Rencana yang tersusun rapih di kepalaku seakan hancur berantakan. Bahkan aku tak mengingat satupun perkataannya.
Harusnya, hanya ada kebahagiaan saat ini. Saat Taehyung kembali aku benar-benar bahagia. Tapi kenapa kembalinya Taehyung harus berbarengan dengan dia. Apa aku harus melemparkan diriku ke laut. Sungguh seketika aku lelah, sangat lelah.
Aku terlalu hanyut dengan diriku sendiri, bahkan wajahku terlihat seperti orang bodoh saat ini. Aku mulai melirik ke arah Taehyung. Wow dia sudah menatapku curiga, oh apakah dia akan salah paham denganku. Ini tidak boleh terjadi. Bisa habis aku. "Tae.." mencoba memanggil, namun suaraku lebih mirip bisikan ketimbang panggilan.
"Noona...." satu kata yang menggambarkan teguran. Matilah kamu Lee Ji Eun.
Tak siap mendengarkannya marah, aku langsung menariknya entah kemana. Hingga tak terasa sudah setengah jam kami berjalan tanpa suara. Ku rasa dia coba menghargaiku dan menungguku menjelaskan semuanya. Entah kenapa bibir ini kelu dan tak ingin membahas apapun.
Ingin aku terdampar di pulau tak berpenghuni di sisa hari ini. Tapi aku tak mau Tae marah padaku, aku tidak mau dia membenciku atau jungkook. Aku harus membuatnya mengerti. Meski jika aku menjadi dirinya, aku takkan mau mengerti. Bodohnya kamu Lee Ji Eun.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Noona, aku lapar. Ada McD, ayo makan," ucapnya datar. Oh ini kedua kalinya dia bersikap dingin kepadaku. Ya ampun, mataku sudah berkaca-kaca saat ini.
Aku hanya bisa mengikuti langkahnya, membimbingku duduk di bangku pojok ruangan. Dia tengah memesan sekarang. Ah, jangankan makan, membuka mulut saja aku malas.
***
Kini dia datang dengan dua porsi ayam, kola, dan kentang. Jangan lupakan burger. Dia pecinta makanan cepat saji. Ingatkan aku untuk menegurnya setelah situasi ini membaik. Saat aku membuka mulutku, ingin menyudahi kecanggungan ini. "Jangan bicara dulu, habiskan makananmu noona...". Oh aku akan pasrah kali ini. Aku tak punya hak apapun saat ini. Akulah yang salah saat ini, akulah yang tak pernah menceritakan apapun padanya. Akulah yang menutupi semua ini. Jadi akulah yang harus menyelesaikan.
Bahkan waktuku tinggal seminggu lagi. Ya Tuhan, seberat ini kah.
Akhirnya waktu penyiksaan ini berakhir. Taehyung mulai merapihkan posisinya. Aku akan menunggu aba-aba darinya. Saat satu tanganya diangkat dan mempersihkanku berbicara. Aku menarik nafas dalam, mencari keberanianku yang entah hilang kemana. Sungguh jujur itu sulit, namun lebih sulit berbohong dengan Taehyung. Dia terlalu mengenalku.
"Tae, dengarkan noona. Jangan potong noona saat berbicara oke," Wow Ji Eun, Langkah yang bagus. Oke lalu apa?. Kenapa otakku tak bekerja. Harus dari mana aku menceritakan semua ini. Setelah menjeda sekitar 10 menit, "Tae kamu tau bagaimana hubunganku dengan Jungkook bukan. Aku sudah menjalani kehidupanku tanpa dia, tanpa memikirkan dia Tae. Tapi tak semudah itu menghilangkan ingatanku. Dia muncul di depan mataku,"
"Lalu maksud dia tadi apa?," oh Terhyung belum puas dengan jawabanku ternyata. Aku harus putar otak, bagaimana membuatnya mengerti.
"Soal itu, aku harus memastikannya dulu Tae. Yang jelas aku harus menemui Jungkook," melihat raut wajahnya, aku tau maksudnya. "Tae, aku hanya ingin memastikan sesuatu dengannya. Aku harus tetap profesional bukan?," sebuah senyuman tersungging di bibirku.
Hembusan nafas kasar terdengar. Kali ini dia berdiri. Apakah dia akan meninggalkanku, ya ampun. Dia baru kembali setelah bertahun-tahun berkelana ke negeri orang. Haruskah aku terus kesepian lagi. Tak masalah, hiburku. Kesepian sudah menjadi temanku selama ini. Menjalani kehidupan yang sepi bukanlah suatu hal yang buruk.
Wajahku diangkat oleh Taehyung. Aku baru menyadari kepala ini tertuntuk sesaat. "Kenapa?," aku berusaha biasa saja dan menatapnya. Tatapan yang selalu aku rindukan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ayo, aku ingin menunjukkan rumahku padamukan. Aku sudah menyiapkan kamar untukmu. Tinggal denganku. Noona harus ingat, kalau noona memiliki aku sekarang. Aku takkan membiarkan seorangpun menyentuh atau menyakitimu noona," aku tersenyum menatapnya, ternyata dugaanku salah. Dia tetap Taehyung yang kusayang. Tidak akan berubah.
Aku pun berdiri dan menggenggam tangannya, tangan yang selalu aku rindukan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.