Tujuh

47 7 2
                                        




Mungkin ini sebuah keputusan terbodoh yang Windy ambil. Dia sadar, hampir setahun ini dia menghindari hal ini, pertemuan ini, tapi sekarang dengan keadaan sadar sepenuhnya dia malah mendekati trauma terbesarnya itu.

Bagus duduk didepannya, dengan Nayna disamping cowok itu tersenyum kaku padanya.

"Kak, gue mau minta maaf soal kemarin dan temen-temen gue."

Itu ucapan pertama yang cewek itu katakan padanya, tidak ada basa-basi apapun. Windy merapatkan bibir, melirik Bagus didepannya yang juga menatapnya dengan mengulum bibir. Windi menyendu, Bagus tak mengatakan apapun dan itu membuatnya sedikit kecewa.

Windy akhirnya mengambil tindakan final. Setelah beberapa tarikan nafas penenang diri dia membuka suaranya. Berusaha terlihat tenang dan tidak tersulut. Tidak, Windy tak akan membiarkan Bagus menang jika melihatnya marah.

"Kemarin udah clear salah faham kan? Apalagi?" Itu jawaban Windy, ada aksen memancing dengan nada tenang menyebalkan.

Nayna menggigit bibirnya, melirik kesamping berusaha meminta bantuan pada kekasihnya itu dan langsung disadari bagus sepenuhnya.

"Nayna gak bermaksud labrak lo. Temen-temen dia kemarin bertindak sendiri bukan campur tangan Nayna Win."

Dalam hatinya, Windy ingin sekali mengumpati cowok itu, tapi dia sadar. Bagus milik Nayna, bukan miliknya lagi. Adalah hal wajar kalau akhirnya Bagus membela Nayna dan bukan dirinya.

"Gue tahu. Tapi cewek lo ada disana kan? Kenapa dia diam aja seakan ngebiarin gue dituduh yang enggak-enggak sama temannya?"

"Kak Win. Gue minta maaf, gue gak bisa seberani itu bela lo kemarin."

Windy ingin mendecih keras, rasanya gerah dengan drama dua orang didepannya ini. Cih, mereka fikir siapa mereka bisa merusak hidup tenang Windy seenaknya?

"Win_"

"Gue udah maafin. Udah kan? Ini selesai?"

Tanpa banyak berkata Windy menutup pertemuan. Dia berdiri, menyelempangkan tas dibahunya kemudian beranjak. Ia pergi dengan langkah cepat, tak ingin menengok kebelakang sama sekali. Dia tahu, jika dia lakukan itu hatinya akan kembali terluka.


-----


"Napa kita yang beli sih ribet amat."

Yogi menatap daftar belanjaan mereka sambil misuh-misuh. Mark disampingnya tak banyak berkata, diam saja mengambil troli untuk mereka belanja bersama.

"Bang, lo mau aja sih disuruh-suruh begini? Lagian kan belanjamah kerjaan cewek, si Tiara ada kenapa gak disuruh juga sih?" Yogi mengomeli lagi, ikut berjalan maju ketika Mark lebih dulu memimpin didepannya.

"Jadi lo mau belanja sama Tiara aja? Jadi babu beneran lo ntar."

"Ya gak juga, maksud gue lo sama Tiara aja gitu gue stay di kontrakan."

Mark mendecih, mengumpati Yogi tanpa suara. Dia sendiri sebenarnya ogah, cuma karena agen yang paling faham belanja-belanja, sebut saja Bambam dan Juan sedang sibuk, dan si cewek satu-satunya dalam kelompok mereka juga ada acara dikampusnya. Yaudah, dia sebagai yang paling kalem bersedia saja disuruh, ditemani si bungsu yang emang biasa jadi babu akhirnya menerima tugas mulia untuk acara mereka malam ini.

Ya, sebelum squad mereka sibuk liburan kesana kemari mereka sepakat mau bikin acara makan-makan. Ini sih idenya Bambam, tapi Bambamnya malah gak ada tanda-tanda kehidupan hari ini, Juan yang paling jago masak juga masih dibandung. Entah gimana Mark udah mikir kalau acara mereka bakalan banyak korban keracunan, apalagi si cewek tunggal, Tiara gak bisa diandelin buat urusan masak, kalau makan sih paling jago dia.

LANGIT CAKRAWALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang