Chapter 14

1.2K 198 6
                                        


Sasuke membanting ponselnya kesal saat dering telepon rumahnya membuatnya semakin menggeram frustasi. Ini karena Shisui. Bocah itu menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Semua orang sudah ia kerahkan untuk mencarinnya. Pihak kepolisian sudah mengecek seluruh kamera CCTV di kota tersebut untuk melacak Sang Bocah, tapi hasilnya nihil. Sasuke sangat panik. Tentu saja. Sudah cukup ia melepaskan Sakura. Dan kini ia tidak ingin salah satu bagian dari wanita musim semi itu kembali menghilang dari genggamannya.

Karin yang tahu betapa Sasuke terganggu dengan suara dering telepon rumahnya, segera mengambil inisiatif untuk mengangkatnya. Namun, belum lama Sasuke mendapatkan ketenangan dari gangguan dering telepon yang memekakkan telinga, suara Karin yang berteriak-teriak memanggil namanya kembali membuat kepalanya pecah.

"Sasuke! Sasuke!" Ia menatap tajam gadis yang tampak tidak peduli dengan aura gelapnya. Kekasih Suigetsu itu langsung menyodorkan telepon nirkabel padanya. "Sakura menelepon. Shisui sedang bersamanya!" serunya heboh. Sasuke terkejut mendengarnya. Spontan saja ia merampas telepon dari tangan Karin dan menempelkannya di telinganya.

"Sakura!" Suara terkejut dari seberang sana sudah dapat membuat Sasuke tahu kalau wanita itu kaget mendengar sapaannya yang sedikit membentak. Mungkin ia kira pria Uchiha itu sedang marah. Dan Sasuke sedikit menyesalinya.

"Anoo. Maaf kalau aku mengganggu, Uchiha-san."

"Hn, tidak perlu sungkan." Kali ini Sasuke mengontrol suaranya. "Aku dengar Shisui sedang bersamamu?"

"Maafkan aku, Uchiha-san. Aku melihatnya kehujanan dan aku hmm... aku berpikir untuk menolongnya, karena dia terlihat kedinginan."

Sasuke tersenyum tipis dan terlihat sangat lega dalam waktu yang bersamaan. Tidak pernah menyangka ini yang akan terjadi. Ini bukanlah skenario yang mampu ia rancang. Ini sudah diluar dari kuasanya. Ini takdir. Takdir yang menetapkan Sakura tidak akan pergi terlalu jauh darinya. Akan ada benang merah yang selalu mengikat kelingking mereka. Selalu mengikat hati mereka. Secuil rasa bahagia menyusup masuk dalam hatinya seiring dengan dua kalimat lolos dari bibirnya.

"Hn, aku akan menjemputnya besok. Aku titip dia padamu."

Sebuah kepercayaan yang ia titipkan pada wanita itu. Kepercayaan bahwa ia bisa mengambil kembali hatinya. Sasuke tahu ini adalah pertanda baginya untuk tidak menyerah.

"Baiklah kalau begitu. Aku rasa...hmm... aku rasa juga tidak baik kalau pulang malam ini. Diluar sedang hujan dan sangat dingin." Suara itu terdengar sedikit ragu. "Uhmm..Dia juga sedikit demam." Ia mengucapkannya dengan sedikit takut namun dengan segera ia langsung memberondong serentetan kalimat yang seakan ingin meyakinkan Sasuke bahwa Shisui baik-baik saja. "Tapi jangan khawatir, dia baik-baik saja. Aku sudah mengganti bajunya yang basah dan dia tidur di tempat tidurku yang hangat. Aku sudah memberinya susu hangat dan menempelkan koyo di tubuhnya. Dokter juga sudah memeriksanya. Dia hanya demam karena kehujanan dan kelelahan karena berjalan terlalu jauh. Dia akan segera sembuh. Jadi kau tidak usah khawatir!"

Dan suara itu adalah lantunan paling indah bagi Sasuke. Bagaimana Sakura begitu perhatian dengan Shisui –anaknya. Bagaimana ia merawatnya dengan baik. Dan itu sudah cukup bagi Sasuke untuk permulaan. Ia tidak khawatir. Sasuke tidak akan pernah khawatir jika yang bersama Shisui adalah Sakura. Ia percaya dengan wanita itu.

"Sakura–" Jeda sesaat. Hening meliputi mereka. Sasuke seakan sedang menikmati setiap detik momen kebahagiaannya dapat berbicara dengan wanita itu. Menikmati setiap detak jantungnya yang terus berpacu untuk mengucapkan kalimat selanjutnya. Kalimat yang mengungkapkan ketulusan dari dalam hatinya. "–terima kasih."

Once AgainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang