"Kami ucapkan selamat malam dan selamat datang kepada seluruh penumpang kereta api ***. Saat ini, perjalanan anda telah sampai di stasiun *** . Bagi anda yang ingin mengakhiri perjalanan di stasiun ***, kami persilakan untuk segera turun. Sebelum turun, periksa dan teliti kembali barang bawaan anda. Jangan sampai ada yang tertinggal ataupun tertukar di dalam rangkaian kereta. Kami ucapkan terimakasih atas kepercayaannya anda telah menggunakan jasa angkutan kereta api."
"Alhamdulillah akhirnya kita sampai, Li, barangnya sampean dicek dulu ada yang tertinggal nggak?"
Ali dan Zaen mengecek satu persatu barang bawaan sebelum meninggalkan bangku kereta.
"InsyAllah dah semua, Zaen."
Mereka pun akhirnya beranjak dari tempat duduk, lalu melingkarkan tas ransel hitam dibahu masing-masing. Ali menenteng sebuah bingkisan yang terbungkus tas karton berwarna coklat dengan bagian depan tertulis "Oleh-oleh khas Jogja".
Mereka pun segera melangkahkan kaki keluar melewati pintu kereta sesaat setelah semua penumpang kereta turun. Suasana stasiun pukul 8 masih saja ramai, ada yang harap-harap cemas dengan sesekali melihat jam tangannya dan ada pula yang langsung menyambut kedatangan orang yang turun bersama Zaen.
"Gus Zaen ...." Zaen pun segera menoleh mencari sumber suara yang sangat ia kenali.
"Masya Allah Kang Yusuf, sue banget gak ketemu, pripun kabare?"
Kedua sahabat yang telah lama berpisah itu sejenak saling berpelukan untuk menumpahkan rasa rindu.
"Alhamdulillah baik, Gus, jenengan pripun? Terus ini temene gak dikenalke ta?"
"Oh ya masya Allah sampek lupa." Zaen menepuk jidatnya sendiri, lalu memegang pundak Ali. "Perkenalkan ini namanya Ali teman saya ketika di Tarim. Beliau asli Jogja juga sama kayak sampean iku. Apa ternyata malah tetanggaan ki?"
"Salam kenal, Kang" Ali pun segera mengulurkan tangannya dan disambut oleh Yusuf yang mau cium tangan tapi segera ia tepis.
"Nggeh, Gus salam kenal ugi. Jogjane pundi lo?"
"Alah mboten sah gus-gusan, panggil kang saja lo. Saya asli dari Sleman, sampean Jogjane mana, Kang?
"Enak panggil gus mawon, kalo saya dari Bantul, Gus."
"Lumayan jauh ternyata."
"Nggeh, eh ya, Gus ngobrole lanjut di pondok saja, ayo pulang mpun ditunggu umi sama abah lo."
Mereka pun segera meninggalkan stasiun menuju parkiran tempat Yusuf memarkirkan mobil. Gus Zaen duduk di bagian depan di samping Yusuf, sedang Ali duduk di bagian belakang.
Mobil pun melaju, berbaur menjadi satu dengan pengguna jalan lainnya. Zaen mengamati dengan seksama setiap sudut-sudut kota yang ia lewati. Empat tahun sudah kota kelahirannya ia tinggalkan, bohong jika rasa rindu itu tak tertulis dalam sanubarinya. Kendatipun kota yang sekarang dengan sebelum ia tinggalkan sudah berbeda. Tersimpan berbagai kenangan yang yang tetap terukir dalam ingatannya. Ia ingat betul bagaimana jerih payahnya harus bolak balik desa kota untuk mendapatkan gelar sarjana. Perjuangannya 4 tahun lalu itu terbayar dengan predikat cumlaude yang ia sandang. Sebuah predikat yang juga terulang ketika ia menempuh study magister di negeri orang.
45 menit sudah Yusuf melajukan kendaraan yang ia kemudi. Suasana kota yang ramai terganti dengan suasana desa yang sepi. Jalan-jalan ramai terganti dengan jalan sempit dan berkelok. Hilir mudik kendaraan hampir tak terlihat.
Zaen membuka jendela untuk menikmati hawa dingin yang mulai terasa saat menanjak.
"Wah ternyata rumah ente nanjak ya, Gus," celetuk Ali ditengah keheningan karena sama-sama menikmati keindahan alam yang sudah tertutup kegelapan.

KAMU SEDANG MEMBACA
MAHLIGAI CINTA SANTRI NDALEM
RomanceYusuf Mahfudz santri abdi dalem yang populer diharuskan mengajar santri putri yang terdapat seorang gadis yang terkenal dengan banyaknya catatan kasus pelanggaran, Nadia Hasna. Sabarkah Yusuf menghadapi murid yang nyentrik itu? Padahal ia terkenal k...