Sebelas

81 8 5
                                        


"Akhirnya ada cewek lain yang gabung kalau ngumpul-ngumpul gini."

Windy tersenyum kikuk, menimpali setiap cerita yang keluar dari sicerewet Tiara tentang betapa tidak enaknya menjadi satu-satunya cewek dalam squad ini. Meski beberapa kali melirik Mark dan kawanan di area game ia tetap berusaha merespon Tiara meski ala kadarnya.

"Terus tadi tuh yah kak mau kesini aja ribet banget pake acara nunggu-nungguan segala. Haduhh cowok-cowok itu nyatanya bisa rempong juga."

Tiara bercerita heboh dengan Windy yang pura-pira tertarik mendengarkan. Maklum, dia disini tak kenal siapa-siapa akhirnya memilih merespon Tiara daripada bengong sendirian.

"Nunggu kenapa emang?"

"Gak tau ya, kita awalnya mau cus aja gitu langsung jalan tapi kak Jackson noh tiba-tiba nyuruh kak Mark ganti baju. Ih mana lama banget kan. Terus juga yang lain pada masuk kekamar gitu tinggal aku aja kak yang diluar. Ini mending kalau dibiarinnya di dalam rumah gitu minimal ruang tamu lah ini enggak kak malah dibiarin diteras kan kampret banget."

Windy yang tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Astaga, ada-ada saja. Windy kira Tiara itu kayak tuan putri digeng ini, nyatanya enggak. Melihat Tiara yang satu-satunya cewek membuat Windy befikir kekuasaan ini pasti luar biasa. Begitu awalnya, tapi hari ini pandangannya berbeda.

"Yah tapi gak apa-apa deh. Ini pertama kali kak Mark ngajak main kita sambil bawa pacarnya jadi aku maklumin."

"Eh? Kan kemarin itu udah juga."

"Yang mana? Yang bakar-bakar? Ih kan itumah tanpa rencana aja ini mah beda dong."

Tiara berhenti bercerita, merogoh hape yang sedari tadi berbunyi kencang sambil merapatkan bibir.

"Eung.. Kak Win aku pergi bentar yah, temanku rese nih minta ditemenin katanya pacarnya belum sampe. Haduh."

"Oh iya silahkan."

Windy tersenyum, melihat Tiara menjauh tapi kemudian jadi mengernyit saat cewek itu kembali lagi.

"Kak Windy disini aja jangan kemana-mana. Ini bukan bekasi nanti kak Win nyasar."

"Iya Tiara."

"Bye kak."

Dan cewek itu akhirnya tak kembali lagi, benar-benar pergi meninggalkannya.

Sepeninggal Tiara Windy hanya bisa diem, melihat sekeliling isi mall tanpa ada niatan beranjak, persis seperti pesan Tiara. Dia menyandarkan punggung, mengayunkan kakinya bebas sambil sesekali melihat Mark dan anak cowok lainnya. Tanpa sadar tersenyum melihat mereka seakan asik bersama.

Dicakrawala mereka boleh keren, tapi di mata Windy sekarang Mark kelihatan kayak anak kecil kekurangan main. Polos dan bikin gemas.

Tanpa diduga Mark menoleh, seakan sadar diperhatikan justru balas menatap Windy. Garis wajahnya masih tetap datar namun jelas ada yang berbeda.

Windy menegakkan badan, jadi kehilangan fikiran harus bagaimana saat cowok jangkung itu mendekat. Tanpa berkata membuka jaket denimnya kemudian berhenti didepan Windy.

Badannya agak membungkuk, membuat Windy jadi ikutan menunduk kemudian melebarkan mata saat Mark menaruh jaketnya diatas paha Windy, menutupi kaki yang tidak tertutup rok pendek Windy.

"Lain kali kalau jalan sama gue jangan pake rok pendek. Gue gak mau ada yang liatin pacar gue."

Windy kicep, Mark kembali menjauh ke arah cowok-cowok tanpa tahu perbuatannya membuat anak gadis orang ambyar ditempat.

Katanya gak pernah pacaran? Lah ini mah gentlenya udah tingkat dewa Windy beneran gemas.

-----

Setelah asik bermain para anak cowok berkumpul, berkeliling mall mencari tempat makan untuk mereka bersembilan. Mark tak lupa membawa Windy juga, bahkan tak membiarkan cewek itu berada jauh didekatnya membuat Yogi dan Jackson jadi mendengus sinis. Harusnya Windy bisa bersama Tiara, tapi karena cewek itu belum juga kembali membuat ia harus terpaksa sabar menjadi satu-satunya perempuan diantara kaum lelaki ini.

"Kak makan."

Windy mengangguk saja saat Yogi menawarinya. Dibanding makan, cewek itu lebih senang melihat anak cowok ini melahap makanan mereka. Meski kemarin dia sudah tahu bagaimana cara mereka makan tetap saja Windy terpana. Apalagi Mark dan Jebi yang tak tanggung-tanggung menyendokan nasi kemulut mereka membuat Windy jadi mengira-ngira. Seberapa besar rongga mulut mereka sebenarnya.

"Masih diem aja kak? Makan atuh."

Dengan mulut penuh makanan Bambam mendorong satu bak ayam krispi tanpa tulang padanya sambil menawari cewek itu untuk ikut makan bersama membuat Windy tanpa sadar tersenyum, merasakan perasaan hangat setelah diterima oleh squad yang selalu tampak keren kalau di kampus.

"Win." Panggil Mark. Windy menoleh, memberikan pandangan bertanya pada Lelaki itu.

"Iyaphh."

Mata Windy melebar, hampir tersedak saat Mark tanpa aba-aba memasukan satu potong ayam penuh kedalam mulutnya.

"Makan." Kata cowok itu pendek kemudian kembali menjarah isi piring Jaenal.

Dengan susah payah Windy mengunyah, ada keinginan yang besar untuk mengomeli cowok jangkung itu tapi Windy malu. Apalagi ia dan Mark nyatanya belum sedekat itu meski sudah berpacaran beberapa bulan ini.

Ia menghela nafas pada akhirnya, mau tak mau ikut makan dari pada dijejeli lagi oleh Mark. Meski matanya tetap berkelilingi memperhatikan semua orang satu persatu sampai akhirnya berhenti pada Mark.

"Apa?"

Windy tersentak, jadi membuang muka dan kembali fokus menuang saus pada ayamnya. "Eh anjir."

Mark merapatkan bibir, menghela nafas geleng-geleng kepala saat saos yang dipegang Windy malah berceceran kemana-mana. Dia mengulum bibir, menahan senyum melihat sebetapa paniknya Windy membersihkan bekasnya.

"Lain kali makannya yang bener, jangan liatin gue mulu." Kata cowok itu berbangga diri sambil menepuk pelan puncak kepala Windy.

Windy menutup mata, menahan diri untuk tidak mengumpat. Sialan, harga diri ini harga diri.

"Yuhuuuuu! Makanannya masih sisa banyak kan?"

Meja itu kembali berisik, apalagi saat sosok Tiara sudah berhasil menemukan mereka. Windy lantas melebarkan senyum, akhirnya cewek lainnya datang juga membuatnya tak lagi terjebak dalam situasi canggung seperti ini.

"Waduh, kak Mark udah pegang-pegangan aja." Kata cewek itu meledek tangan Mark yang masih diatas kepalanya. "Kasian banget temen-temen gue pasti keliatan jomblo ngenes semua."

"Ikut makan aja jangan ngebacot." Windy ingin tertawa, menyaksikan bagaimana Jebi yang kelihatan terganggunmendengar celotehan cewek putih itu.

Matanya kemudian beralih pada Tiara, kemudian jadi melebar saat menemukan sosok lain bersama Tiara disana.

Dia

"Eh Nay, sini juga lo."

Bambam yang pertama kali menyapa, mengajak cewek disamping Tiara berbicara. "Bang Bagus belum ada nongol?"

"Kak Bagus gak jadi datang, ada acara sama anak mapala." Kata cewek bergigi kelinci itu menjawab.

Tiara menggiringnya, mengajak cewek itu ikut bergabung dalam meja panjang yang untungnya masih tersisa banyak makanan.

"Oh iya semua! Ini Nayna, temen kampus gue di Rajawali." Kata Tiara riang mulai mengenalkan temannya. Windy masih diam, memperhatikan Nayna yang memberi senyum menyapa semua orang.

"Ini kak Jaenal, kak Juan, terus itu lo kenal itu Bambam, disampingnya Bang Jackson, terus kak Jebi, terus Yogi, terus kak Mark sama pacarnya kak Windy, terus..."

Mata mereka akhirnya saling bertemu. Windy bisa merasakan bagaimana tubuh mungil itu menegang setelah melihatny.



Semesta memang lucu yah. Senang sekali sepertinya mempertemukan mereka belakangan ini.







LANGIT CAKRAWALATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang