Hai...
Kamu yang tak diizinkan Tuhan untuk mendengarkan suara hatiku.
Ah, aku lupa.
Bagaimana aku mengenalmu dulu, topik apa yang dulu biasa menghidupkan percakapan kita.
Bagaimana kau dan aku biasa saling menimpali kata demi kata, bagaimana aku biasa tersenyum padamu, bagian darimu yang biasa membuatku tertawa.
Ah, semua itu seolah terbang dan menghilang dari ingatanku.
.
.
.
.
.
Cekidot!
Flashback on
"Hey, gue boleh gabung?"
"Boleh banget. Kebetulan banget gue mau pergi check up,"
"Check up?" tanya Acha penasaran.
"Iya, batin gue butuh asupan!"
"Asupan batin? Lo sakit jiwa?" sahut Riyan meledek.
"Dokter gue super ganteng!"
"Haha dasar mata panci bolong!!" Seru Riyan menahan tawa.
Ayla berlalu. Meninggalkan Riyan bersama Acha menggantikan dirinya. Ia memang harus ke dokter. Sekali sepekan ia akan pulang lebih cepat dari sekolah karena jadwal check up hanya 30 menit setelah bel pulang sekolah berbunyi.
"Ayla sakit apa, Yan?"
"Entah. Dia nggak pernah mau ngebahas itu. Jadi gue nggak enak aja buat nanya. Tapi, sekolah udah tahu kok."
"Oh, gitu? Padahal keliatannya dia sehat-sehat aja."
"Haha, sakit itu kan nggak perlu tepar atau berdarah-darah. Justru sakit yang tanpa darah itu... Lebih mencemaskan. Hah, dia pasti tau apa yang dia rasain," jelas Riyan. Gadis itu mematung.
"Wahhh.. Lo suka baca status alay pesbuk, yak? Sakit tapi tak berbleed,"
"Hahaha. Yah emang bener, kan? Aids baru kerasa kalo udah lima tahun kena infeksi HIV,"
"Asyiaaapp, Professor!"
Keduanya tertawa. Acha berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa ia tak sedang bermimpi. Hal itu membuatnya semakin suka pada sosok yang terduduk di sisinya. Meski kadang ia takut menjadi terobsesi padanya. Tanpa sadar laki-laki itu tengah membuka pintu selebar-lebarnya dan mempersilahkan gadis itu untuk memasuki ruang kehidupannya.
"Oh, ya. Gue kok liatnya lo main sama Ayla doang?"
"Yah, mungkin gara-gara tiap hari cuma dia yang berani ngerecokin gue, ngekor ke mana-mana. Jadi lama-lama kayak sering samaan. Dia nggak suka baca tapi malah ngekor gue terus walaupun ke perpustakaan."
"Perjuangan yang berat." Acha menggumam. Riyan tersenyum. "Lo nggak minat ikut grup futsal gitu?"
"Gue nggak ada waktu. Gue palingan olahraga lari-lari sore sambil kerja."
"Kerja?"
"Gue ada master plan yang harusin gue buat banting rusuk. Belikat sekalian kalo bisa. Hahaha."
"Wow. Plan apaan? Buat study abroad?"
"Kalo kuliah di luar negeri, gue mungkin nggak bakal bisa ngelaksanain master plan gue."
"Hah? Jadi itu alasan lo buat nolak beasiswa ke Eropa?"
"Hahaha Lo denger dari mana?"
"Gue denger gibahan temen kelas sama guru-guru, ya gue ikut nimbrung aja, penasaran."
"Kalo gue nerima, mungkin gue bakal kehilangan seseorang yang berharga, selamanya."
Deg.
Gadis itu terkejut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nikah Lagi, yuk!
Ficção GeralGue nggak paham alur cerita gue sendiri. Sampai detik ini pun rasanya semua kayak mimpi. Tapi hamdalah banget gue masih bisa sadar kalo keputusan gue bego banget. Yah, dari pada nggak nyadar-nyadar? Intinya Lo nggak bisa bangun hubungan kalau bukan...
