Sembilan

42 7 1
                                        


"Mark! Pulang sendiri lo?" Mark menoleh, menemukan Jackson yang berjalan lebih dulu mengambil motornya.

"Biasanya?" Jawab Mark berupa pertanyaan balik. Cowok itu mengernyitkan alis, gak biasanya Jackson bertanya seperti ini padanya.

"Kan udah ada pacar."

Iya emang sekarang Mark gak jomblo lagi. Terus hubungannya sama pulang sendirian kenapa?

"Terus?"

Jackson menghela nafas, menepuk keningnya begitu saja. Rasanya gemas ingin mengajari cowok lempeng itu tentang dasar-dasar dalam dunia percintaan.

Padahal Jackson juga lagi jomblo.

"Ya lo pulang sama cewek lo lah."

Mark mengangguk, "Oh gitu yah?" Tanyanya kemudian menaruh kembali helm yang sudah dia pakai lalu tanpa permisi meninggalkan Jackson begitu saja diparkiran Fakultas teknik.

Jackson menggelengkan kepala. Yaelah Mark, muka boleh keren tapi masalah sepele kayak gitu aja gak faham.




-----



Windy merapikan isi tasnya, memasukan binder dan alat tulis lainnya kedalam tas. Baru saja cewek itu melangkah keluar Jiyana sudah dulu mencegatnya.

"Gue pengen tanya." Serobot Jiyana begitu saja. Ini langka menurut Windy. Kecuali disaat-saat mendesak seorang Jiyana gak pernah mau bertanya lebih dulu.

"Nanya apa?"

Jiyana menipiskan bibir, kelihatan jelas cewek itu lagi bingung gimana caranya nanya. Apa harus Windy ajari jurus bertanya 5W+1H?

"Lo sama Mark beneran jadian?"

Windy agak melebarkan mata, mulai melakukan gerakan gak jelas seperti menggaruk belakang telinganya atau bergumam ha hem tidak jelas. Jiyana menunggu, namun tindakan Windy yang tak memberi jawaban membuat cewek itu mulai menunjukan gelagat kesal. Windy jadi merengut, bukannya gak mau menjawab, Windy cuma bingung harus kasih jawaban apa. Pengen bilang bukan tapi memang dia yang ngajakin Mark duluan. Pengen bilang iya malah kesannya dia ngaku-ngaku. Apalagi tingkah laku cowok itu, sebut saja Mark, justru gak kelihatan seperti pacarnya sendiri.

Selama sebulan masa liburan semester mereka cowok itu gak mengabarinya sama sekali. Boro-boro ketemuan, ngechat aja gak pernah. Hhhh, luar biasa memang Mark itu.

"Eung... Tanya Mark aja."

Finally, jawaban teraman Windy dikeluarkan. Dia agak meringis, begitu saja berjalan seolah meninggalkan Jiyana yang gak sempat membalas perkataannya. Gak apa-apa, buat saat ini Windy harus cari aman dulu.

Dia sudah menghembuskan nafas lega setelah berhasil keluar kelas, cewek itu sudah merasa aman tapi kemudian jadi berhenti lagi begitu ada makhluk lain yang menyender keren diluar kelasnya.

Windy merengek kecil. Mau pulang aja banyak amat cobaan deh perasaan.

"Win."

Sedang dari arah belakang Jiyana masih mengejar, seakan merasa gak puas sama jawaban Windy barusan. Dia jadi menunduk, mempercepat jalan sambil menyembunyikan wajahnya dengan bantuan rambut panjang yang kebetulan sedang gak dia ikat.

"Windy."

Panggilan itu keluar lagi. Kali ini bukan hanya Windy yang terpaksa berhenti, tapi cowok yang menyender tadi jadi menegakkan badannya. Cowok itu tak banyak bicara hanya melirik Windy yang sedang menyembunyikan wajah dibalik rambut terjulur kedepan mirip Sadako itu.

LANGIT CAKRAWALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang