Sudah 12 semester aku menjadi mahasiswa, atau 6 tahun aku di sini sebagai manusia yang mengusang dikampus ini. Ingin cepat - cepat keluar dari sini, melepaskan beban orang tua, menjadi anak yang mandiri dan merantau seperti sejatinya pemuda minang, tapi tertahan di sini bersama skripsi yang sudah anniversary dua kali. Bags****t.
Setelah dari pustaka dan meminjam beberapa buku keperluan untuk literasi bacaan peneltianku, aku bergegas menuju stasiun kereta dengan angkot, dan selalu aku memilih bangku depan di samping supir. Aku suka bercerita, apa lagi bersama pekerja. Aku suka menyerap suara mereka, menghirup pekat aroma peluh mereka, aku suka berada ditengah - tengah cerita mereka.
Sesampai di stasiun, dan membeli tiket dengan keterangan bangku 3b. Kereta berangkat tertanda di jadwal pukul 17.20 wib dan aku sudah datang sekitar jam 16.00 wib. Sembari menunggu aku shalat di mushola stasiun, tak lupa kubungkus bagian celana robekku dengan scraff kesayanganku. Setelah sholat aku memilih duduk sembari mendengarkan lagu indie atau band yang tidak familiar yang baru ku kenali, seperti , silampukau, danilla - berdistraksi atau band lokal dari kotaku sendiri. Aku tidak suka musik familiar, aku suka musik yang memiliki pesan sosial, memiliki arti dan penggunaan kata, kalimat yang unik, genrenya terserah.
Lama menunggu sekitar 1 jam lebih, pintu di tiap - tiap gerbong kereta dibuka, sekaligus petanda penumpang sudah dapat menaikinya. Aku duduk sendiri dikolom bangkuku, bahkan hanya beberapa orang digerbongku, stasiun awal memang begini, sepi, nanti juga ramai sendiri tiap - tiap ia singgah memuat penumpang di stasiun. Kereta melenguh, menyahut peluit yang ditiup oleh masinis. Kereta berjalan dan aku membuka isi tas dan mengambil buku yang tadi ku pinjam. Sejenak aku membaca, sebelum kereta berhenti distasiun selanjutnya, sebab jika sudah ramai aku tak bisa membaca dengan baik.
Kereta berhenti di sebuah stasiun pukul 17.30, buku yang ku baca tadi ku masuki lagi ia ke dalam tas. Ku lihat Seorang - seseorang dari mereka yang mulai memenuhi gerbong kereta sedang mematut tiketnya, ada juga yang sibuk meletakkan barang ke bagian bagasi atas kereta. Di sebelahku duduk seorang pria berdasi seperti pekerja kantoran, sementara di depan sang pria seorang guru berbaju korpri. Dan di depanku masih kosong, dan tak ada perasaan apa - apa jika sosok itu datang, sosok wanita berkerudung dalam dengan senyum manis yang sukar ku dapatkan tadi, hanya secuil dan sebentar lewat celah - celah gerbong aku menyaksikan itu, seperti menunggu meteor jatuh di malam hari, sulit dan harus fokus menunggu, berkemilau memang.
Ia berjalan lambat sembari memegang tiketny, dari awal ketika membuka pintu gerbong aku sudah melihat ia masuk ke gerbong ini, tapi tidak menyangka jika akan duduk tepat di depanku. Hadap menghadap. Pelan - pelan menuju ke arah, dan aku memalingkan wajah ke jendela atau memilih menunduk melihat hp yang sebenarnya tidak ada apa - apa. Dia duduk dan kurasa tidak menyadari pula ada aku di depann pada awalnya. Aku memaksa untuk memastikan itu dia, sebenarnya ia sudah pasti, hanya ingin melihatnya dekat, meski dengan cara yang tidak gagah, aku mencoba pura - pura mendongak melihat ac di atas, dan mencuri sedikit ke arah dia punya wajah. Dan hening..... kami terjebak saling menatap, mungkin hanya sedetik, tapi waktu berjalan begitu lambat ketika dua pasang bola mata kami saling terperangkap. Aku kaku, dan matanya kulihat sama. Sepasang mata itu seperti terpaku dalam satu pandang, dan tidak bisa apa - apa sebelum akhirnya kami saling melempar muka. Aku memilih ke arah jendela, sementara ia menunduk dan memanggut tasnya seperti hendak tidur.
Kereta berjalan, dan tak ada tatapan yang lagi terperangkap saling tatap. Keadaan di waktu itu sangat aneh bagiku, sebab meski aku pernah mencintai seseorang, yang seperti ini tidak pernah kutemukan. Aku tidak bisa berkutik untuk hanya sekadar membalas senyum, melempar ucapan basa - basi yang dibungkus rayuan atau sekadar mencoba mencari modus untuk dapat bicara. Selalu ada cara ketika dengan yang lain dulu, tapi dengannya aku bungkam dan tak dapat membahasakan apa - apa di depannya.
Setelah kereta berjalan beberapa menit dan berhenti lagi di stasiun selanjutnya, kereta semakin memadat dan berisi. Beberapa oranv kulihat banyak yang berdiri.
Seorang ibu tua sebaya dengan ibuku kuterka umurnya, ia berdiri dipintu gerbong. Sambil menentang bawaan belanjanya yang cukup banyak, aku merasa tidak tega. Melihatnya melihat ibu, sebagai anak yang masih kuat dan bertenaga tak seharusnya aku duduk dibangku ini, apa lagi aku tidak bisa apa - apa selain melihat jendela dan menunduk kepa di sini.
Aku berdiri dan menyandang tas, pergi ke arah ibu yang kulihat ada ibuku diwajahna tadi. Aku sodorkan tiket milikku agar ia dapat beristirahat dari penat setelah belanja. Sang ibu awalnya menolak,
"Buk, duduk saja di sana, tukar tiket kita, biar andre yang berdiri di sini" ucapku sambil menyodorkan tiket milikku pada sang ibu."Tidak usah merepotkan nak, ibu kuat " ucap sang ibu sambil tersenyum dan meyakinkanku.
"Buk, ambil saja tiket andre, melihat ibu adqn
Melihat ibu andre dirumah bu, sebagai anak ini kewajiban andre buk, kereta sudah mau jalan, nanti ibu sempoyongan menuju bangku" balasku meyakinkan.Sang ibu menyetujui, ia menuju bangku dan mengucapkan terima kasih yang dalam sambil mengusap kepalaku. Katanya kepadaku; "kamu baik, jadilah orang baik selamanya. Sebuah pesan sederhana namun sangat mendalam, "kamu baik dan jadilah orang baik selamanya".
Ku ulang - ulang kalimat itu untuk diingat selalu di atas kereta.Dan kembali di posisi di tempat antara gerbong kereta, namun tidak ada celah untuk melihatnya. Kereta ramai dan penuh kepala - kepala penumpang berdiri, ia terbenam di antara kolom bangku yang cukup jauh dari sisi berdiriku.
Kereta tiba di stasiun, aku turun dan menaiki ojek langgananku, kembali sambil bercerita seputar keseharian kang ojek tadi, entah penghasilan, cuaca, atau bahasan politik lokal di daerahku sekalipun.
*dirumah aku mencatatkanmu baik -baik, ditemani kopi dan rokok canduku, kau juga menjelam menjadi seseorang kucandui untuk ku tuliskan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sepasang Pemalu
General FictionKisah sepasang pemalu yang terjebak dalam perasaan suka namun sukar untuk saling mengenal. Hanya lihai menerka rasa, namun untuk bicara saja mereka tidak punya kemampuan. Mereka tahu, sama - sama memiliki nafas yang tetiba tergesa - gesa ketika ber...