun, sepertinya hal itu berakhir sia-sia ketika dirinya kembali di hadirkan dengan sosok pria asing bersama gadisnya.
Seperti, Dejavu.
Jiyeon memekik tertahan melihat sang kakak dipukuli dengan begitu kerasnya, "J-jungkook!" Gadis itu menutup mulutnya tidak percaya dengan kedua tangan setelah ditampar kenyataan yang ada didepan, "H-Hentikan! Jangan memukulinya. Dia—"
"Diam!" Potongnya dengan cepat dengan suara yang menggema, Jungkook menatap Jiyeon dengan tajam, "Berani sekali kau, Park Jiyeon. Tunggu hukumanku setelah aku menghabisi pria ini!"
A-apa?!
Mendadak jantung Jiyeon berpacu dengan cepat, tungkainya melangkah terburu-buru menghambat pergerakan Jungkook yang sepertinya ingin kembali memukul Jimin, "Jungkook! Dengarkan aku dulu, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Dia bukanlah orang asing, dia—"
"Brengsek!" Teriakan menggema dari Park Jimin menghentikan penjelasan Jiyeon, pria itu meludahkan darah yang mengalir di sudut kiri bibirnya. Rasa nyeri meluncur datang ke tubuh pria itu, Jimin menggeram, "Shit! Keparat kau!" Emosi telah menenggelamkan diri Jimin, membuat pria itu ikut membalas pukulan dari Jungkook.
Karena tidak siap, Jungkook terlempar jauh saat menerima pukulan telak dari Jimin. Pria itu tertawa sinis, dan sedetik kemudian ia mendesis menatap Jungkook dengan pandangan jijik—menggelikan, "Ha. Tamu macam apa kau ini? Dan siapa kau?! Berani sekali datang kemari dan tiba-tiba memukulku?!" Dadanya naik turun, rasa ingin memukul kembali hadir.
Namun, sebelum itu Jiyeon berlari menghampiri sang kakak dengan memeluknya sambil berderai air mata. "Tidak, Oppa. Jangan sakiti dia!" Menjeda sesaat sambil menghirup udara, lalu kembali melanjutkan, "Dia hanya tidak tahu, Oppa. Kumohon, maafkan Jungkook." Gadis itu menggeleng dipelukan sang kakak, berharap bahwa pria itu segera menghentikan tindak tanduknya.
Sang kakak tertawa sinis, melepaskan pelukan sang adik dan mencengkram bahunya sekuat tenaga—Jiyeon meringis sakit, "Jungkook?! Siapa dia? Sejak kapan kau punya teman pria yang datang ke apartemenmu, huh?! Sekarang kau mulai berulah, Park Jiyeon."
"T-tidak, dia p-pria yang baik. Dia selalu menjagaku, Oppa. Dia—d-dia ke—"
Tawa keras Jimin menguar membuat kalimat Jiyeon tertelan, "Baik?!" Ia mendecih sesaat dan membuang pandangan sembarangan, lalu kembali menatap Jiyeon tidak percaya, "Kau bilang dia adalah orang yang baik setelah datang kemari dan tiba-tiba memukulku tanpa alasan yang jelas seperti orang kesetanan?! JAWAB AKU, PARK JIYEON!" Teriakannya menggema membuat Jiyeon terlonjak mendengar hal tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsession or Love ✔
Fanfiction[DIBUKUKAN; Discontinue] Penuh akan kebingungan. Obsesi. Cinta. Keduanya hampir sama memenuhi segala sudut relung pikiran Jeon Jungkook. Membuatnya dilanda kebimbangan yang mendalam. © 2019 seagulltii Started : 26 Januari, 2019 Finished : 04 Mei, 20...
