Setelah cukup di rasa tenang selang beberapa hari di timpa keterpurukan, membuat pertahanan yang di bendung hancur mendadak, Jiyeon memutuskan untuk bangkit dari kejadian beberapa hari sebelumnya dan kembali membuka diri. Pergi ke sekolah dengan tujuan agar segera merupakan pesan sialan yang ia terima. Melupakan permasalahan yang beberapa hari ini selalu hadir dalam diri, nyaris membunuh perlahan-lahan. Jiyeon tidak tahu apakah pesan tersebut merupakan tindakan jahil atau iseng seseorang yang ingin merusak hubungannya bersama Jungkook. Atau pesan tersebut memang benar-benar terjadi. Jiyeon belum bisa memastikannya.
Tapi entahlah, firasat gadis itu jelas mengatakan bahwa hal tersebut merupakan suatu kebenaran yang telah terjadi. Mengingat mereka bertengkar hebat sebelumnya—dengan Jiyeon yang mengucapkan kalimat benci dalam peristiwa itu, hingga beberapa hari ini Jungkook tidak menghubungi Jiyeon. Dan siapa gadis dalam video yang bercinta dengan Jungkook tersebut.
"Hei!"
Lamunan Jiyeon seketika pecah ketika merasakan bahunya di tepuk pelan oleh seseorang. Terkesiap, ia menoleh mendapati presensi Eunha yang menatap khawatir. Belakangan ini gadis itu sering sekali mengkhawatirkannya, entah kenapa. Eunha pikir Jiyeon tidak jauh berbeda dengan mayat hidup—tampak pucat, sering melamun dan sorot matanya begitu kosong. Eunha tidak tahu pasti apa yang terjadi dengan Jiyeon, sebab Eunha tidak ingin Jiyeon menceritakan masalahnya ketika ia belum siap. Itu akan memperburuk keadaan. Eunha akan siap mendengar keluh kesah Jiyeon ketika gadis itu telah siap bercerita. Ia akan menjadi pendengar sekaligus penenang bagi gadis Park itu.
"Kau tidak apa, Ji?"
Jiyeon tersenyum, sahabatnya ini memang perhatian sekali. Selalu menanyakan keadaan Jiyeon ketika merasakan kejanggalan dalam diri gadis itu. Tidak ingin menambah kekhawatiran Eunha, Jiyeon menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Aku tidak apa. Jangan khawatir," ujarnya sambil tetap tersenyum.
Eunha menghela, sayang sekali Jiyeon tidak bisa membohonginya untuk saat ini. "Tidak apa bagaimananya, Ji? Wajahmu jelas mengatakan kau tidak baik-baik saja, kau nampak pucat."
Terbongkar sudah kebohongan Jiyeon. Gadis itu menggigit bibir bawahnya cemas, belakangan ini ia memang tidak makan dan berisitirahat dengan cukup. Sebenarnya tubuh Jiyeon belum siap untuk kembali melakukan rutinitas sebagai seorang siswa, akan tetapi Jiyeon memaksanya dengan tetap pergi ke sekolah walaupun ia tahu keadaanya belum memungkinkan.
Dasar keras kepala.
Jiyeon tergagap, "A-aku—" bola matanya berpendar guna menghindari tatapan mengintimidasi Eunha, Jiyeon tahu gadis itu butuh penjelasan kenapa ia bisa seperti ini. Akan tetapi, Jiyeon merasa belum siap untuk menceritakan semuanya kepada Eunha.
"Lebih baik kau makan, oke? Kau sakit, Ji, aku khawatir."
"Tidak, aku tidak apa."
"Tch! Jangan membohongiku, idiot." Eunha mengeluarkan roti di dalam tasnya, "Makan!"
Mendengar nada tegas yang di ucapkan oleh Eunha, mau tak mau Jiyeon menerima roti itu dan mulai memakannya. Percuma saja sekarang jika melakukan penolakan, toh, Eunha sudah melihat wajah pucatnya. Dan Jiyeon tidak bisa berbohong untuk itu.
"Kenapa tidak istirahat di rumah saja jika keadaanmu belum benar-benar pulih?"
Atensi Jiyeon kembali memerhatikan Eunha yang juga memandanginya dengan lamat. Entah kenapa saat Jiyeon menelan roti seolah merasa menelan bebatuan besar di tepi sungai saat melihat sorot tajam iris sahabatnya.
"Maksudmu?"
"Kau masih sakit, Ji. Lebih baik istirahat di rumah saja."
"Aku tidak bisa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsession or Love ✔
Fanfiction[DIBUKUKAN; Discontinue] Penuh akan kebingungan. Obsesi. Cinta. Keduanya hampir sama memenuhi segala sudut relung pikiran Jeon Jungkook. Membuatnya dilanda kebimbangan yang mendalam. © 2019 seagulltii Started : 26 Januari, 2019 Finished : 04 Mei, 20...
