Bab 42 : Makin Ganjil

355 28 1
                                        

Kuhentikan langkah juangku sampai disini.
Kuputuskan untuk menghapus segala tentangmu.
Kau tak akan bisa mencegahku.
Tidak, kau hanya tak akan mau.
.
.
.
.
.

Di ruang hampa udara. Nafasnya sesak. Hatinya remuk. Ia menahan air matanya begitu kuat. Hingga yang tersisa hanya senyum pahit. Getir kecewa telah ia telan dengan paksa.

"Lo beneran udah nikah?"

Tarian bolpoin Riyan seketika berhenti. Padahal tinggal sedikit lagi lembar diagnosa sementara Loli akan selesai ia rekap.

“Check up sudah selesai. Kamu boleh pulang dan istirahat. Setelah dilakukan pemeriksaan di lab tadi selama kamu pingsan, ada sedikit masalah di beberapa organ yang telah menjalani operasi waktu itu. Tapi sejauh ini tidak ada masalah berarti. Kami akan terus memantau perkembangan dari-”

"Jawab gue, An!"

Pria itu bungkam. Ia menduga pasti Loli telah mendengar percakapan sebelumnya. Dingin di wajahnya masih tak berubah. Tak ada raut panik. Terlalu tenang.

Astaghfirullah...
Gue abis kesatanan, ya?
Innalilah...
Gimana nih?
Gue harus minta maaf...
Lagian tadi malah keceplosan pake 'lo' 'gue'...
Duh, kebegoan macam apa ini?

Lagian gue kok tiba-tiba ngegas, ya?
Haha..
Emangnya kenapa kalo dia udah nikah?
Yah wajar aja, kan?
Tampan, mapan, menyebalkan...
Tak ada yang tak ada dalam dirinya.

Apasih.
Ini sih ga ada apa-apanya.
Haha.

"Iya, sudah."

Deg.

Ia baru saja menyadari bahwa dirinya telah begitu munafik. Mengingkari keyakinan bahwa ini bukan apa-apa baginya. Sungguh, ia tak bisa memungkiri rasa sakit itu. Tak ayal, tanpa sadar, hujan tak berlangit menimpa wajah mungilnya.

"Kenapa?"

"Sakit banget."

Deg.

Kali ini Adriyan yang tertegun. Ia menyadari wajah Loli sudah tak berbentuk wajar karena air mata yang menyelimuti lukanya.

"Lain kali kasi gue obat minum aja. Gue nggak mau disuntik lagi. Gue nggak mau kena jarum infus lagi. Nggak mau tau pokoknya gue nggak mau! Titik! Nggak pake koma-komaan, apalagi tanda petik dua!"

.
.
.

Loli pulang bersama mama Rosita setelah hampir 4 jam berada di rumah sakit. Rosita menoleh ke arah putrinya yang tampak begitu kacau. Ia merasa iba sekarang.

"Ta-"

"Ma," sabet Loli tak menyadari mamanya ingin bicara di saat yang sama.

"Ya?"

"Ita nggak akan pernah menikahi seorang dokter!"

Rosita terkejut, lalu tersenyum beberapa detik setelahnya. Padahal ia ingin mengatakan yang sebaliknya karena ia sadar bahwa tak seharusnya mengekang putrinya. Namun Rosita tak tahu keajaiban macam apa yang melunakkan hati Lolita.

Nikah Lagi, yuk!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang