Windy sampai di kosan Zoya hampir pukul tujuh. Cewek itu duduk selonjoran di bawah kasur, masih belum berganti pakaian bahkan kaos kakinya juga belum dilepas.
"Gak mandi dulu?" Itu pertanyaan Zoya. Cewek itu begitu saja nongol dari balik pintu kamar lengkap dengan seplastik ayam krispi yang dia beli buat makan mereka berdua.
"Masih cape hehehe." Jawab Windy sambil nyengir.
Zoya mendengus jengah, rasanya sudah biasa kalau Windy akan selalu mampir dengan kondisi gak mau mandi. Dia kemudian masuk kamar, meletakan kantong plastik diatas meja kemudian naik keatas kasur dan kembali membuka laptopnya. Masih banyak tugas negara yang menumpuk dibanding harus mengurusi sifat kekanakan Windy.
"Zoy, mesin cuci udah bener belum?" Zoya mengalihkan pandangan dari laptop, kini memandang Windy dibawah.
"Kenapa?"
"Mau nyuci."
"Malam-malam begini?"
Windy sekali lagi cengengesan, bangun dari karpet kemudian melipir ke ruang paling belakang tempat dapur dan tempat mencuci kosan ini. Dia menenteng tasnya, mulai mengeluarkan kemeja kotak-kotak merah dari sana.
"Ayo kita cuci benda keramat ini." Katanya pada dirinya sendiri.
-----
Minggu pagi Jiyana yang biasa tenang kini sudah diganggu Juna. Sepupunya itu entah bagaimana mengunjunginya pagi-pagi lengkap dengan permohonan minta makan. Apa sih Juan gak tau diri banget, gak pernah dikasih makan yah dirumah? Gerutu cewek cantik itu.
"Hih bau. Belum mandi yah lo?"
Jiyana mendelik, memberi tatapan tajam pada Juan yang sekarang lagi di sofa tengah rumah sambil nonton Monster University. Cewek itu gak berkomentar banyak cuek saja mengambil toples kue diatas meja didepan Juan.
"Filmnya ketutupan setan." Juan setengah teriak, memiringkan kepalanya karena Jiyana masih setia didepan menutupi layar TV.
"Jiyanaaaa!" Dan kali ini cowok itu beneran teriak.
Jiyana tersenyum bangga, lantas memilih pergi meninggalkan Juan yang mencak-mencak disana.
"Sialan lo."
"Heh mulut! Rumah gue nih."
Dan Juan yang sadar diri akhirnya mingkem seketika.
Jiyana menaiki tangga, kembali ke kamarnya dengan sehat sentosa tanpa kekurangan. Halah, lebay. Cewek itu sudah menaiki kasurnya, bersiap mau lanjut nonton drama Korea sebelum ke gereja nanti. Dia membuka toples kue berisi nastar, menyalakan laptop kemudian memilih-milih folder yang ingin dia tonton. Sayangnya, sebelum cewek itu berhasil memutar salah satu episode disana hapenya sudah berbunyi.
Windy : Mark temen lo kan? Gue nitip boleh?
Alis cewek itu agak mengernyit. Sekali lagi merasa heran Windy kembali menanyakan Mark setelah sekian lama. Maksudnya, cewek itu udah kasih nomor Windy ke Mark, apa iya Marknya belum ngehubungin apa-apa?
Jiyana : Nitip apa?
Windy : Baju, gue nitip lo aja yah
Jiyana : Kenapa gak serahin langsung aja ?
Windy : Sayaaaaaaaaaang
Jiyana memutar bola matanya, mendecak pelan membaca chat terakhir Windy. Apa sih sayang-sayang? Jiyana masih normal. Cewek itu pasrah, bukan gak bisa nolak, tapi males nolak lebih tepatnya. Entah bedanya apa, tapi anggap saja itu beda.
KAMU SEDANG MEMBACA
LANGIT CAKRAWALA
FanfictionJadi sederhananya begini Awalnya pura-pura tapi kelamaan jadi beneran suka. Sukanya sama sejenis tembok berjalan yang kalau senyum gak yakin sampai satu senti, lurus abis. Aduh udah deh Windy mah sabar aja ngadepin makhluk yang satu ini. #cover by S...
