Enam Belas

9 1 0
                                        



"Nih Win minum dulu."

Bagus datang dengan dua gelas kertas ditangan, satu ia taruh didepan Windy sedang satunya masih ia pegang untuk diminum. "Makasih banyak lo masih mau dateng, dan dengerin gua."

Windy diam, masih menimbang-nimbang jawaban apa yang akan dia keluarkan. Matanya masih sembap, hidung berair dan tenggorokan yang terasa perih khas orang setelah menangis keras. Jadi, daripada suara sengaunya keluar ia memilih mengambil minum yang diberikan Bagus padanya.

"Penjelasan gue gak bisa membenarkan tindakan dimasa lalu, permintaan maaf juga gak cukup kayaknya." Bagus berbicara lagi, kali ini suaranya pelan membuat Windy jadi merenung, tak terbiasa melihat Bagus yang selalu percaya diri jadi berbicara dengan nada lesu seperti ini. 

Yang cowok itu katakan benar, permintaan maaf gak cukup, apalagi Windy merasakan sakitnya selama bertahun-tahun. Dia gak hanya dikhianati Bagus tapi juga Nayna. Dalam waktu bersamaan dia merasakan sakitnya dikhianati sekaligus kehilangan. Bagus sebagai pacar dan Nayna yang begitu dekatnya dengan Windy sampai ia anggap adik sendiri telah membuatnya patah hati.

"Cuma dengerin, gue gak bilang gue bakal maafin lo." Suara seraknya akhirnya berhasil keluar. Windy berusaha keras menahan diri, menahan air matanya agar gak tumpah lagi.

Dihadapannya Bagus mengangguk, tak protes apapun. Dia faham kesalahannya dan faham kalau Windy masih butuh waktu tapi seenggaknya dia udah jelasin dari sudut pandangnya meskipun itu juga bukan hal yang bisa dibenarkan.

"Karena udah terlanjur kayak gini, gue cuma bisa bilang lo harus jagain Nayna. Jangan sampai apa yang terjadi sama gue, kejadian juga sama dia." Windy mengangkat kepala, memandang Bagus dengan mata memerahnya, "Seenggaknya jangan bikin sakit hati gue sia-sia."

Bagus mengangguk, mengeluarkan senyum khas gummy smile-nya. Windy menahan diri, dulu senyum itu yang begitu ia sukai dari bagus, tapi kini gak lagi. Dia dan Bagus sudah memiliki hidup masing-masing.

"Makasih Win."


-----


Perjalanan pulang kali ini gak begitu terasa lama, mungkin karena sebagai besar waktunya Windy habiskan untuk berfikir, melamun lebih tepatnya. Dadanya masih sesak, masih berusaha menerima semua penjelasan Bagus hari ini. Meskipun dia sudah menerima, tetap saja masih ada perasaan mengganjal dihatinya. Luka yang sudah bertahun-tahun bersarang gak akan mudah hilang begitu saja, kan? Tapi yasudahlah, toh mereka sudah hidup sendiri-sendiri.  Bagus sudah bersama Nayna dan dia? Apa Windy bisa percaya diri bilang kalau saat ini dia juga sudah bersama Mark mengingat bagaimana hubungan mereka berdua dimulai. WIndy sendiri belum yakin perasaannya, dia masih belum tau alasan Mark mau berpacaran dengannya membuat ia tanpa sadar ragu pada perasaannya sendiri.

Ah rumit

Seandainya dia gak nyari penyakit nyeret-nyeret cowok lain supaya gak keliahatan gamon dihari itu, semua gak akan serumit ini kan?

"Neng, udah sampe."

Windy membuyarkan lamunannya, lekas turun dari motor, melepaskan helm dan menyerahkannya pada driver ojol yang dia pesan. "Makasih pak."

Windy menghembuskan nafas lelah, padahal sudah mensugesti dirinya untuk kuat tapi nyatanya mewek lagi. Dasar lemah. Windy menarik pagar rumah, masuk tanpa suara dengan kepala masih setengah kosong. Ia sudah membayangkan dirinya akan terlelap hari ini dengan tumpukan bantal dan selimut menutupi tubuhnya, dan mungkin sedikit menangis, atau banyak. Entahlah, rasanya dia ingin menangisi dirinya lagi setelah ini.

"Win."

Windy menegak, sedikit ragu dengan telinganya tapi akhirnya pandangannya lurus kedepan. Tepat diantara kursi-kursi teras rumahnya ada Mark disana. Cewek itu menarik sudut bibirnya, berusaha keras tersenyum diantara gelombang campuran emosinya. 

"Darimana Win?"

"Abis ketemu temen", Jawab Windy seadanya, dia sempat ragu apakah Bagus bisa dikatakan teman atau enggak, tapi fakta bahwa mereka udah gak lagi saling menghindar cukup meyakinkannya untuk menyebut cowok itu teman. "Kenapa nunggu diluar? Didalam ada mama, harusnya kamu masuk aja."

Mark mengangguk, menerima jawaban Windy kemudian mengikuti cewek itu saat mengajaknya masuk kedalam.


-----


Pagi itu Tiara sudah tegak dengan misi mulia. Tangannya menggenggam, langkah kakinya berjalan cepat menyusuri lorong-lorong digedung FEB. Ia mengedarkan mata mencari Nayna yang sudah dikenal sebagai mbak-mba olshop sewaktu masa orientasi dulu. Dia sedikit menggeram, aneh karena hari ini tidak menemukan teman gugusnya ditempat mangkal biasanya membuatnya harus memutar tubuh mengubah lokasi tujuan menjadi kelas cewek itu

"Lo beneran nyuruh bagus buat ke gue kan kalau mau nanya soal Windy?"

Pertanyaan Mark malam kemarin ditelepon kembali terngiang dikepalanya. Bagaimana cowok yang selalu datar kalem sepertinya agak meninggikan suara kepadanya, Tiara bahkan yakin mendengar cowok itu menggeram kesal disela-sela ucapannya.

Gak bisa dipercaya. Selama kenal Mark, Tiara yakin ini pertama kalinya mendengar cowok itu bisa kesal. Setelah kejutan cowok itu akhirnya punya pacar sekarang Tiara kembali terkejut dengan tingkah cowok itu yang tiba-tiba menelponnya dengan kesal. Bisa Tiara simpulkan kalau Mark sedang cemburu dengan cowok bernama Bagus itu, kan?

Tapi masalahnya Bagus bukan orang asing, dia bahkan pacar teman gugusnya. Buat apa Mark cemburu sama cowok orang, tapi lebih aneh lagi kenapa pacarnya Nayna malah tanya-tanya Windy. Aneh.

Jadi disinilah dia sekarang, berusaha mencari titik terang dengan mendatangi Nayna, bertanya kepada cewek itu tentang hubungan Bagus dan Windy. Tiara gak berani mendatangi Bagus, apalagi dengan rumor seberapa galaknya kakak tingkatnya itu jelas membuat Tiara mencari aman mendatangi Nayna. Seenggaknya ini mengurangi resiko dia akan disemprot.

Antariksa Squad (33)

Tiara: Ada yang liat Nayna?

pesan itu dia kirim, gak lama jawaban beruntun muncul, dominan jawaban ngawur bikin Tiara yang terlahir dengan tingkat kesabaran tipis semakin kesal. 

Antariksa Squad (33)

Tiara: Ada yang liat Nayna?

Bobby: Kamu gak nyariin aku?

Nana: Bob kata gue stop sebelum lo gue sepak

Vero: Emang bisa sepak onlen?

Jeka: Sepak = tendang = kick

Nana: Terimakasih sudah membantu menerjemahkan

Jeka: Memang cuma gue yang bisa memahami lo

Yena: Cie (?)

Bambam: Jangan ragu2 ye, bilang aja yang keras 

Bambam: CIEEEEEE

Jimmy: CIEEE

Yoyo: CIEEEEE

Sera: CIEEEE NANA JEKA

Jefri: CIEE

Nayla: Ini itu ada yang jadian lagi?

Tsania: CIEEEEE

Jimmy: Sial kopi gue nyembur

Nayna: Lah tsan? wkwkwk

Nayna: Gue ada di selasar timur ra, deket meja hijau  

Setelah mendapat jawaban itu Tiara bergegas, memasukan hape kedalam kanton celana kemudian melangkah menuju selasar timur tempat Nayna berada. Entah dorongan darimana tekadnya jadi sekuat ini. Mungkin karena masalah ini menyangkut orang-orang terdekatnya, baik Mark maupun Nayna, Tiara jelas gak mau kalau dua orang itu kenapa-kenapa.



Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 28, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

LANGIT CAKRAWALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang