Perlahan semua masalah yang mendekam dalam dada terlupakan, hubungan Jungkook dan Jiyeon mulai membaik seiring berjalannya waktu. Tidak ada gangguan lagi—mungkin. Hanya saja Jungkook belum bertemu dengan Jieun setelah kejadian waktu itu. Seberapa keras usaha Jungkook untuk mencarinya—bahkan telah meminta bantuan Min Yoongi, gadis Lee itu tak kunjung di jumpai keberadaannya. Hilang tanpa jejak—entah kenapa.
Jungkook telah menepati janjinya untuk membawa Jimin kehadapan si gadis, bertepatan saat itulah Jiyeon meminta maaf kepada sang kakak. Jimin memakluminya, akan tetapi jauh di dalam sana perasaan pria Park itu masih meragukan kehadiran Jungkook di samping sang adik. Entah membawa kebaikan untuk adiknya, atau justru sebaliknya. Akan tetapi, melihat senyuman Jiyeon yang lebih sering terbit sekarang membuatnya untuk segera membuang jauh pikiran negatif tersebut. Jimin memutuskan untuk kembali pulang kerumah orangtua mereka karena urusannya di Seoul telah selesai.
"Jungkook? Hari ini kau tidak bekerja?"
Jiyeon menolehkan kepalanya menatap Jungkook yang berbaring malas di sofa. Pria itu memutuskan untuk beristirahat di apartemen Jiyeon karena merindukan gadisnya. Beberapa hari ini di sibukkan dengan pekerjaan yang membuat otaknya nyaris pecah—belum lagi umpatan kasar Yoongi kala itu ketika Jungkook tidak sengaja tertidur saat rapat dengan klien mereka dari Jepang. Alhasil, umpatan Yoongi sukses selalu menggema dan terulang-ulang—bagaikan kaset rusak—dalam otak Jungkook.
"Dasar tidak waras, tidak punya urat malu, tidak punya etika, tidak punya sopan santun, idiot, otak udang, pengacau, enyah saja kau!"
Sialan, Min Yoongi! Jungkook ingin sekali memperpendek umur pria pucat itu jika ia lupa mengingat jasa-jasanya.
Jungkook menyahut dengan suara lemah, "Tidak, Ji. Hari ini aku lelah, ingin istirahat saja."
Setelah menyahut dengan nada yang tidak bergairah tersebut, pria itu menelungkupkan tubuhnya di sofa. Mencoba mengusir dalam diam kalimat-kalimat kutukan Yoongi yang masih saja bertahan dalam kepala. Sialnya lagi, kepala Jungkook mendadak berdenyut sakit.
Jiyeon menghampiri Jungkook dengan secangkir teh di dalam genggaman, meletakkannya di atas meja dan mendekat ke arah Jungkook. Mengusap lembut surai hitam legam pria itu.
"Ada yang mengganggu mu, Jung?"
Jungkook menoleh, menghembuskan napas kasar dan mendudukkan dirinya. Sedikit meringis di kala sakit kepala tersebut semakin menjadi-jadi hingga membuatnya memejamkan mata dengan erat.
"Minumlah." Jiyeon menyodorkan teh yang sempat ia buat untuk Jungkook.
"Terima kasih, Ji."
Perlahan Jungkook meneguk teh yang di seduh Jiyeon untuknya sambil memejamkan mata. Menyegarkan tenggorokan yang sempat tercekat beberapa waktu yang lalu.
"Sudah baik?"
Jungkook mengangguk dan tersenyum, "Kemarilah." Pria itu menyuruh Jiyeon untuk lebih mendekat ke arahnya setelah meletakkan kembali teh di atas meja.
Sesampainya di hadapan Jungkook, lelaki itu menarik tangan Jiyeon dan mendudukkan gadisnya di pangkuan. Mengikis jarak yang tersisa di antara mereka, membawa kedua lengan Jiyeon untuk melingkar manis di lehernya.
Jiyeon tercekat, "J-jungkook, apa yang—"
"Sstt.. jangan bicara." Jungkook meletakkan telunjuknya di depan bibir Jiyeon—mengisyaratkan untuk diam. Sepersekon kemudian menjatuhkan kepalanya di bahu sang gadis, sambil berujar lemas, "Biarkan aku beristirahat sebentar saja, aku lelah, Ji."
Gadis itu meneguk ludahnya susah payah, mencoba menahan nafas tatkala aroma tubuh Jungkook menggelitiki hidung—memabukkan sekali.
Dengan gerakan lambat kedua tangan Jiyeon mencoba merengkuh punggung kekar Jungkook. Mengusap dan memberikan ketenangan untuk pria itu, berharap dapat menghilangkan segala beban yang bersarang dalam otaknya. Beriringan dengan dentuman jantung Jiyeon dengan tempo yang cepat kala itu juga. Gadis itu mengulum bibir untuk menghilangkan rasa canggung yang merangsak secara tiba-tiba ke permukaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsession or Love ✔
Fanfiction[DIBUKUKAN; Discontinue] Penuh akan kebingungan. Obsesi. Cinta. Keduanya hampir sama memenuhi segala sudut relung pikiran Jeon Jungkook. Membuatnya dilanda kebimbangan yang mendalam. © 2019 seagulltii Started : 26 Januari, 2019 Finished : 04 Mei, 20...
