Like Yesterday,

130 16 1
                                    

"Nona Lee, jam 1 siang tolong datang ke kantorku sebentar ada yang perlu aku bicarakan dengan mu", nada tegas ala atasan kepada bawahannya.

"Baik, Pak Eun Woo". Melanjutkan tugasnya dan banyaknya email masuk atau permintaan editing cerita. "apakah ada yang lebih buruk lagi hari ini, kenapa juga dia memintaku datang kekantornya. Bukan dia sangat membatasi diri dengan pegawai dikantornya, bahkan dia memanggilku kekantornya. Apa mungkin aku melakukan kesalahan ..." cukup berlarut dengan fikirannya hingga tak terduga seseorang mendengarnya.

"Ji Eun, itu hanya perasaanmu saja", Jiyeon adalah seorang gadis yang berteman dengan Ji Eun. 2 tahun lalu, seorang gadis yang nekat pindah ke kota dengan membawa uang yang mungkin hanya bisa bertahan selama satu bulan saja. Bertemu dengan Jiyeon bagaikan menemukan sebuah emas. Jiyeon adalah adik dari pemiliki perusahaan penerbit buku berbasis online ini, namun yang membedakan Jiyeon dengan Eun Woo adalah Jiyeon tersentuh dan sangat ramah. Bahkan Jiyeon bersikeras akan memasukkan Ji Eun kekantor kakaknya setelah membaca puisi yang ditulis di sebuah buku kecil yang selalu ku bawa.

***

"Jiyeon, aku pengen ceker pedes deh kayaknya. Nanti sore beli ceker pedes yuk, pas sore. Aku yang traktir... ya.. ya.. ya..", Jiyeon dibuat keheranan dengan manusia didepannya. Ji Eun adalah seorang yang tidak suka dengan pedas, bukan karena dia tidak bisa memakan pedas. Dia hanya berkata "untuk apa memakan makanan yang membuatmu tidak dapat menikmati rasa sebenarnya, Pedas hanya mengalihkan semua rasa. Pedas juga menggambarkan dominasi rasa, terlalu mendominasi".

Meski dia tipe orang yang tidak menyukai rasa pedas, tetapi dia tetap menyantap makanan nikmat yang menguras keringat ini. Namun hanya disaat badai datang menghantam dirinya, apakah badai itu akan datang. sudah setahun lamanya dia tidak pernah mengajak Jiyeon makan pedas.



***

Jiyeon Side

Kenapa sebenarnya anak ini, kenapa tiba-tiba. Ada yang janggal, kenapa senyumnya tidak menggambarkan sebuah kebahagiaan. Gurat senyumnya menggambarkan sebuah kepedihan yang lama disimpannya, sebenarnya ada apa. Apa dia mau mencoba menulis lagi, terakhir dia bersikap tidak biasa karena dia ingin menulis sebuah cerita dengan alasan "ingin membuat sebuah emosi menjadi lebih nyata lagi". Ji Eun memang orang yang sulit untuk dipresiksikan, namun satu yang pasti siang ini di banyak berbicara dengan rekan kerjanya.

Ya, dia meninggalkanku dengan pikiranku sendiri setelah mengajak makan ceker pedas, makanan yang sudah sangat lama dia tinggalkan. Lebih tepatnya rasa yang lama dia tinggalkan."Haruskan ku ajak dia pergi karaoke saja", menopang dagunya dimeja. Mencoba mengatur dan mengerjakan apa yang seharusnya dia kerjakan. Namun tidak mudah mengingat Ji Eun adalah sahabat yang sangat dia sayangi. Ji Eun adalah sahabat pertama yang sangat tulus berteman denganku, entah apa yang melandasi pemikiran itu. aku hanya jatuh hati pada Ji Eun saat pertama kali melihat gadis itu. Gadis yang pasrah berjalan entah kemana, bahkan gadis itu seperti tidak berselera melihat kakaknya yang super tampan.

 Gadis yang pasrah berjalan entah kemana, bahkan gadis itu seperti tidak berselera melihat kakaknya yang super tampan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dikala SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang