Lima Belas

16 2 0
                                        

































"Namanya Bagus. Mereka jadian pas SMA tapi putus gara-gara Bagus jadian sama adek-adekannya Windy juga. Makannya dia sesakit hati itu."

Mark menutup matanya, mengingat-ingat ucapan Jiyana tempo hari padanya. Ia mendesah berat. Masih dalam kondisi menutup mata, cowok itu mulai berfikir sejenak. Kepalanya masih berusaha menghubungkan banyak kejadian yang terjadi belakangan ini.

Sekarang semuanya terasa lengkap. Windy yang pernah menangis dipelukannya, atau Windy yang tiba-tiba mengajaknya berpacaran. Ada yang mendorong cewek itu melakukan aksi nekat.

Mungkin si cowok yang ia temui di stand cafe milik kelas cewek itu.

Kalau di fikir-fikir cowok itu juga ada ditempat makan mereka kumpul terakhir kali. Mark gak salah ingat, Mark juga cukup peka melihat perubahan Windy saat itu. Ia jadi mendengus kesal, fikirannya tak tenang, diam-diam jadi prasangka.

Apa dia cuma pelampiasan?





Ooo










Hapenya berbunyi, membuat Mark bersiaga menegakkan diri. Awalnya, ia berfikir mungkin saja itu Windy, namun melihat nama Tiara disana membuatnya menghembuskan nafas lega. Tidak, Mark gak menghindari Windy sama sekali, hanya sedikit tidak siap kalau harus menghadapi cewek itu saat ini.

Tiara : Kak prakas?

Tiara : Kenal kak bagus gak?

Mata cowok itu menyipit, memastikan telah membaca deret terakhir dalam pesan Tiara.

Wah kebetulan apa ini?

Tiara : kak?

Mark segera menormalkan diri, kembali mendudukan diri dengan punggung menyender kursi. Kemudian membalas pesan itu setelahnya.

Mark : Kenapa?

Tiara : Alhamdulillah di balas

Tiara : Kak prakas kenal kak bagus gak? Dia kating di kampusku

Tiara : Orangnya ganteng, tajir, temennya banyak, tapi galak

Nih cewek bilang apa sih? Mau muji orang kenapa harus lewat chatroomnya. Udah jelas dia tau, Mark bukan tipe orang yang bisa didatangi dengan chat iseng seperti ini.

Mark : To the point, Tiara

Tiara : Hehe, maaf

Tiara : Dia kemarin datengin gue kan

Tiara : Terus ya terus

Tiara : Gue takut, kirain gue buat salah

Tiara : Udah suudzon tuh ngira mau ngelabrak

Tiara : Eh ternyata enggak

Tiara : Terus dia minta nomor gue

Tiara : Udah pede aja gue kira dia mau ngegebet gue

Tiara : Tapi gak mungkin kan dia udah punya pacar

Tiara : Pacarnya temen gue pula

Tiara : Masa gue jadi pelakor temen sendiri sih

Tiara : Biarpun gue ngenes, gue lebih milih jadi jomblo abadi daripada nyolong gebetannya temen kan

LANGIT CAKRAWALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang