Sesampainya Windy dirumah, cewek itu gak lantas mandi. Kenapa? Hanya dia dan Tuhan yang tahu alasan kenapa manusia bernama Windy ini paling susah sama yang namanya mandi. Cewek itu gak banyak tingkah malam ini. Aneh sih, bahkan orang tuanya, kakak dan adiknya sampai bertanya jenis setan apa yang merasuki saudara perempuannya ini sampai berubah kalem kayak sekarang. Masa bodo sih Windy mah gak anggap pusing juga.
Windy duduk dikasurnya, mengeluarkan semua barang-barang dari dalam tas. Ada buku, dompet sampai baju basahnya tadi sewaktu kehujanan. Dia memandangi kresek hitam itu kemudian mencari lagi dan menemukan baju kemeja merah dengan motif kotak-kotak yang terbungkus rapi dalam plastik putih, baju Mark. Cewek itu memandangi kemeja dengan lesu kemudian berbalik memandangi baju yang dia pakai bekas pinjam dari temennya Mark. Kerjaan lagi ini mah, kemeja Mark aja lupa dia balikkin, ini nambah lagi baju lain.
Hidup Windy penuh dengan barang pinjaman
Dia merogoh sakunya, mengambil hape dan memgaktifkan benda persegi itu. Memang, seharian ini hape Windy mati karena habis baterai.
Ternyata banyak chat yang cewek itu belum baca, terutama dari Jiyana yang mengabarinya gak bisa datang karena harus ke Bandung sekeluarga akhirnya menyuruh Mark yang datang. Windy mengangguk, sekarang faham kenapa yang datang tadi Mark dan bukan Jiyana. Cewek itu menselonjorkan kakinya, semakin asik melihat isi chatroomnya, sampai dichat pertengahan dia berhenti. Meski bukan dipaling akhir tapi posisinya diantara grup-grup bikin kelihatan tenggelam. Dia merapatkan bibir, merasa deg-degan begitu saja.
Halah, chat doang udah kayak dari siapa aja
081276624439 : Win ini Mark, save
Windy mengerjap, jadi merapatkan bibir. Cowok itu sebelumnya ngechat dia. Dapet dari siapa yah? Windy penasaran.
Dengan punggung menyender Windy jadi berfikir keras. Memang siapa Mark sampai masuk dihidupnya tiba-tiba begini. Cowok itu, Windy fikir dia sejenis Jebi atau Tristan yang ganteng-ganteng cuek, tapi nyatanya beda. Meski kelihatan pendiem dan bicara seadanya Mark justru gak cuek sama sekali. Cowok itu peduli, bahkan beberapa kali bantuin Windy. Cowok itu gak malu minjem baju temen ceweknya buat Windy pake, bahkan gak protes waktu nganterin Windy pulang padahal rumahnya jauh banget. Baru kali ini Windy nemuin orang yang beneran lurus tapi baik hati kayak Mark.
Suasana tenang itu pecah dengan dentingan hape yang seketika bikin lamunan Windy buyar. Cewek itu menggigit kukunya, merasa gelisah tanpa sadar.
Bagus : Kata nay tadi kalian ketemu yah?
Ooooohh nomor mantan terindah masih disimpan yah Win?
-----
Mark sampai kontrakan pas jam 11 malem. Cukup malem buat ukuran nganterin doang. Iya sih, rumahnya Windy sejauh itu, wajar aja kalau perjalanannya bakal lama. Sampe rumah sebelum tengah malam aja udah bersyukur Mark.
Dia buka pintu pelan, gak kaget kalau dikontrakannya keisi banyak manusia. Orang didepan udah berjejer motor gitu, tinggal dijualin aja sih pasti laku. Dia jalan keruang tamu, menemukan lima picis manusia lagi duduk-duduk disana. Mark merapatkan bibir, gak menemukan keberadaan Tiara diantara orang-orang itu, yang pasti dia udah pulang karena gak mungkin abangnya biarin cewek itu kelayapan malam-malam, ditambah ada Jebi juga yang protektifnya kelewatan sama cewek itu.
"Weyyy Markeeee!"
Diantara kesibukan lima manusia sama hapenya itu, Jackson yang pertama menyadari kedatangan Mark. Dia berseru keras membuat sisa lainnya melupakan hape masing-masing dan melihat Mark. Kasihan hapenya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LANGIT CAKRAWALA
FanfictionJadi sederhananya begini Awalnya pura-pura tapi kelamaan jadi beneran suka. Sukanya sama sejenis tembok berjalan yang kalau senyum gak yakin sampai satu senti, lurus abis. Aduh udah deh Windy mah sabar aja ngadepin makhluk yang satu ini. #cover by S...
