Akan kuciptakan 10.000 alasan agar kau dan aku saling merindu.
Akan kuhancurkan 10.000 alasan bahwa kau bukan takdirku.
_
_____
___________
_____________________
________________________________
Flashback on
Dering ponsel Riyan berbunyi nyaring. Cukup untuk membuat pemiliknya yang berada sekitar 50 meter darinya terganggu. Pemuda itu sedikit terkejut melihat nomor yang tertera tak dikenal oleh list kontak di ponselnya. Dengan berat hati, ia menggeser button berwarna hijau dan mulai fokus mendengarkan suara di ujung sana.
"Hi, Professor."
Suara yang tak pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya. Suara yang paling ingin ia lenyapkan selamanya. Tak ayal, beberapa tetes keringat dingin mengucur di sepasang pelipis dan keningnya.
"Kenapa... lo bisa nelepon gue?"
"Haha. Kenapa? Kita kan sepasang kekasih. Kita nggak boleh lost kontak lebih dari sehari," ujarnya santai semakin membuat Riyan tegang.
"Jangan bercanda! Lo dimana sekarang?" Bentak Riyan geram. Ia mengalihkan pandangannya pada gadis yang terbaring nyenyak di atas tempat tidur.
"Ah, lo kangen ya sama gue? Ya udah, jemput gue di tempat terakhir kita ketemu. Gue juga udah siapin kejutan buat lo. Bye, Honey."
Tuk.
Telepon ditutup secara sepihak. Tak berselang beberapa detik berlalu, ponselnya kembali berdering. Kali ini bukan dari orang yang sama.
"Ada apa, Kak?" Tanya Riyan pada penelepon yang merupakan Dewi, kakaknya, sekaligus jaksa yang menangani kasus Gea.
"RSJ tempat Gea dirawat, sekarang sedang mengalami kebakaran besar."
Oh tidak.
Tanpa berpikir panjang, Adriyan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju RSJ yang dimaksud. Kepalanya terasa pening. Akal sehatnya tengah berusaha memahami keterkaitan antara setiap peristiwa yang terjadi.
15 menit berlalu, ia tiba di tempat. Dan, benar saja. Kini hanya kobaran api yang terlihat. Raganya mematung dengan sempurna. Beberapa orang terluka sedang dievakuasi. Beberapa lainnya masih terjebak.
"Laporan sementara, 5 orang meninggal dunia, 20 yang lainnya terluka cukup parah, sisanya luka ringan," ujar Dewi menjelaskan keadaannya.
Pemuda itu masih bergeming. Ia masih berusaha untuk tetap fokus. Hingga ponselnya kembali berdering.
"Hi, Professor. Gue tau lo udah nyampe. Gimana? Lo udah terima sambutan dari gue?"
"Lo... Pelakunya?"
"Haha. Emang siapa lagi?"
Innalilah...
Gue harus gimana?
"Oh iya, dia nyenyak banget. Gue jadi nggak tega buat bangunin dia."
Deg.
Nggak bisa.
Nggak sempat.
Manggil polisi juga nggak mungkin sempat.
Lagi...
Harusnya gue nggak ninggalin dia.
Ya Allah, I beg you please take care of her.
"Lo mau apa?"
"Lo bego, ya? Apalagi kalo bukan ngebantai pelakor di antara kita?"
"Gue tanya apa mau lo?!!" Bentak Riyan kehabisan rasa sabar. Orang-orang di sekitar memandang dengan tatapan aneh.
"Lo yakin?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Nikah Lagi, yuk!
Fiction GénéraleGue nggak paham alur cerita gue sendiri. Sampai detik ini pun rasanya semua kayak mimpi. Tapi hamdalah banget gue masih bisa sadar kalo keputusan gue bego banget. Yah, dari pada nggak nyadar-nyadar? Intinya Lo nggak bisa bangun hubungan kalau bukan...
