Hancurnya Hati Sang Pencuri

101 13 6
                                    

Crystal memasuki kelasnya dengan dongkol, kejutan yang diberikan Angelo masih terputar di otaknya bagaikan kaset rusak. Calysta dan Eliza masih tidak mengerti apa yang dimaksudkan Angelo pada koin yang diberikannya kepada Crystal, hingga pagi ini Crystal tetap bungkam dan membuat Eliza juga Calysta penasaran setengah mati.

“El tanyain Crystal soal koin kemaren gih!” ucap Calysta dengan membuat kode mata memutar ke arah Crystal yang sedang berada di depannya.

Eliza langsung menggelengkan kepalanya dengan kencang sambil melambai-lambaikan tangannya menandakan ia menolak permintaan Calysta. “gak ah, nanti aku lagi yang kena semprot, kamu aja Cals” usul Eliza.

“gak ah!, kamu aja! kamu kan adik😁” Calysta tersenyum sambil menampilkan deretan giginya yang rapi. Eliza memonyongkan bibirnya tanda tak setuju dengan perkataan Calysta.

“eh kalian berdua ngomongin apaan?” tanya Crystal yang mengagetkan mereka berdua.

“ini.. si Eliza mau nanya. Itu, coin dari Angelo untuk apa yah?” Eliza menyikut Calysta karena merasa dimanfaatkan, sedangkan Calysta memberi tanda agar Eliza diam saja.

Crystal terlihat gelisah saat Calysta membahas tentang barang laknat dari Angello itu. “itu..itu..” Crystal mencoba mencari alasan yang tepat agar Calysta dan Eliza tidak curiga.

“itu apa?” Calysta mendesak Crystal. “itu..coin itu..Angello kasih karena...punya utang sama gue!” Crystal berharap alasannya itu dapat diterima oleh Calysta dan Eliza.

Calysta mengerutkan dahinya, “bener?, gak bohong?” tegas Calysta. Crystal dengan cepat menganggukkan kepalanya. “kenapa aku gak percaya ya?” tanya Calysta pada dirinya sendiri. Sedangkan Crystal melotot mendengar perkataan Calysta.

“bener kok!” Crystal menyakinkannya. “iya-iya kita percaya kok” Eliza mendahului Calysta bicara, ia tidak ingin masalah Coin itu panjang sehingga membuat Crystal tak nyaman.

“ke kantin aja yuk aku sudah lapar!, butuh makan”.

***

00.01

Crystal masih membuka mata padahal jam sudah menunjukkan pukul tengah malam. Crystal benar-benar tidak bisa menutup matanya, ia masih memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Bukan masalah Coin dari Angello tapi hal lain.

Crystal meninggalkan kamarnya diam-diam, ia tak ingin membangunkan Eliza dan Calysta. Crystal berjalan di sekitar taman Heaber yang diterpa cahaya lampu yang remang-remang. Tangannya menyentuh sesuatu yang berada di dalam kantungnya.

“kau belum tidur?” tanya seseorang dari arah yang berlawanan. Crystal langsung menoleh ke depan serta menyesuaikan penglihatannya pada seseorang di taman itu.

“Angello?, ngapain lo kesini?” ucap Crys yang langsung gelagapan saat mengingat kembali barang yang diberikan Angello.

“suka-suka saya dong, ini kan sekolah punya ibu saya!” Angello berkata sombong di akhir kalimatnya. Crystal mencibir saat mendengar jawaban Angello, matanya berputar 180° mendengar betapa angkuhnya Angello dengan segala kekuasaannya.

“stop!, gak usah jadi orang sombong!” Crystal menaikan jarinya.

“maaf itu sudah menjadi kebiasaanku” ucap Angello dengan bergidik bahu yang membuat Crystal makin sebal.

Angello berdehem mengembalikan topik awalnya, ia merasa sudah sangat jauh dari topik awal.

“aku tanya, ngapain belum tidur?” tanya Angello lagi. Untuk sesaat Crystal melirik Angello, ia menimbang-nimbang antara menceritakan masalahnya pada Angello atau tidak.

“lagi gak mau aja!” Crystal masih enggan membagikan masalahnya pada orang lain. Angello merasa Crystal menyembunyikan sesuatu darinya.

“punya masalah?, cerita aja!” ucap Angello tulus. Crystal rupanya terpengaruh akan bujukan Angello yang secara tidak langsung itu.

‘lagi pula Angello partner yang baik, apa aku kasih tau aja?’

Crystal bimbang antara memberitahukan Angello atau tidak.

“ya udah gue balik deh!” seru Angello yang sudah siap melangkah pergi meninggalkan Crystal.

Crystal menarik lengan Angello yang mengakibatkan Angello terhenti. “tunggu!” ucap Crystal, ia masih ragu memberitahukan rencananya.

“ apa sih?, kalau lo gak ngomong gue pergi nih!” ucap Angello memperingati. Crystal terlihat kesal dengan desakan Angello, sedangkan Angello tersenyum senang tanpa diketahui oleh Crystal.

“iya, iya!, kau tahu ini apa?” tanya Crystal yang sudah mengeluarkan benda yang sedari tadi dipegang olehnya.

Angello melebarkan matanya melihat benda yang berada di tangan Crystal sekarang, ia masih tidak percaya masih bisa melihat benda itu setelah sekian lama hilang entah kemana.

Angello mencengkeram lengan Crystal, ia merasa marah sebab benda selama ini di carinya berada di tangan Crystal, yang berarti Crystal yang telah mencurinya.

“kau sama saja dengan perempuan lain!, dasar pencuri!” Angello mendorong Crystal seakan ia jijik memegangnya, Angello meninggalkan Crystal dengan kebingungan yang mendalam.

Crystal merasakan hatinya tercubit saat Angello mengucapkan kata-kata itu dari mulutnya, menurutnya Angello hanya salah paham terhadap dirinya, Angello harus tahu yang sebenarnya.

Pelupuk mata Crystal sudah tergenang oleh air mata, ia tak tahu mengapa ia menangis, tapi jantungnya serasa dicabut paksa keluar dari rongganya, lututnya bergetar sehingga tak mampu menopang berat tubuhnya lagi. Saat itulah tangisnya pecah oleh sesuatu yang tidak dimengertinya.

“sakit..” suara Crystal begitu lirih di keheningan malam itu, ia memegang dadanya seakan anak panah telah tertancap di tempat yang paling tepat.

TBC...

Alergic to SchoolTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang